JOOAFKA | I like You

26.2K 1.9K 66
                                        

"Aban?" Joo menatap kearah pemuda itu dengan wajah bertanya. Aban ikut duduk disebelah Joo dengan secangkir kopi yang dia pegang.

"Ga tidur?" Tanya Aban basa-basi.

"Belum ngantuk," jawab singkat Joo.

Hening, mereka berdua merasa sangat canggung terutama Aban. Jujur dia tidak sengaja melihat Joo yang keluar dari tenda untuk merokok, karena itu dia mendekat untuk mengajak Joo mengobrol yang sialnya dia baru menyadari sifat pemuda didepannya saja sama seperti dirinya, ketus.

Begitu pun dengan Joo, dia sebenarnya malas tetapi karena dia masih punya sopan santun jadi diam saja. Mereka berdua diam cukup lama sampai rokok Joo tinggal setengah begitu pun dengan kopi Aban.

"Gua mau ngomong tentang Afka." Celetuk Aban membuyarkan keheningan, membuat Joo menatap kearah pemuda itu.

"Apa?" Tanya Joo sedikit tidak suka didalam hatinya ketika Aban menyebut nama Afka.

"Gua suka sama Afka," ucap Aban menatap fokus perapian didepannya.

"Gua tau." Jawab Joo membuat Aban terkekeh.

"Dari kelas 10, dia temen pertama gua waktu itu. Gua susah bergaul makanya gua ga punya banyak temen, tapi beda dengan Afka, dia anaknya friendly ke semua orang makanya dia banyak temen. Gua ga tau apa alasan dia mau temenan sama gua yang kebanyakan diem, tapi disatu sisi gua seneng karena dia jadi temen pertama gua sekaligus orang yang pertama gua sukai." Jelas Aban sambil menatap kopi yang tinggal setengah.

"Gua ga berani bilang sama dia langsung, karena gua takut dia ngejauhin gua. Gua ga sanggup kalo dia jauhin gua karena perasaan gua ini, jadi gua diem aja sampe sekarang."

"Sampai dimana gua dapet kabar dari Afka langsung, kalo dia bakal nikah sama lu. Jujur waktu itu gua sakit hati banget, tapi gua ga bisa apa-apa. Gua udah anggep Afka kek Adek gua sendiri, dia keluarga gua, orang yang gua sayangi. Jadi, gua mohon sama lu jaga Afka baik-baik, jangan pernah bikin dia nangis apalagi mukul dia kek terakhir kali lu lakuin, cukup sekali itu aja seterusnya jangan." Ucap Aban menatap kearah Joo yang hanya diam.

"Tanpa lu suruh pun gua bakal jagain dia, gua suka sama dia bahkan mungkin udah cinta. Dia orang yang gua sayang setelah Ibu jadi lu gausah khawatir." Jawab Joo kearah Aban yang hanya dibalas anggukan oleh pemuda itu dengan perasaan sedikit lega didadanya.

"Dan lu tenang aja gua ga bakal rebut Afka dari lu, ketara banget muka lu setiap liat gua sama Afka deket." Ledek Aban membuat Joo menatap kearah lain.

"Kecuali kalo lu udah bosen sama Afka, gua nungguin." Ucap Aban berniat meledek.

"Sialan! Ga bakal." Umpat Joo menatap tajam kearah Aban yang hanya dibalas kekehan pemuda itu, mereka berdua sesekali mengobrol tentang Afka sampai rokok dan kopi mereka berdua habis.

💐

Afka menggercapkan kedua matanya beberapa kali, setelah sadar dan pandangannya jelas dia bergerak menatap kearah Joo yang masih tertidur dengan memeluk tubuhnya dari belakang.

Dia meraih ponsel miliknya dan mengecek jam yang menunjukan pukul setengah lima. Afka bergerak melepaskan pergelangan tangan Joo yang memeluk pinggangnya. Setelah terlepas dia duduk dan keluar dari tenda, dia menatap kearah Ipan dan Nuno yang ternyata sudah bangun.

"Tumben cepet lu pada bangun?" Tanya Afka berjalan mendekat kearah Ipan dan Nuno yang duduk didepan perapian yang baru mereka nyalakan.

Hawa pagi-pagi digunung sangat dingin membuat mereka harus memakai jaket dan menyalakan api karena masih terasa dingin. Afka ikut duduk disebelah Ipan menghangatkan badannya.

Tidak lama Aban dan Joo keluar dari tenda dan ikut menyusul ketiga pemuda yang sudah duduk didepan perapian.

"Lah si Irsa mana?" Tanya Ipan kearah Aban.

"Masih molor." Jawab Aban setelah duduk didekat Nuno.

Joo membawa selimut lalu memakaikannya dibadan Afka. "Dingin." Ucap Joo membuat Afka menatap kearahnya lalu mengeratkan selimut yang Joo berikan ditubuhnya, sontak teman-temannya hanya diam sambil menatap kearah lain, pagi-pagi disuguhi rasa iri.

"Ayo ikut gua," ajak Joo berbisik ditelinga Afka.

"Kemana?" Tanya Afka menatap Joo bingung.

Joo hanya diam sambil berdiri dari duduknya lalu satu tangannya terulur kearah Afka yang sempat ditatap pemuda itu bertanya. Afka menerima uluran Joo dan berjalan mengikuti pemuda yang menggandengnya.

Mereka sampai ditempat yang tidak jauh dari pos 2. Afka menatap kearah pemandangan sunrise didepannya dengan wajah kagum, dari sini Afka bisa melihat pemandangan bawah dari ketinggian ratusan meter dan bisa melihat terbitnya matahari yang sangat indah. Joo tersenyum kearah Afka yang menatap terbinar kearah sunrise dan memotret pemandangannya yang sedang dia lihat sekarang.

Joo memeluk tubuh Afka dari belakang dan menopangkan wajahnya dipundak pemuda itu. "Suka?" Tanya Joo.

"Suka," balas Afka dengan senyumannya kearah Joo.

"Gua juga suka sama lu." Ucap Joo menatap Afka dengan senyumannya, membuat Afka mengalihkan pandangannya menatap Joo bingung dan terkejut.

"Hah?" Cengo Afka menatap Joo bingung.

"Gua suka sama lu, gimana?" Bisik Joo menatap kedua mata Afka.

"Kenapa nanya? Itukan hak lu." Jawab Afka.

"Gua takut lu ga bolehin."

"Terus kalo gua suka juga sama lu, lu ga bolehin?" Tanya Afka menatap kedua mata Joo.

"Boleh banget. Karena lu Afka, pasangan sah gua." Jelas Joo.

"Kalo gitu gua juga bolehin lu suka sama gua, karena lu juga pasangan sah gua." Ucap Afka dengan senyumannya.

Joo hanya tersenyum, pandangannya menatap kearah bibir Afka. Afka bergerak memutar tubuhnya menghadap Joo lalu mencium bibir pemuda yang lebih tinggi darinya dan melumatnya. Joo membalas lumatan yang Afka berikan dengan kedua tangannya yang menekan pinggang Afka.

Ciuman mereka tidak ada rasa menuntut dan nafsu, hanya ada kelembutan disetiap lumatan mencoba menyalurkan perasaan mereka masing-masing. Biarkan kedua pemuda itu merasakan kebahagian yang mereka rasakan sekarang, biarkan mereka memiliki satu sama lain dan hidup bersama sampai ajal menjemput nanti.

Joo memiliki Afka sekarang begitu pun sebaliknya, mereka membutuhkan satu sama lain. Perjodohan yang tidak mereka harapkan sama sekali, membuat mereka merasakan perasaan baru dan takdir yang mereka tidak bisa hindari. Jalan mereka masih panjang, dan ini awal mula perjalanan mereka.

"I love you, Afka I love you in this world and beyond."






END

💐

see u Jooafkan and thank u, be happy forever.

see u in the next story, thank you to all readers who have read and voted.

Jooafka goodbye.


JOOAFKATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang