ACDD 14# TERTAMPAR

52.7K 2.6K 57
                                        

ACDD 14# TERTAMPAR

"Good looking itu bonus, berpendidikan itu harus."

~Aisfa (Cinta dalam Doa)~

🕊🕊🕊

Sedari tadi tatapan Aisfa tidak mau lepas dari pemuda berpostur tubuh tinggi, berkulit putih disertai pahatan wajah yang nyaris sempurna itu. Dia sedang fokus memberikan materi di depan kelas sampai tidak menyadari kalau Aisfa terus memperhatikannya.

Dari awal Aisfa bertemu dengannya, Aisfa sudah menyadari betapa indahnya makhluk ciptaan Allah yang satu itu. Siapa yang tidak akan kagum dengan sosok seperti Gus Alfatih?Paham agama, berwibawa, hafidz Qur'an, dan akhlaknya mempesona.

Tidak perlu ditampik, semua perempuan pasti mengidamkan sosok sepertinya untuk menjadi imamnya kelak. Namun, hanya satu wanitalah yang akan beruntung mendapatkan posisi itu. Dan hal itu masih menjadi misteri takdir sang Rabbi.

Entah apa yang dirasakan Aisfa saat ini, tapi ia merasa senang hanya dengan memperhatikan Gus Alfatih secara diam-diam begini. Hatinya berbunga-bunga tapi Aisfa sendiri tidak dapat mendefinisikan perasaannya sendiri.

Aisfa Berjengit kaget saat Putri—teman sebangkunya menepuk lengannya. Mendadak perasaannya tidak enak ketika semua teman-temannya menatap kearahnya.

"Kenapa?" tanya Aisfa setengah berbisik pada Putri.

"Disuruh baca kitab yang kamu apsahi," jawab putri.

Aisfa menelan saliva susah payah. Dengan panik, ia menyambar kitab Putri di atas meja. "Put, aku pinjem punya kamu ya."

Putri meringis pelan, pasalnya ia sendiri juga tidak mengerti dengan apsahan kitabnya apalagi Aisfa.

Mata Aisfa menyipit, berusaha membaca tulisan Putri yang amat kecil. Dalam hati, gadis itu mengumpati Putri karena tulisannya yang tidak dapat di mengerti.

"Baca!" titah Gus Alfatih sekali lagi.

Aisfa menutup kitabnya menyerah. "Afwan, Gus saya gak bisa baca kitab punya Putri.

Gus Alfatih menatapnya dingin. "Kitab kamu mana?"

"Ada, Gus tapi ketinggalan saat mengapsah."

Gus Alfatih menatapnya tajam. "Seharusnya dari awal kamu bilang biar saya ulangi. Kalau sudah seperti ini siapa yang salah?"

Aisfa akui memang dirinya yang salah. Alhasil ia hanya diam saja menerima murka dari seseorang yang menggangu pikirannya akhir-akhir ini.

"Afwan, Gus," cicitnya menunduk.

"Duduk!"

Tatapan Gus Alfatih kemudian menyisir santriwati lainnya dan terhenti pada santriwati yang duduk di bangku nomer dua dari belakang.

"Ganti Aisyah."

Santriwati juara kelas berturut-turut itu berdiri dengan senyuman yang menghiasi wajahnya. Ia pun mulai membaca kitabnya. Semua menatap kagum ke arahnya, karena gadis itu membaca dengan penuh percaya diri dan lancar seperti biasanya.

Cinta dalam Doa [Terbit]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang