Sepuluh- Takut.

6.8K 857 18
                                        

Hari ke sekian sebagai sepasang kekasih, pekerjaan di gudang meubel nampak lebih menyenangkan bagi Dipta dan Jumantara. Tak jarang bahkan Dipta mengikuti Jumantara berkeliling karena jabatannya yang juga sebagai QC barang.

"Udah, di sini aja. Nanti capek, Nara."

"Mau ikut ish, nanti kangen."

"Tolong lah, pacar lu masih ada di gudang ini, nggak sampe pulau sebelah anyingg gua damprat lu pake dudukan kursi," ujar salah seorangnya yang sudah bersiap mengangkat sepapan dudukan kursi.

"Ett iri aja lu, mang napa si orang pacar-pacar gua,"

Jumantara tertawa menyimaknya, "Udah udah, di sini aja. Kerjaan masih banyak, Nara."

Dengusan sebal tercipta, "Yaudah. Jangan lama-lama!"

"Yeee gua culik juga ni pacar lu biar lu nangis," ancam orang tadi.

"Jangan sakiti pacar gua!"

Ketika jam kerja sudah selesai, seperti biasa para tahanan digiring kembali ke sel. Sepanjang jalan, dengan berani tangan milik Jumantara dan Dipta bertaut, tak mau lepas. Orang-orang seperti sudah terbiasa, namun salah seorang sipir yang Dipta baru tahu- mungkin baru, memandang sinis lebih ke remeh padanya.

Begitu sampai di sel, sipir itu menunjukkan pandangan sinisnya terang-terangan pada tangan kedua pemuda yang masih tertaut itu, lalu mendecih.

"Cih, dasar pendosa berat. Yah, tau diri saja, lihat baju tahanan kalian sendiri. Saran saya, mending kalian minta pengampunan Tuhan yang banyak."

Begitu saja lalu pintu sel ditutup kasar. Jumantara hanya diam dan menatap tajam, sedangkan Dipta mengarah pandang ke bajunya sendiri, lalu ke baju tahanan milik Jumantara. Abu-abu. Lalu kenapa? Ia kira Dipta maupun Jumantara lupa dengan fakta yang satu itu?

"Kenapa masih berdiri? Sini, jam mandi masih lama." Tegur Jumantara, yang membuat Dipta langsung menghampirinya dan duduk di rangkulan sang kekasih. Sedikit mendusalkan pucuk hidungnya di bahu Jumantara.

"Aku sebel sama sipir tadi. Sok iye," adu Dipta.

"Lupain aja,"

"Ck. Aku tuh emang orangnya suka pamer, apalagi kalo udah jadi pacar Mas. Aku harus gandeng Mas kemana-mana biar semua orang tau. Wle,"

"Iya, boleh."

"Dia ngomong gitu kek gaada dosa aja. Kita emang dosa, tapi itu nggak ada urusannya sama dia, ya kan, Mas?"

"Iya, Nara."

"Lain kali kalo dia sinis lagi aku pinjem gergaji kamu Mas."

"Hah? Ngapain? Ya nggak digergaji juga dong orangnya,"

"Yee siapa yang mau gergaji dia. Aku gergaji kursi-kursi di rumahnya, sama kantornya, biar kalo dia duduk, jatoh deh."

"Astaga, yaudah."

"Hehe," Dipta kembali mendekat ke Jumantara, semakin mengendus bau lelaki itu. "Takut." Ujarnya tiba-tiba.

"Hm? Apa?"

"Takut. Tiba-tiba aja, takut. Padahal dulu aku yang sehina itu aja nggak peduli omongan orang mau segimana ke aku. Tapi sekarang- nggak tau, rasanya takut aja. Aku takut kalau orang-orang ikut pandang kamu jelek kalau sama aku, jangan, nggak boleh."

Jumantara mendengus kecil, ia lalu perbaiki posisinya agar dapat merengkuh Dipta yang tubuhnya mengkerut layaknya bayi.

"Nara, kita ini beda. Kita udah tau kapan akhir bakal datang pada kita. Jadi, dari pada stress, banyak pikiran, mending kita cinta-cintaan aja. Mas cinta kamu, kamu juga cinta Mas. Gausah mikirin tabu, nggak usah mikirin apa kata orang. Kita ada di sini juga udah dilabeli sebagai manusia paling berdosa."

"Ah, jangan bahas akhir-akhir," protes Dipta.

"Nara, kita harus jalani semuanya dengan ikhlas, kita harus tau dan legowo sama realita yang ada. Ya?"

"Ck. Nggak mau ah,"

"Nara..."

"Nara mau tidur! Mas bangunin aja kalo udah jam mandi,"

Jumantara pun hanya bisa mengiyakan dalam diam. Andai Dipta tahu, bahwa jika bisa, ia juga tak mau mengingat-ingat kondisi mereka berdua yang sebenarnya. Jumantara juga sakit jika memikirkan semua itu. Namun, tak ada yang bisa seorang tahanan seperti dirinya lakukan. Bebas seperti orang-orang di luar sana pun tak bisa. Maka sebisa mungkin, ia yakinkan diri bahwa pundaknya masih bisa bertahan hingga akhir yang direncanakan itu tiba.

Behind The Prison | NOMIN✅Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang