Delapan- Kunjungan.

6.4K 919 40
                                        

Pagi yang santai di sel-77. Rata-rata dari para tahanan itu sedang menunggu panggilan kunjungan, barangkali salah sanak keluarga ada yang mau mengunjungi mereka.

Dipta menjadi salah satu yang tenang, tidak mengharap apa pun karena jika ada yang mau mengunjunginya, ia baru akan terkejut. Jumantara, walau ia menunggu kunjungan adiknya hari ini, tetap menemani Dipta agar pemuda itu tak merasa kesepian.

Mereka berdua, juga Pak Mono yang turut hadir sedang membuat racikan sabun sendiri. Gajian belum cair sejak hampir dua bulan lebih, dan mereka sudah tidak tahan untuk mandi tanpa wewangian.

Mereka menghadirkan bunga-bunga yang dipetik dari kebun kaca, ditambah parfum curian dari salah satu sipir wanita di sini yang kemudian dicampur dalam air. Ada larutan lain yang hanya berisi daun teh bekas dan bunga-bunga, itu akan menjadi milik Jumantara yang berkata tak suka dengan bau parfum sipir wanita itu.

"Ini nggak dibekuin, dong?"

"Mau lu bekuin di mana, tong? Gaya lu orang di penjara juga,"

"Yee siapa tau bisa. Yaudah deh, sabun cair dong ini?"

"Iye. Dipakenya setetes-setetes kalo mandi, biar awet sampe tahun depan."

"Buset Pak, percuma lah sabunnya. Nggak wangi-wangi amat juga,"

"Ni bocah beneran gak tau syukur ye,"

Perdebatan antara Dipta dan Pak Mono hanya bisa disimak oleh Jumantara, hingga ia menoleh cepat ketika sipir muncul membuka pintu sel mereka.

"77013. Kunjungan,"

Jumantara segera bangkit, namun sebelumnya menoleh pada Dipta dan mengacak singkat surai pemuda itu.

"Bentar, ya." Yang diangguki dengan senang hati oleh Dipta.

Jumantara dengan didampingi sipir menuju ke ruang kunjungan. Lelaki itu ikut tersenyum ketika menemukan adik perempuannya berada di sana menyambutnya dengan senyuman hangat.

"Mamas!"

Lambaian tangan si gadis teruntai, Jumantara ingin sekali memeluk erat si cantik itu, namun apa daya, tembok dingin itu menghalangnya kuat-kuat. Hanya memberi ruang berbatas kaca untuk sekedar bercakap. Namun ia harus tetap bersyukur, setidaknya, ia masih dapat melihat sosok adiknya yang hidup dengan baik.

"Hai, sayangnya Mamas. Apa kabar? Sehat sehat kan, kamu?"

"Sehat! Baik pokoknya, Mas nggak usah khawatir, aku pinter jaga diri sekarang."

"Good. Mas seneng dengernya,"

"Hehe, oh iya, Mamas gimana? Sehat-sehat, kan? Nggak berantem-berantem lagi?"

Tentu enggak, Ning. Sekarang sudah ada yang berani lawan orang-orang itu untuk Mas.

"Enggak, Mas udah jauh-jauh dari orang yang kayak gitu."

"Naaah, gitu dong! Aku jadi lega dengernya. Pokoknya Mas baik-baik ya, di sini."

"Iya, kamu juga. Kuliahnya lancar, kan?"

"Iya! Nggak ada 2 minggu lagi udah UAS, semester depan aku udah mau nyusun skripsi. Doain ya, Mas."

"Amin, semoga dilancarkan. Makan yang teratur ya, Ning. Jangan sampe tugas-tugas kuliah bikin kamu lupa makan, jadinya malah sakit."

"Iyaaa, hehe."

"Hm? Ini Mas yang kerasa aneh apa ya, kamu hari ini senyum cerah banget. Kenapa? Ohhh, udah punya orang buat ngingetin makan, ya?"

"Ish, Mamas! Enggak tauuu!"

"Hahaha, iya juga nggak apa-apa, Ning. Asal satu ya, kamu harus hati-hati sama siapa pun, sekalipun kamu anggap dia baik banget orangnya. Nggak ada yang tau. Dan kalau kamu udah yakin, Mas cuma bisa doakan yang terbaik dari sini. Mas justru seneng kalo kamu ada yang nemenin, ada yang jaga. Jadi anak baik, ya?"

Tiit. Tiit.

"Waktu habis," ucap sipir dari luar ruang tersebut.

Ningning di seberang mencoba tersenyum tulus, karena selalu seperti itu. Waktu kunjungan hanya sebentar padahal rindu mereka segunung. Namun ia selalu ikhlas, seperti yang dikatakan sang kakak.

"Udah, ya? Jaga diri baik-baik, adiknya Mas yang paling cantik. Sehat selalu ya,"

Ningning mengangguk, "Iya, Mamas. Mamas juga, dadah."

Jumantara melambai pada Ningning untuk terakhir kali sebelum keluar dari ruang kunjungan dan kembali ke sel. Di sel, dia langsung disambut kembali oleh Dipta yang tersenyum manis.

"Mas Ju! Udah selesai? Itu Ningning ya?"

Jumantara balas tersenyum, "Iya."

"Waaah, gimana gimana? Dia sehat, kan?"

"Iya, syukurnya."

"Sip. Mas Ju gimana? Masih kangen?"

Senyum Jumantara berubah sendu, "Selalu kangen. Gue selalu pengen balik buat jaga dia lagi, sama-sama Ning lagi. Kangen banget,"

Dipta bisa memaklumi, maka ia bawa Jumantara untuk dirangkul hangat.

"Nggak apa-apa, kan udah ada gue!"

Di sandarannya, Jumantara memejam, "Iya. Ada lo, Nara."

Behind The Prison | NOMIN✅Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang