ACDD 11# BERDAMAI

51.9K 2.9K 50
                                        

ACDD 11# BERDAMAI

"Puncak ketenangan pada akhirnya dimenangkan oleh jiwa yang mau berdamai dengan dirinya sendiri. Karena memberontak pada takdir pun akan sia-sia."

~Aisfa (Cinta dalam Doa)~

🕊🕊🕊

"Ayah tidak akan pernah memaafkan kamu kalau sampai terjadi sesuatu sama ibumu!" kata Adzriel tampak marah.

Tubuh Aisfa bergetar, bukan karena takut dengan kemarahan Adzriel, akan tetapi karena ingatan bagaimana dia dengan jahatnya mendorong tubuh Naysila hingga tertabrak masih jelas dipelupuk matanya.

Menyesal?

Tentu saja Aisfa menyesal melakukan hal itu. Saat itu, ia sedang dikuasai oleh amarah hingga tidak memperhatikan ada mobil yang hendak melintas.

Ita yang tidak tega melihat wajah Aisfa yang sudah ketakutan, membela Aisfa. "Om, maafin Aisfa ya. Aisfa gak mungkin sengaja celakain Tante Naysila."

"Ita," tegur Andri membawa Ita menjauh.

"Ayah, Ita yakin Aisfa bukan anak yang seperti itu," ucap gadis itu melepas pegangan tangan ayahnya.

"Tapi ayah dan Pak Adzriel melihat sendiri kalau Aisfa sengaja mendorong tubuh Naysila."

Karena memang begitulah kenyataannya. Saat Adzriel dan Andri hendak menyusul Aisfa dan Naysila yang tidak kunjung kembali, mereka melihat apa yang diperbuat Aisfa.

"Mungkin Aisfa lagi emosi saat itu sampai tidak memperhatikan sekitar."

Andri tersenyum sembari mengusap puncak kepala putrinya. "Ayah paham kamu khawatir sama Aisfa, tapi perbuatan salahnya tidak bisa selalu dimaklumi. Kalau Aisfa tidak diberi pelajaran walau itu hanya hukuman kecil saja, Aisfa tidak akan belajar berhati-hati sebelum berbuat sesuatu. Karena semua perbuatan itu ada akibatnya, Nak. Percayalah kita sebagai orang tua selalu ingin mendidik anak dengan baik. Walaupun terkadang di mata kalian, kami terlihat seperti singa yang mengerikan, tapi ketahuilah kami tidak benar-benar sebengis itu."

Ita menunduk. "Iya, Yah. Ita paham."

🕊🕊🕊

Setelah melalui rentetan pemeriksaan, dokter yang menangani Naysila akhirnya keluar dari ruangan tempat wanita itu dirawat. Adzriel dengan segala kecemasannya mendekatinya untuk menanyakan keadaan istrinya.

"Bagaimana keadaan istri saya, Dok?"

Dokter wanita itu tersenyum. "Tidak ada yang perlu di khawatirkan, Pak Adzriel. Ibu Naysila hanya terkena benturan ringan di kepalanya. Namun, ada sedikit luka sobek dan kami sudah menjahitnya." Kini Adzriel dapat menghela napas lega.

"Oh, iya barusan Bu Naysila titip pesan, kalau beliau saat ini hanya ingin ditemui oleh putrinya, Aisfa."

Mendengar itu, air muka Adzriel berubah seketika. "Baiklah, Terimakasih, Dokter."

Seperginya dokter yang menangani Naysila, Adzriel mendekati Aisfa yang duduk termenung di lantai. Tatapannya terlihat kosong kedepan.

"Kamu dengar apa yang barusan dokter katakan, Nak?" ucap Adzriel. Raut wajahnya masih menyiratkan kekecewaan terhadap putrinya.

Cinta dalam Doa [Terbit]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang