ACDD 12# INSECURE

54.1K 2.7K 19
                                        

ACDD 12# INSECURE

"Sebagaimana firman Allah yang mengatakan, 'perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik untuk perempuan yang baik pula' sudah saatnya kamu mulai memperbaiki dirimu agar dipertemukan dengan jodoh yang baik pula."

~Aisfa (Cinta dalam Doa)~

🕊🕊🕊

Aisfa menyalimi tangan Adzriel dan Naysila secara bergantian ketika mereka pamit hendak pulang setelah mengantar dirinya ke pesantren.

"Belajar yang semangat ya, Sayang," afirmasi Naysila mengecupi pipi anaknya. Aisfa tersenyum dan membalas mencium pipi Naysila juga.

"Siap, Bu!"

Gadis itu tersenyum merasa harinya lebih baik daripada sebelumnya. Mungkin, karena dirinya sudah berdamai dengan ibu tirinya.

Aisfa masih melambaikan tangan pada mobil taksi yang ditumpangi oleh kedua orang tuanya, hingga kendaraan beroda empat itu benar-benar hilang dari penglihatannya. Helaan napas lega menguar dari bibir tipisnya.

"Bunda, Aisfa ikutin ucapan bunda buat sayang sama Ibu Nay. Sekarang Aisfa udah gak benci lagi sama Ibu Nay. Aisfa udah tahu semuanya yang terjadi di antara kalian."

Dari teras ndalem diam-diam Gus Alfatih menyunggingkan senyum tipis memperhatikan Aisfa. Hatinya ikut merasa bahagia, ketika melihat gadis itu sepertinya sudah berbaikan dengan ibu tirinya.

Namun, Gus Alfatih masih penasaran dengan musibah yang menimpa keluarga Aisfa hingga menyebabkan rumahnya disita.

"Permisi, Gus," ucapnya saat hendak melewati Gus Alfatih. Gus Alfatih berdiri dari duduknya dan menghampirinya.

"Tunggu!" Langkah Aisfa pun terhenti. Kepalanya sedikit ia angkat, menantikan apa yang akan dikatakan oleh pemuda itu.

"Ada apa, Gus?"

"Saya cuman mau ngasih tahu, biasanya santri yang baru kembali entah itu dari rumah atau izin keluar, sowan dulu ke Abi dan Umi baru setelah itu ke asrama."

"Sowan itu apa?" Alis rapi gadis itu menaut.

"Menghadap, bisa juga diartikan mengunjungi " Aisfa mengangguk dengan membulatkan bibirnya. Sepersekian detik selanjutnya gadis itu tersenyum saat menyadari sesuatu.

Matanya yang indah melihat kain panjang yang terkalung rapi di leher Gusnya.

"Ini sorban dari aku ya?" Gus Alfatih gelagapan.

"Oh ini? Saya terpaksa pakai karena sorban saya yang lain kotor semua," alibinya. Dalam hati Gus Alfatih beristighfar karena telah berbohong.

Entah kenapa dirinya harus berbohong hanya perihal sorban saja?

"Ya gak papa dong. Aku seneng kalau dipake. Berarti pemberian aku bermanfaat. Kata ustadzah Naifa kalau kita memberikan sesuatu kepada orang lain, dan orang lain itu menggunakan sesuatu itu untuk kemanfaatan, maka pahalanya juga akan mengalir kepada kita. Kalau Gus pake sorban dari aku buat ngajar, berarti aku dapat pahala ngajar juga, kan? Kalau Gus pake buat ngaji, aku juga ditranfer pahala ngaji Gus juga. Lumayan bisa sedikit nutupin dosa aku yang bertumpuk-tumpuk."

Gus Alfatih tertawa pelan mendengar celetukan gadis di depannya. Tawa yang jarang sekali ia perlihatkan kepada orang lain dan itu sukses membuat gadis di depannya terpanah.

"Oh gini bentukannya kalau ketawa? Kok makin ganteng ya? Eh?" batinnya.

"Terimakasih, InsyaAllah akan saya gunakan untuk sebuah kemanfaatan."

Cinta dalam Doa [Terbit]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang