ACDD 28# PERASAAN YANG SAMA

47.1K 2.7K 70
                                        

ACDD 28# PERASAAN YANG SAMA

"Takdir, aku mengaku kalah. Aku yang mengira sulit jatuh cinta, hari ini tertunduk lemah di hadapannya. Dia yang sempurna tak mungkin bisa kugapai hanya dengan tengadah doa. Aku dengannya jauh berbeda. Lelaki shalih sepertinya tidak mungkin sudi dengan wanita yang tak shalihah sepertiku."

~Aisfa (Cinta dalam Doa)~

🕊🕊🕊

"Ya Allah, mbak gak papa?"

Ning Izza sungguh terkejut saat gelas yang dipegang Aisfa terjatuh menimpa kaki gadis itu

Aisfa berusaha mengukir senyum baik-baik saja, walau kenyataannya kakinya terasa nyeri. "Aku gak papa, Ning. Maaf gelasnya jadi pecah. Biar aku beresin."


"Jangan, Mbak. Biar mbak ndalem aja yang beresin."

Aisfa tidak mengindahkan, tetap memungut beling.

Ning Izza membulatkan matanya, melihat darah mengalir dari tangan Aisfa. "Tuhkan luka."

"Mbak An minta tolong ambilkan kotak obat," teriak Ning Izza pada Ana-abdi ndalem dengan wajah panik.

"Duduk dulu mbak."

Aisfa menolaknya dengan sopan. "Sudah, Ning. Ini hanya luka kecil. Aku gak papa kok. Oh, iya sepertinya aku harus cepat-cepat pergi karena baru ingat ada urusan penting. Assalamualaikum."

Tanpa menunggu respon dari Ning Izza, Aisfa segera mematri langkah keluar meninggalkan ndalem. Tidak ada gunanya lagi ia menunggu Gus Alfatih. Aisfa sudah mendapatkan kejelasan melalui kabar pernikahan Ning Izza dan Gus Alfatih.

"Wa'alaikumussalam." Ning Izza menatap kepergian Aisfa dengan tatapan heran. Padahal baru saja dia datang ingin bertemu Gus Alfatih, lantas mengapa tiba-tiba pergi?

"Dia kenapa, Za?" tanya Ning Irma menatap punggung Aisfa yang kian jauh.

"Aku juga gak tahu."

Ana datang membawakan kotak obat. "Ini kotak obatnya, Ning."

Ning Izza menghela napas. "Dia sudah pulang, mbak. Minta tolong bersihin gelas yang pecah aja," ucapnya sedikit tak enak hati karena telah memerintah.

"Baik, Ning."

🕊🕊🕊

Tiiin

"Kalau jalan liat-liat, Mbak," marah pengendara mobil yang hampir saja menabrak Aisfa kalau saja tadi tidak mengerem mendadak.

Aisfa tertegun mendengar nada tinggi bapak itu. Ia tak menyadari jika ada sebuah mobil yang hendak melintas.

Kaki Aisfa berlari kecil ke sebuah taman asri yang sepi. Tubuhnya merosot di atas rerumputan hijau tua. Napasnya memburu dan tanpa bisa dicegah, perlahan air mata Aisfa tumpah.

Gadis cantik itu berteriak sekencang-kencangnya, mengeluarkan semua sesak yang meruangi dadanya. Untuk kedua kali dalam seumur hidupnya, ia mengalami patah hati sedalam ini.

Pertama saat mengetahui ayahnya telah berpoligami. Kedua, saat ini, ketika Aisfa tahu bahwa pemuda yang ia cinta dalam diam dan ia doakan dalam sujud sepertiga malamnya akan menikah dengan orang lain. Kenyataan ini benar-benar membuatnya terluka.

"Beruntung banget dia yang bisa dapatin Gus Alfatih," lirihnya tertawa miris.

"Tuhan, apa aku seburuk itu sehingga tidak pantas bersanding dengannya?"

Cinta dalam Doa [Terbit]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang