Empat bulan berlalu.
Naradipta kini tak lagi dikenal dengan sosok ceria yang akan bersemangat di mana saja dan kapan saja. Senyumnya yang elok itu, telah hilang sempura. Tepat ketika separuh jiwanya pergi dan tak kembali.
Naradipta sekarang adalah pemuda yang menyendiri, menghabiskan hari-harinya dengan bekerja dalam diam di gudang meubel. Melaksanakan piket dengan begitu rajin. Menjalani jam olahraga dengan begitu sibuk berlari 20 kali putaran.
Naradipta, seolah hilang hidupnya, walau raganya masih tercetak mata.
Teman satu sel yang masih sama berada di sana tak mau ikut campur apa pun. Mereka hanya bisa bantu menjaga pola hidup Naradipta agar tidak begitu berantakan, sesuai apa yang mereka yakini adalah permintaan Jumantara.
Namun, ada satu hal yang menjadi secercah semangat dalam diri Naradipta. Yaitu kala Ningning datang berkunjung. Sudah dimulai sejak 4 bulan lalu, tepat ketika berita eksekusi Jumantara diturunkan. Pertemuan pertama mereka diisi oleh tangis yang tak kunjung reda hingga Naradipta perlu ditarik paksa oleh sipir. Namun pada kunjungan yang berikutnya mulai rutin, mereka berkenalan lebih baik. Ning sudah menganggap Naradipta sebagai kakaknya juga. Dan pada kenyataannya, Naradipta lah cinta terakhir yang dibawa mati oleh sang Kakak.
"Ningning? Hai.."
Di balik kaca, Ning diam-diam menyesal. Mengapa ia tak bertemu dengan Naradipta kala pemuda itu masih hidup seutuhnya? Ia jadi tidak bisa melihat senyum dan cerianya seorang Naradipta yang digadang-gadang, cerahnya melebihi mentari itu. Yang mana itu adalah kata Jumantara.
"Mas Dipta, aku udah kirim sabun ya! Aku beliin sesuai pesanan Mas, rasa anggur. Idih, manis banget itu nanti baunya."
"Hahaha, iya, makasih banyak Ning. Mas suka baunya tau."
"Iya deeeh, selamat mandi dengan ceria! Oh ya, minggu ini gimana, Mas? Everything is okay, kan?"
Naradipta mengangguk lemah menanggapinya. Selalu saja seperti itu, buat Ning kini menghela napas kasar.
"Mas Dipta.."
"Ya?"
"Tau, kenapa aku hidup baik-baik aja sampe sekarang? Walau udah kena banyak cobaan, mulai dari hancurnya keluargaku, orang tuaku pergi semua, sampai akhirnya aku beneran sendirian karena Mas Bagus benar-benar pergi. Mas tau, kenapa aku tetap hidup walau sendirian begini?
—Karena Mas Bagus hanya punya hidupku. Dengan aku hidup, maka dia merasa cukup dan bahagia. Jadi ketika aku dikasih cobaan bertubi-tubi yang sakitnya melebihi ditimpa beton ini, aku tetap berusaha hidup, Mas.."
Ning tarik napasnya sekali lagi, "Jadi aku mohon. Mas Dipta... Jangan berlarut sedihnya. Tolong, tolong jadi Nara-nya Mas Ju yang ceria dan tetap bahagia. Mas Bagus pernah minta itu ke Mas Dipta, kan?"
Dipta ulas senyum tipis, "Dan kamu tau, Ning? Ketika Mas-mu pergi, seluruh jiwaku juga ikut pergi. Aku pernah bilang, kan? Saat aku putuskan buat jadikan dia cinta terakhirku, aku titipikan jiwaku ke dia. Biar hidupku ada di dia. Biar dia nggak berani pergi. Tapi nyatanya, dia ditarik paksa buat pergi. Aku bisa apa? Nggak bisa. Selain diam disini dan tunggu waktuku berakhir dengan sendirinya." Balasnya.
"Mas Dipta...."
"Ning, aku makasih banget karena udah terima aku dan anggap aku Kakak kamu sama seperti Jumantara. Aku seneng, punya adik kecil semanis kamu—"
Tiiit. Tiit.
Kekehan sinis menguar. Si bel pengganggu itu, bisa rusak saja tidak, sih?
"Cantiknya Mas Bagus dan Mas Dipta, jaga kesehatan ya. Semangat sidang skripsi, kita yakin kamu bakal lulus dengan nilai terbaik! Bahagia selalu, Kemuning yang cantik." Tutup Naradipta, yang kemudian digiring sipir untuk keluar dari ruang kunjungan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Behind The Prison | NOMIN✅
Fanfiction[END] "Kita ini beda. Kita tau kapan akhir bakal datang pada kita. Jadi, dari pada stress, banyak pikiran, mending kita cinta-cintaan aja. Mas cinta kamu, kamu juga cinta Mas. Gausah mikirin tabu, kita ada di sini juga udah dilabeli sebagai manusia...
