ACDD 38# IJAB KABUL
"Tidak ada cinta yang lebih indah selain diam namun saling mendambakan sampai dipersatukan lewat ikatan halal. Seperti S. Ali bin Abi Thalib dan Sy. Fatimah Azzahra."
~Aisfa (Cinta dalam Doa)~
🕊️🕊️🕊️
Pagi ini pesantren Darul-Qur'an lebih ramai dari biasanya. Hari ini acara sakral akan diselenggarakan di sana. Putra sulung Gus pemilik pesantren akan menikah dengan alumni santriwati Darul-Qur'an, yaitu Aisfa Naziya Almahyra.
Pesantren dibuat geger disebabkan Gus Alfatih membatalkan pernikahannya dengan seorang Ning dan lebih memilih santriwati biasa. Terlebih sebagian penghuni pesantren tahu bagaimana seluk beluk masa lalu Aisfa. Sebagian Ada yang sangat menyayangkan pilihan Gus Alfatih dan sebagian lagi mendukung pilihan Gus Alfatih.
Di dalam sebuah bilik, Aisfa sedang di cecar dengan banyak pertanyaan oleh ketiga sahabatnya yang sangat ia rindukan. Syafa, Najwa dan Ririn.
"Fa, sumpah kamu tuh ya selalu bikin kejutan gak terduga. Dulu kamu mau pindah pondok secara tiba-tiba. Sekarang mau nikah pun secara mendadak. Apalagi dengan Gus Alfatih, idamannya santriwati. Aku gak habis pikir sama kamu," ucap Ririn heboh.
"Kok bisa sih, Fa? Setelah pindah pondok, kamu masih berhubungan ya sama Gus Alfatih?" Najwa penasaran.
"Udah aku tebak sih Gus Alfatih lagi menyukai perempuan lain waktu pernikahannya batal dengan Ning Izza. Tapi aku benar-benar gak nyangka kalau perempuan yang dicintai Gus Alfatih itu kamu, Fa. Gimana rasanya dicintai seorang Gus, Fa?"
"Jangan-jangan kalian udah saling suka dari semenjak kamu mondok di sini ya, Fa?"
"Pokoknya nanti kamu harus cerita kisah cinta kalian."
"Udah?" tanya Aisfa tidak habis dengan ketiga sahabatnya. Ia bingung bagaimana menanggapi pertanyaan mereka satu-persatu.
Mereka diam seketika. Aisfa merenggangkan tangannya. "Boleh peluk lebih lama, nggak? Aku masih kangen banget sama kalian."
"Aku juga."
Keempat anak manusia itu saling berpelukan untuk yang kesekian kalinya, mengubur rindu dalam-dalam.
"Nanti kalau ada kesempatan, aku bakal ceritain ke kalian gimana awal mulanya Gus Alfatih melamar aku."
"Berarti Aisfa akan menjadi Ning pondok kita. Sekarang kita harus panggil dia Ning," ucap Najwa melepas pelukannya diikuti oleh Syafa.
"Nah, iya. Ning Aisfa," sahut Syafa terharu.
Aisfa memberenggut kesal mendengar panggilan itu. Pasalnya ia merasa.
"Ish, Aku bukan Ning. Walaupun nanti aku menikah dengan Gus Alfatih, aku gak mau dipanggil, Ning. Aku ini hanya santri seperti kalian."
"Itu udah adat keluarga kiai Aisfa. Kalau kamu menikah dengan anak kiai atau Gus otomatis statusmu berubah menjadi ning. Dulu umi Hanaya juga santriwati biasa kayak kamu. Setelah menikah dengan Gus Adnan yang mana penerus pesantren, beliau jadi dipanggil Ning."
Aisfa masih menyangkal, "Itu karena ilmu Umi Hanaya udah mumpuni. Kalau aku kan baru belajar ilmu agama. Jadi gak pantes dapat gelar itu."
Ketiga sahabat Aisfa menghela napas pasrah. "Iya iya, yaudah kalau kamu emang gak mau dipanggil Ning sama kita, kita gak bakal panggil kamu Ning kok."
"Oh, iya nanti setelah nikah kamu tinggal di sini, kan, Fa? Enak dong kita bisa sama-sama kayak dulu lagi," tanya Syafa.
"Kata Gus Alfatih kita bakalan tinggal di rumah yang sudah dia siapkan," jawab Aisfa sendu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta dalam Doa [Terbit]
SpiritualeSeperti kata pepatah, berharap kepada manusia adalah patah hati paling disengaja. Hal itu pulalah yang dirasakan oleh Aisfa, mantan badgirl yang sedang memperbaiki dirinya. Ia yang trauma dengan cinta dan pernikahan, mendadak merasakan getaran cint...
![Cinta dalam Doa [Terbit]](https://img.wattpad.com/cover/313084020-64-k99941.jpg)