"Gue mau panggil lo Nara. It suits you well, my think. Boleh?"
Dipta mengulum bibirnya, tak mengira syaratnya seperti itu.
"Ada syaratnya juga,"
"Hm? Jadi syarat-syaratan gini?"
"HAHAHA, tapi iya. Pokoknya, ada syaratnya kalo mau panggil gue Nara. Mau nggaaak?"
Jumantara memejam sejenak, pura-pura berpikir, hingga tak lama ia mengangguk. "Ya, apa?"
"Gue panggil lo Mas Ju, ya! Lucu banget lo dipanggil Mas sama Ningning, gue mau jugaa!"
Jumantara refleks terkekeh, pria yang menumpu kepala di pahanya itu terlihat begitu bersemangat. Lucu, baginya.
"Deal."
"OKE!!"
BRAKKK
"KELUAR!! KERJA KERJA!!"
Dipta mendelik sinis ke sipir tersebut, dirinya hanya berniat mengambil pekerjaan lembur ini agar ada waktu untuk bicara berdua dengan Jumantara. Namun nampaknya, ia memang terpaksa harus mengangkat kayu-kayu besar di tengah malam begini.
—
Hari-hari berlalu, dan orang-orang pun sadar bahwa presensi Dipta hampir tidak bisa lepas dari seorang Jumantara. Keduanya selalu bersama di mana pun, ditambah dengan panggilan khusus yang disematkan pada satu sama lain, banyak membuat orang berpikir— mereka mungkin, sudah sedekat itu.
Pribadi Dipta yang selalu bersemangat disandingkan dengan Jumantara yang dikenal orang cukup cuek, tak mau melakukan hal-hal yang tak penting baginya itu sedikit lucu.
"Mas Juuuu, piket yuuk!"
"Ya,"
"Mas Ju! Buku dongeng gue manaa?!"
"Sini,"
Hingga peralihan sikap yang sedikit demi sedikit diperlihatkan pada Dipta, masih dengan lagak dinginnya, namun masih mencari perhatian. Tsundere.
"Mas Juuu, jangan ditinggal dong, anjir!"
"Makanya jangan lelet,"
"Ya gue diajak ngobrol sama cowok tadi, ish!"
"Makanya, jangan ngobrol sama cowok itu, Nara."
"Eh Mas Ju, cowok tadi tuh orang kaya tau. Ayo deket sama dia, dia katanya suka nyelundupin barang gitu. Bapak-bapak di selnya pernah cerita mereka satu sel dijajanin pizza. Mau juga, Mas Ju!"
"Pizza itu junk food. Nggak sehat. Jauh lebih sehat makanan di sini, kayak sup labu ditambah lauk ikan sama telur bumbu. Itu baru sehat,"
"Anjir itu cuma sayur dikasih air dikasih garem, lu nggak muak apa, Mas?!"
"Nggak, itu yang namanya sehat. Nggak banyak bumbu, jadi nutrisinya lengkap. Pokoknya, jangan deket-deket cowok itu lagi kalo gamau perut lo sakit karena makan makanan nggak sehat,"
Pun tingkah laku Jumantara yang ternyata ada sisi liarnya.
"Mas Ju, kita beneran nggak ada sabun ini buat mandi?"
"Nggak ada, tunggu gaji cair aja."
"Ish nggak bisa gueee kalo nggak ada sabun,"
"Bisa, usap-usap aja badannya."
"Nggak bisa!"
"Yaudah gue usapin nanti,"
Diiringi dengan Jumantara yang dengan senang hati menanggapi manja dari Dipta.
"Mas Juu, potongin kuku gue dong yang pake alat besi punya Pak Zen itu looh. Gabisa pakenya deh gue,"
"Hm,"
"Duduk gimana biar bisa?"
"Pangku. Sini,"
"Mas Juuu, nggak bisa ngantuk! Mau buku dongeng gue, dong!"
Jumantara ambilkan salah satu buku dongeng dari raknya, diberikan pada Dipta yang mulai merebahkan diri di atas pahanya.
Tak butuh waktu lama untuk akhirnya di halaman ke-4, Dipta sudah terlelap. Jumantara diam-diam ambil buku itu dari tangannya, lalu membiarkan Dipta tetap berada di posisinya dengan tenang. Sembari ibu jarinya mengelus di dahi Dipta, mau membantu agar mimpi yang datang pada lelaki itu tak mengganggu lelapnya.
Tingkah laku kedua pemuda tadi tak luput dari perhatian penghuni sel lainnya. Pak Yos, Pak Zen, Pak Tanu dan Pak Mono diam-diam melirik ke arah mereka.
Pak Mono yang pertama mendengus, "Anak muda, anak muda. Nggak bisa lepas dari asmara, kayaknya."
"Kayak nggak pernah muda aja. Umur segitu kalo nggak di sini, mereka udah langsung kawin." Balas Pak Tanu.
"Hahaha, iya kali ya. Tapi gua masih pengen ketawa liat si Bagus kalo lagi sama Dipta jadi berubah. Dulu lempeng-lempeng aja, sekarang kayak ada muka-muka mau nerkam,"
"Namanya juga hormon remaja," celetuk Pak Zen yang membuat yang lainnya tertawa.
Sedangkan Pak Yos yang bersandar di dinding, sedari tadi bungkam memperhatikan. Namun ia diam-diam memegang gelang suci di pergelangan tangannya, turut berdoa agar takdir baik yang mengiringi sisa perjalanan kedua pemuda baik itu.
Karena ia lah di sini yang masih menyadari. Di usia begitu muda itu, mereka sudah dekat dengan akhir masing-masing. Tinggal menunggu waktunya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Behind The Prison | NOMIN✅
Fanfiction[END] "Kita ini beda. Kita tau kapan akhir bakal datang pada kita. Jadi, dari pada stress, banyak pikiran, mending kita cinta-cintaan aja. Mas cinta kamu, kamu juga cinta Mas. Gausah mikirin tabu, kita ada di sini juga udah dilabeli sebagai manusia...
