ACDD 19# IZZAH SYAHIRAH

51.9K 2.5K 89
                                        

ACDD 19# IZZAH SYAHIRAH

Jangan mengkhawatirkan hal yang berada diluar kendalimu. Perihal takdir jodoh, maut dan rizki itu Allah yang sudah mengaturnya. Jika memang namanya sudah tertera dilauhul-mahfudzmu, orang yang dicintainya bisa apa?

~Aisfa (Cinta dalam Doa)~

🕊🕊🕊

Tidak butuh waktu lama bagi Aisfa untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya saat ini, karena sebelumnya ia sudah terbiasa di ponpes Darul-Qur'an. Hanya saja hari-harinya terasa sedikit lebih berat. Di setiap aktivitas yang ia lakukan, ia selalu teringat teman-temannya.

Namun, Aisfa sadar bahwa terkadang untuk meraih sesuatu, ia harus mengorbankan hal lainnya. Aisfa ingin dekat dengan Allah dan agar niat itu tidak ternodai, ia harus menjauhi Gus Alfatih.

Setiap pertemuan pasti ada perpisahan, begitu juga sebaliknya. Karena kebersamaan di dunia ini hanya bersifat sementara. Namun dibalik itu semua pasti ada hikmahnya.

"Hai."

Aisfa berjengit kaget saat Asyraf tiba-tiba muncul di belakangnya. "Astaghfirullah, Ustadz!"

Asyraf meringis pelan. "Kaget ya? Maaf gak sengaja. Cuman mau ngasih ini."

Pemuda itu mengulurkan sebuah kardus makanan di depan Aisfa. Aisfa menatapnya dengan tatapan bingung. Untuk apa pemuda di depannya itu repot-repot memberikannya makanan, padahal Aisfa baru saja sarapan.

"Buat aku?"

Asyraf mengangguk. "Bukalah, saya yakin kamu pasti akan menyukainya."

Biarpun kenyang, Aisfa terpaksa menerimanya untuk menghargainya. Menghidu aroma  familiar yang berasal dari makanan itu membuat tangannya tergelitik untuk membukanya. Gadis itu cukup tertegun melihat makanan yang diberikan Asyraf. Martabak keju.

"Aku tahu makanan ini adalah makanan kesukaan kamu. Dulu waktu kecil saat Bunda membuat martabak dan kamu mencium baunya, kamu langsung lari ke dapur dan merengek meminta haha. Kita sering menikmati makanan ini berdua."

Aisfa menunduk mendengar pemuda di depannya begitu antusias menceritakan kenangan di balik martabak keju. Kelihatannya dia sangat berusaha untuk membuat Aisfa ingat kepadanya.

"Maaf, tapi aku gak ingat," lirih Aisfa.

Asyraf mengangguk sembari tersenyum. "Gak papa."

Tapi Aisfa tahu di balik kata 'tidak papa' yang meluncur dari bibir Asyraf, sebenarnya pemuda itu merasa bersedih. Kentara dari sorot matanya.

"Ini aku ada buku agama. Cocok banget untuk kamu yang ingin mendalami ilmu agama."

Pemuda itu memperlihatkan paper bag berisi beberapa buku yang kemarin ia beli untuk Aisfa. Ia tahu gadis itu ingin mempelajari ilmu agama.

Aisfa menerimanya. "Syukron, ustadz. Kalau begitu aku permisi, selain karena bel akan segera berbunyi, kita hanya berduaan di sini. Bukankah itu tidak baik?" ucap Aisfa sengaja menekan kalimat terakhirnya.

"Iya benar katamu, maaf. Aku hanya ingin memberikan itu saja," ucap Asyraf.

Suasana hatinya yang tadi senang, berubah hancur seketika. Ia merasa Aisfa seolah ingin menciptakan jarak dengannya. Bukan hanya jarak antar non mahram tapi seperti ada hal lain.

Cinta dalam Doa [Terbit]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang