Naradipta mulai menyukai Jumantara.
Maksudnya, ia semakin suka berbicara pada lelaki itu sekalipun semua ucapannya hampir tak pernah direspon. Namun, dibandingkan bergabung dengan obrolan bapak-bapak di selnya, ia lebih memilih untuk dikacangin Jumantara.
Saking inginnya ia menempeli Jumantara kemana-mana, Dipta bahkan memilih pekerjaan hingga mengatur jadwal yang sama persis dengan Jumantara.
Bekerja di gudang meubel dengan gaji antara 350 hingga 500 ribu per bulan, jadwal olahraga dan piket rumah kaca rutan, hingga kegiatan keagamaan tiap Minggu.
"Gue belum pernah pegang kayu sama sekali. Eh- maksudnya, ya pernah sih, pegang kayu doang. Kursi, meja, pernah lah gue pegang. Cuma kalo ngolah, belum pernah sama sekali. Bakal diajarin nggak sih, Ju? Apa penjaganya galak, ya? Penjaganya nanti juga polisi, kah? Duh, kalo gue nggak bisa mau minta ajarin lu aja dong. Ntar gue deketan sama lo, ya?"
Sepanjang jalan, Dipta tak hentinya berbicara padahal yang diajak sama sekali tak menanggapi.
Sampai di gudang meubel tempatnya bekerja, Dipta sempat mendapat pengarahan singkat, namun tetap saja tidak dapat menjelaskan bagaimana cara melakukan pekerjaan ini. Karena serius, Dipta baru terpikir jika mengolah kayu akan sangat sulit karena kayu adalah bahan keras, tentu banyak membutuhkan gergaji dan alat tajam lainnya.
"Ju, ajarin dong..." Rengeknya.
Jumantara sejenak memfokuskan diri pada hasil potongan kayu yang dibawanya, sebelum akhirnya beralih pada Dipta yang berdiri dengan wajah cemberutnya.
Ia menggiring Dipta untuk duduk di alas tikar, kemudian menyiapkan sebuah mesin yang entah apa gunanya, Dipta tak mengerti.
"Lo ngamplas aja. Gampang, pake mesin. Tapi kalo sela-sela, pake amplas kertas manual. Sama juga lo bagian service. Service rangka nggak repot, cuma kalo kayak gini, biasanya ada cacat di kayunya jadi lo tutup pake dempul. Yang rata, harus rapi. Gitu doang,"
Jumantara menjelaskannya begitu detail, dan itu kalimat terpanjang yang pernah Dipta dengar darinya. Dipta tersenyum, rasanya ingin bersorak namun kemudian memilih untuk mengangguk semangat tanda mengerti.
"Kalo lo, ngapain? Tempat lo jauh dari sini nggak?"
Jumantara hanya menjawab dengan menunjuk ke arah sebuah tempat dengan gaman utamanya gergaji mesin. Tandanya, ia berada di sana. Dekat sekali dengan posisi Dipta.
"Hehe, bagus deh. Jadi kalo gue butuh apa-apa, gampang."
Kedua tahanan itu pun lantas melaksanakan pekerjaannya hingga sehari penuh terlewati.
"Wah Ju, ini capek banget anjir gila tiap hari kerjanya seberat ini, bisa kayaknya gua mati sebelum tanggal eksekusi gua keluar," keluhnya, lebay. Padahal seharian ia melakukan pekerjaan dengan duduk di tikar, beda dengan Jumantara yang berdiri sepanjang hari dengan ketelitian penuh untuk menggergaji kayu-kayu besar, justru berjalan santai.
"Masih adaptasi," balas Jumantara.
"Hhh iya dah apa kata lu. Capek gua," tukasnya sembari memijat-mijat sendiri pinggang belakangnya.
Di tengah jalannya yang ia buat terseok-seok, Dipta dicuri atensinya pada pemandangan di lorong sebelah kirinya. Ia memerhatikan sebentar, antara kaget namun tidak juga, hanya tidak menyangka hal seperti ini ia jumpai di sini hanya setelah ia beberapa hari mendekam.
"Hoi,"
Suara bariton Jumantara menyita lamunannya, ia menoleh pada lelaki yang menunggunya untuk masuk ke sel mereka.
"Hehehe, iyeee." Kekehnya lalu segera menyusul Jumantara.
-
Hari sudah malam ketika Dipta duduk diam di tengah-tengah ruangan sel. Ia menelisik mengitari ruangan, ada Pak Zen yang sedang mengukir sesuatu di dinding, Dipta tidak mau bergabung karena itu membosankan. Ada pak Tanu yang tertidur di atas paha Pak Mono yang menyender ke dinding, tertidur juga. Serta Pak Yos yang hanya sedang menatap langit gelap melalui ventilasi berjeruji di sana.
Satu yang terakhir, adalah Jumantara yang masih asyik dengan buku bacaannya. Dipta sudah hafal, lelaki itu seolah tidak ingat dunia jika sudah menyentuh lembaran buku.
Namun pada akhirnya, Dipta mendekat pada si pemuda berkacamata, duduk menghadapnya dan jari-jari bermain-main di sekitar paha hingga lutut, mencoba mengganggu. Semakin keras usahanya, ia tersenyum ketika Jumantara mulai mengganggu dan mendesis sembari menyingkirkan tangannya.
Ia mana mungkin menyerah, ia mengubah tempo menjadi menggelitik, membuat Jumantara akhirnya menyerah dan menghentikan kegiatannya sebentar guna menahan kuat-kuat jemari lentik yang nakal milik Dipta.
"Hahaha- aduh! Iya iya iya gua berhenti, jangan dipelintir dong!" Paniknya ketika lengannya mulai memutar oleh tenaga Jumantara.
"Diem makanya,"
"Ish abisnya lu sibuk banget kalo baca, mau ada kebakaran juga lu bakal diem aja kayaknya,"
Jumantara hanya mendesah, lalu melepaskan tangannya pada milik Dipta, kembali memposisikan diri ke tempat semula.
"Tuh kan!"
"Ck, tidur aja sana."
"Belum ngantuk, elah!"
Jumantara kembali mendecak, namun kemudian bangkit sebentar guna kembali dengan sebuah buku yang terlihat berwarna di tangannya, memberikan pada Dipta.
Dipta menerima saja, begitu dibaca- 'Dongeng Si Jaki dan Pohon Kacang Raksasa' tertera di sana.
"Dih? Apaan nih?"
"Baca aja, lama-lama juga ngantuk."
"Yeee dikira gua anak kecil kali, ogah ah!"
"Udah pernah baca ceritanya belum?"
Dipta berpikir sejenak, "Belum."
"Yaudah, biar tau." Tukas Jumantara lalu kembali memfokuskan diri ke bukunya.
"Ya jangan dongeng anak-anak juga kali, ish!"
"Emang kalo gue kasih buku kayak gini mau?" -tunjuknya pada buku di genggamannya, "Isinya cerita-cerita sejarah zaman Alexander Yang Agung, kepemimpinan Napoleon Bonaparte, fakta sejarah perpustakaan Alexandria, kehidupan asli Royal-"
"Nggak makasih, oke gua mau baca Si Jaki aja. Pada suatu hari-"
Jumantara menyeringai kecil, dan dengan tenang dapat memposisikan dirinya kembali. Walau kali ini ada bedanya, ketika pahanya tertimpa beban dari Dipta yang merebahkan diri di sana.
Diam-diam ia perhatikan wajah serius itu dalam membaca dongeng anak-anak, padahal ia tadi hanya mengerjainya sedikit, namun Dipta mengambilnya dengan serius.
Menit-menit berlalu, fokus Jumantara pada untaian kalimat di buku favoritnya terdistraksi oleh dengkuran halus, yang ternyata datang dari sosok di bawahnya. Buku yang ia berikan tadi sudah tergeletak di dada Dipta, empunya sudah terlelap nyenyak.
Ia pun memutuskan untuk mengakhiri bacaannya, pelan-pelan beranjak dan sekuat tenaga tak menimbulkan suara apa pun yang dapat mengganggu tidur Dipta. Hingga akhirnya, ia bawa tubuh kurus itu berpindah sedikit ke tengah ruangan, bergabung dengan yang lainnya yang sudah terlelap.
Ia menyelimuti tubuh kecil Dipta, yang ternyata sudah mencapai bagian ujung selimut. Baiklah, mungkin tak apa untuk tak memakai selimut pada tidurnya kali ini, walau hampir tak pernah semalam pun Jumantara tidur tanpa selimut. Lelaki itu lebih memilih menunda kebiasaannya karena wajah damai milik Dipta yang tengah tidur. Ia pun merebahkan diri di samping Dipta, sembari menekuk tubuh menghalau dingin.
Dan semua itu, tak luput dari lirikan kecil namun terlihat jelas oleh Pak Yos. Memutus lamunannya dengan langit malam, ia dihadapkan pada dua- takdir? Yang entah kenapa, feeling-nya yang begitu kuat ini, juga berprasangka baik bagi dua insan yang dituju.
KAMU SEDANG MEMBACA
Behind The Prison | NOMIN✅
أدب الهواة[END] "Kita ini beda. Kita tau kapan akhir bakal datang pada kita. Jadi, dari pada stress, banyak pikiran, mending kita cinta-cintaan aja. Mas cinta kamu, kamu juga cinta Mas. Gausah mikirin tabu, kita ada di sini juga udah dilabeli sebagai manusia...
