Kali ini adalah jadwal Dipta— yang otomatis juga menjadi jadwal Jumantara untuk piket di rumah kaca rutan. Ini cukup menyenangkan dibandingkan bayangannya, karena ternyata benar jika berkebun dapat menyegarkan pikiran. Dipta mengakuinya.
Dipta yang tengah sibuk memberi pupuk di setiap plant-bag, tiba-tiba memunculkan sebuah ide jahil melihat posisi Jumantara yang tak jauh darinya. Ia mendekat perlahan, hingga dengan kejamnya, membawa sarung tangannya yang penuh pupuk kompos ke lengan Jumantara, bahkan hampir mengenai pipinya.
Dipta terbahak hebat, hingga tak melihat apapun untuk akhirnya juga tak menyangka akan—
"Aduh! Woy!"
Dipta berhenti tertawa, diganti dengan ringisan kecil karena pantatnya yang sakit. Ia tersungkur. Penyebabnya ternyata adalah Jumantara yang sengaja balas menendangnya.
Ia mengelus-elus bagian belakangnya dengan kesal, hingga akhirnya tersadar sendiri jika ia masih memakai sarung tangan bekas pupuk tadi. Sekarang, ia bisa lihat bajunya ikut menjadi kotor.
Yah, itu yang namanya bumerang tepat sasaran.
Ia tak lagi mengganggu Jumantara, juga karena ada sipir yang dengan mata dan kumis tajamnya mengawasi kinerja mereka. Dipta mengikuti pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan Jumantara, daripada berakhir dibentak-bentak oleh sang sipir.
Hingga akhirnya sipir pergi, masih ada setengah jam sebelum jam piket berakhir. Dan pekerjaan sudah dikerjakan semua.
Dipta mengikuti Jumantara yang duduk di pinggir rumah kaca, beristirahat di sana. Ia melihat ke sekeliling hingga akhirnya presensi seseorang di seberang yang cukup diingatnya menyita perhatian.
"Ju?"
"Hm?"
"Lu tau orang itu gak?" Tanya Dipta.
Jumantara mengikuti arah tunjuknya, lalu mengangguk. "Tau,"
"Iya? Dia ada di sel deketan kita kan?" Jumantara mengangguk.
"Oh... Hm,"
"Kenapa?"
"Nggak, anu— apa ya, gue juga beberapa kali disini juga sering liat dia, dan kebetulan waktu dia sama— pacarnya? Hehe, tau kan lu?"
Jumantara yang menyimak, mengangguk kecil. "Tau, lu liat juga? Emang kenapa? Nggak nyaman apa gimana?"
Dipta buru-buru mengelak, "Ya enggak lah! Gua juga punya jiwa gay, anjir, pernah pacaran sama cowok. Yaa gua gak nyangka aja di sini juga ada, gua kira di lingkungan gua doang,"
"Di sini cukup banyak, emang."
"Nah itu, gue agak kaget aja dikit apalagi liat mereka udah bapak-bapak. Gue kira yang kayak gitu anti homo banget, ternyata enggak. Yaudah deh, gue naif dah emang. Maap,"
"Hm, nggak perlu minta maaf, gua ngerti. Gua juga dulu gitu, tapi ternyata di lingkungan kita yang sekarang, hal itu udah biasa. Nggak dari seumuran kita aja,"
"Jadi, lo udah banyak liat pasangan gay disini ya? Nggak dihakimi macem-macem kah, mereka?"
"Setau gue, enggak. Walau mungkin beberapa skeptis, wajar. Tapi ya, rata-rata orang di sini nggak kenal dosa. Nggak kenal tabu. Everything is fine, as long as you're not disturb each other,"
"Ohh, yaudah deh. Gua mau cari cowok juga di sini kalo gitu," ujar Dipta semangat, namun nampaknya Jumantara sudah kembali pada mode irit bicara, tak mau menyahut.
"Oh ya, btw. Bapak tadi, tiap gue lihat selalu sama cowoknya dah, kemana-mana. Mana mesra lagi,"
"Iya, emang udah terkenal begitu."
"Hmm, tapi hari ini kok nggak ya? Mana sedih gitu lagi bapaknya yang itu, apa lagi slek, jangan-jangan?"
Dipta menatap iba pada lelaki berumur yang duduk merenung di depan sana, sedari tadi kepalanya terus menunduk. Ia juga beberapa kali menangkap sosoknya yang tak semangat saat bekerja nanti, membuatnya menerka mungkin sesuatu sedang menimpanya.
"Lo tau, dia dan cowoknya pake baju yang beda?"
Ujaran Jumantara barusan tiba-tiba membuatnya terpikir. Benar, mereka memiliki satu perbedaan mencolok, yang mana satu mengenakan baju tahana abu-abu, sedang yang satu biru. Dua baju tahanan yang berbeda. Satu terpidana hukuman penjara yang entah berapa lamanya, dan yang satu terpidana hukuman mati.
Maka ketika menilik kembali ke pemandangan sosok lelaki dewasa di seberangnya, Dipta mulai menerka kejadian terburuk, seperti misalnya—
"Bapak yang itu, dapet tanggal eksekusi kemarin. Dia udah pergi,"
—
Di iringan para narapidana untuk kembali ke sel, Dipta tak banyak bicara. Jumantara diam-diam penasaran, ada apa di kepala pemuda itu yang menyitanya dari ocehan-ocehan tak penting yang biasa ia lontarkan?
Namun begitu di sel, tepat ketika Jumantara tengah menyiapkan handuk miliknya, suara Dipta akhirnya mengudara.
"Ju, lu demen cowok nggak?"
Namun terakhir kali, Jumantara ingat betul mantan pacarnya adalah seorang gadis populer di SMA-nya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Behind The Prison | NOMIN✅
Fanfiction[END] "Kita ini beda. Kita tau kapan akhir bakal datang pada kita. Jadi, dari pada stress, banyak pikiran, mending kita cinta-cintaan aja. Mas cinta kamu, kamu juga cinta Mas. Gausah mikirin tabu, kita ada di sini juga udah dilabeli sebagai manusia...
