Special Chapter

36.5K 2.1K 73
                                        

WARNING ; Contains elements of sex, bagi yang belum legal diharap tidak membaca.

💐

Joo memberhentikan sepeda motornya didepan rumah setelah mendaki gunung selama 2 hari. Afka turun dari motor Joo lalu melepaskan helm yang melekat dikepalanya begitu pun dengan Joo.

Pemuda tinggi itu langsung menarik pergelangan tangan Afka dan berjalan cepat kearah rumah membuat sang empu terkejut, mereka masih menggendong tas setelah mendaki gunung. Joo membuka pintu rumahnya dengan tergesa-gesa membuat Afka menatapnya bingung, lalu dia naik ketangga menuju ke kamarnya.

Afka hanya diam mengikuti pemuda didepannya yang menggenggam pergelangan tangannya. "Joo lu kebelet berak?" Tanya Afka kearah Joo.

Joo tidak memperdulikan ucapan Afka, dia membuka pintu kamar lalu menutup dan menguncinya yang ditatap Afka bingung, perasaannya tidak enak.

Pemuda tinggi itu menarik pergelangan tangan Afka dan melempar tubuh pemuda itu dengan mudah sampai tertidur dikasur.

"Sial, kalem ngapa?!" Cibir Afka menatap Joo yang melempar tasnya ke lantai dan membuka jaket yang melekat dibadannya menyisakan kaos putih polosnya.

Joo naik ke atas kasur dan mengurung Afka dikungkungannya. "Maaf, gua kelepasan." Ucap Joo parau sambil mengusap rambut hitam Afka yang menutupi jidatnya.

Dia mendekatkan bibirnya dikening Afka lalu menciumnya lembut membuat pemuda dibawahnya menutup kedua matanya, merasakan debaran jantungnya yang seketika seperti bergemuruh.

Ciuman Joo berpindah ke mata Afka lalu hidung mancungnya, dia sempat diam menatap bibir pemuda dibawahnya dengan jarak yang sangat dekat. Merasa tidak ada pergerakan, Afka membuka kedua matanya yang langsung menatap kedua mata hitam milik Joo yang menatapnya juga.

Afka mengulur kedua tangannya memegang wajah pemuda diatasnya lalu menariknya mendekat sampai kedua bibir mereka bertemu. Joo mulai mengecap bibir atas dan bawan Afka, dia mulai melumat bibirnya yang dibalas oleh Afka.

Satu tangan Afka meremas belakang rambut Joo memperdalam ciumannya, dia membuka mulutnya memberi akses Joo supaya memasukan lidahnya dengan senang hati yang langsung dituruti pemuda diatasnya.

Suara khas berciuman terdengar menggema dikamar mereka, nafas kedua pemuda itu mulai memberat bersamaan dengan hawa panas yang mulai mejalar ditubuh mereka.

Ciuman Joo turun ke ceruk leher Afka, dia menjilat, mengecup dan menyedotnya sampai meninggalkan tanda merah ke unguan yang kontras sesekali menggigitnya membuat Afka mengeluarkan erangannya.

Kedua tangan Joo dengan tergesa-gesa membuka baju Afka satu persatu dengan bibirnya yang tidak terlepas menciumi leher pemuda dibawahnya dan bergantian ke bibirnya.

Joo melepaskan tautan ciumannya dengan nafas keduanya yang sama-sama memburu, dia menegakkan badannya lalu melepaskan kaosnya menyisakan celana jensnya begitupun dengan Afka.

Afka menatap pemuda diatasnya yang menyisir rambutnya yang basah karema keringat ke belakang. Demi Tuhan, pemuda didepannya ini sangat tampan, dia mengakuinnya dengan jujur.

Dia patut bersyukur karena mendapatkan suami yang tampan. Eh, suami? Apa Afka sudah menerima Joo sebagai suaminya?

Jawabannya iya, Afka akui pesona dan perilaku Joo membuatnya jatuh ke dalam omongan teman-temannya. Dia memakan ludahnya sendiri, dia sadar kenapa banyak perempuan yang berebut untuk mendapatkan pemuda hampir mendekati sempurna didepannya. Tapi sorry, dia punya Afka, milik Afka Sigir Husein, suaminya.

Joo mengangkat kaki Afka sampai pinggangnya, dia melepaskan jens dan celana dalam yang menutipi bagian bawah pemuda dibawahnya sampai terlepas dan sekarang Afka telanjang tanpa sehelai benang pun.

JOOAFKATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang