ACDD 51# TASYAKURAN KHATMIL QUR'AN
"Tiadalah seorang lelaki dianjurkan menikahi wanita shalihah, melainkan setiap langkahnya diiringi doa."
~Aisfa (Cinta dalam Doa)~
🕊🕊🕊
"Ali tidur?" tanya Gus Alfatih dengan suara pelan ketika Aisfa membukakan pintu, menyambutnya pulang.
Aisfa mengangguk sembari tersenyum. "Iya, Kak."
"Alhamdulillah," rapal Gus Alfatih tersenyum lebar
Aisfa mengernyitkan alis heran. Tak biasanya suaminya itu sesemringah ini hanya karena bayi mereka tidur.
"Kenapa, Kak?"
"Aku kangen menghabiskan waktu sama kamu."
Pipi Aisfa memanas. Gus Alfatih yang merasa gemas mencubitnya.
"Jadi mau sampai kapan nih di ambang pintu terus sambil nahan malu? Suaminya gak mau diajak masuk?" sindir Gus Alfatih.
Aisfa meringis pelan. Dengan perasaan malu setengah mati, ia pun menggandeng tangan suaminya untuk masuk ke dalam rumah.
"Gimana tadi kerjaan kakak?" tanya Aisfa berusaha mengalihkan rasa malunya.
"Alhamdulillah lancar. Berkat doa kamu juga pastinya. Inilah mengapa alasan seorang laki-laki itu dianjurkan menikahi wanita yang shalihah. Jika dia sedang berusaha, di belakang ada yang mendoakan. Dan Masya Allah, doanya istri yang shalihah itu sangat berpengaruh untuk kelancaran pekerjaan suami. Jadi jangan pernah bosan mendoakan setiap langkah saya ya?"
Mata Aisfa memanas mendengarnya. "Kakak, aku bukan wanita shalihah. Tapi aku akan berusaha menjadi wanita terbaikmu dan makasih juga karena kakak, aku berada di titik ini."
Tak dapat dipungkiri bahwa Gus Alfatihlah yang membawa perubahan untuk hidupnya selama ini. Lewat perantaranya, dirinya berhijrah.
Sebuah kecupan lembut mendarat di kening Aisfa. "Bagi kakak. Kamu adalah wanita terbaik setelah Umi. Kamu ada di titik ini bukan karena saya, tapi karena kegigihan kamu untuk menggapi cinta Rabb-mu."
Gus Alfatih memegangi perutnya kala menghidu aroma sedap masakan yang berasal dari meja makan. "Lapar, Habibati. Tolong kasih makan suamimu ini dengan masakanmu yang bisa mengalahkan restoran bintang lima itu."
Aisfa tertawa atas pujian suaminya yang menurutnya terlalu berlebihan itu. "Berlebihan, ih. Ya udah aku ambilin ya."
Gus Alfatih menganggukkan kepalanya semangat.
"Oh, iya saya lupa ambil belanjaan di bagasi. Saya beli keperluan kamu dan makanan ringan juga."
"Makasih, Habibi. Pengertian banget sih padahal aku gak nyuruh."
"Kamu saja bisa mengurus keperluan saya dengan sangat baik, masa saya tidak bisa hanya sekedar membelikan sesuatu yang kamu perlukan. Saya tahu semenjak menyusui, kamu jadi sering mengemil karena pastinya sering lapar."
Terharu, Aisfa tidak dapat menggambarkan betapa bahagianya dirinya dipersatukan dengan sosok sepengertian Gus Alfatih. Gus Alfatih adalah anugerah terindah yang Allah berikan untuknya.
"Aku baru aja selesai makan, Kak sama Bik Ira juga. Biar aku bisa nemenin kakak makan, aku suapi aja ya."
"Dengan senang hati, Zaujati."
Dengan penuh semangat Gus Alfatih membuka mulutnya saat istrinya ingin memasukkan nasi ke dalam mulutnya menggunakan tangannya. Keluarga kecil itu memang lebih sering makan menggunakan tangan daripada sendok jika di rumah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta dalam Doa [Terbit]
SpiritualSeperti kata pepatah, berharap kepada manusia adalah patah hati paling disengaja. Hal itu pulalah yang dirasakan oleh Aisfa, mantan badgirl yang sedang memperbaiki dirinya. Ia yang trauma dengan cinta dan pernikahan, mendadak merasakan getaran cint...
![Cinta dalam Doa [Terbit]](https://img.wattpad.com/cover/313084020-64-k99941.jpg)