ACDD 36# DIPAKSA IKHLAS
"Menjadi wanita karier itu bagus tapi menjadi wanita karier sekaligus seorang istri yang tidak menghilangkan baktinya terhadap suami itu jauh lebih mengagumkan."
~Aisfa (Cinta dalam Doa)~
🕊🕊🕊
Wajah Aisfa langsung semringah saat dokter mengatakan ia sudah boleh pulang hari ini. Saat ini, ia tengah bersiap untuk pulang. Seragam rumah sakit telah ia ganti dengan setelan rok plisket dan baju tunik. Aisfa bergelendotan manja di lengan sang ibu yang tengah berberes barang yang akan dibawa pulang. Sementara Adzriel sedang mengurus administrasi.
"Ibu, aku pengen martabak keju sama seblak. Habis ini beliin ya, Bu," ucapnya menggoda ibunya.
"Boleh, tapi tidak dengan seblak, Sayang," jawab Naysila.
Aisfa mencebikkan bibirnya. Padahal ia sangat merindukan makanan pedas itu. "Ayolah, Bu. Nanti bilang sama penjualnya jangan pedas-pedas," bujuknya pantang menyerah.
"Lain kali saja ya, Nak. Tunggu kamu benar-benar sehat."
Bukan tega, hanya saja Naysila masih khawatir dengan keadaan putrinya yang baru saja pulih.
Sebagai anak yang baik, Aisfa hanya bisa menurut walaupun sedih. "Ya udah deh kalau gak dibolehin. Aisfa, kan anak penurut."
Asyraf tersenyum geli dengan tingkahnya.
Kling
Aisfa meraih ponselnya yang berdenting pertanda ada notifikasi masuk.
Bibirnya menyunggingkan senyum secerah mentari, kala melihat siapa si pengirim. Gus Alfatih. Beberapa hari yang lalu mereka saling bertukar nomor telepon.
Gus Alfatih : Assalamualaikum, Aisfa. Saya dapat kabar dari Asyraf katanya kamu sudah boleh pulang.
Gus Alfatih : Saya senang mendengarnya.
Gus Alfatih : Tapi, maaf saya tidak bisa ke sana karena harus mengantar Izza ke bandara.
Aisfa : Wa'alaikumussalam, iya gak papa, Gus. Lagian udah ada Ayah ibu dan Kak Asyraf.
Aisfa : Tapi kalau boleh tahu, Ning Izza mau kemana?
Gus Alfatih : Oh, iya saya lupa kasih tahu ke kamu. Izza memutuskan berhenti kuliah di Jakarta. Dia pindah ke Tareem.
Aisfa mengigit bibir bawahnya. Otaknya menerka. Apa mungkin Ning Izza jauh-jauh melanjutkan pendidikannya ke Tarim agar bisa move on seperti dirinya dulu? Apa mungkin, Ning Izza memilih pergi ke sana karena tak ingin menyaksikan pemuda yang dicintainya menikah dengan orang lain.
Aisfa : Hati-hati di jalan. Fii amanillah, Gus.
Gus Alfatih : Aamiin.
"Putri cantiknya Ayah sudah siap pulang?" seru Adzriel memasuki ruangan putrinya setelah beres dengan semua urusannya.
"Siap dong, Yah." Aisfa menyahut semangat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta dalam Doa [Terbit]
SpirituellesSeperti kata pepatah, berharap kepada manusia adalah patah hati paling disengaja. Hal itu pulalah yang dirasakan oleh Aisfa, mantan badgirl yang sedang memperbaiki dirinya. Ia yang trauma dengan cinta dan pernikahan, mendadak merasakan getaran cint...
![Cinta dalam Doa [Terbit]](https://img.wattpad.com/cover/313084020-64-k99941.jpg)