Chapter 9

1.1K 48 0
                                    

Prilly's Pov
Setelah 1 jam perjalanan, akhirnya aku dan mama telah sampai di pekarangan rumah calon tunangan ku itu.

Mama bergegas menekan tombol bel yang ada di pojok pintu.

"Eh jeng Ully, aduh udah sampe yaa, kangen banget udah lama ya kita nggak ketemu." ucap seorang wanita yang langsung memeluk mama sangat erat.

"Iya nih jeng udah lama kita nggak ketemu yaampun tambah cantik aja kamu." ucap mama tak kalah sumringah.

"Kamu juga tambah cantik aja ini, eh ini pasti yang namanya Prilly ya? Nama tante Lilyana Makayla bisa kamu panggil tante Lily, aduh ini anakmu cantik banget jeng, kayak princess aja ini. Pasti anak ku langsung jatuh cinta deh." ucap tante Lily yang menurutku terlalu lebay.

Aku hanya tersenyum tipis dan langsung ditarik untuk masuk ke dalam.

"Dad Nathan Bella sinii, Tamu kesayangan kita udah dateng." ucap tante Lily setengah berteriak.

Aku hanya duduk dan sibuk dengan handphoneku. Aku tak memperdulikan suara sepatu yang mulai mendekat, aku memilih untuk diam karena mood ku yang lagi kacau.

"Prilly kenalin ini anak-anak tante." ucap tante Lily yang membuat ku mendongak dan mencoba berdiri.

"Wah ini Prilly ya anaknya Rizal Latuconsina, cantik sekali seperti bidadari. Kenalin om sahabat papa kamu dari kecil, Daniel Nelson Mandela." ucap lelaki separuh baya itu dan aku mulai menjabat tangan dan tersenyum.

"Prilly, kenalin ini Jonathan Adrian Nelson bisa kamu panggil Nathan dan ini anak kedua tante Isabella Adriana Nelson bisa kamu panggil Bella." ucap tante Lily.

"Prilly Putri Latuconsina." ucap ku sambil berjabat tangan dengan Nathan dan Bella.

'Kayaknya gue sama Bella sepantaran, dan kalau sama Nathan kayaknya cuma beda 1 atau 2 tahunan deh.' ucapku dalam hati.

"Eh iya Prill kamu ke kamar aja dulu istirahat, tante masih mau ngobrol sama mama kamu. Kamu ke kamarnya biar di temenin sama bella ya." ucap tante Lily yang sangat ramah kepadaku.

"Oke aku anterin Prilly dulu kalau gitu." ucap Bella yang mulai beranjak dari tempat duduknya dan aku hanya mengikutinya dari belakang.

"Ini prill kamar lo, semoga lo betah ya tidur disini." ucap Bella saat telah masuk ke kamar dan tersenyum kepadaku.

"Makasih ya bel, pasti betah kok." balasku dan tersenyum.

"Lo ya yang mau dijodohin sama kak Nathan?" tanyanya yang membuatku bingung menjawabnya.

"Em gue nggak tau bel, mama gue belum ngasih tau gue." ucapku setengah gugup.

"Haha ya pasti lo lah yang bakal dijodohin sama kakak gue, gimana sih Prill. Kak Nathan pasti mau kok sama lo, dia baik dan ramah sama orang yang udah deket jadi untuk sementara waktu mungkin dia agak kurang nyaman dengan kehadiran lo." ucap Bella panjang lebar yang menurutku nggak penting buat di dengerin karena lebih baik ia mencari tau kabar dari Ali daripada mendengarkan celotehan dari Bella.

"Oh oke makasih bel, mungkin gue butuh istirahat sebentar." ucapku mencoba mengusir Bella secara halus.

"Oke Prill, see you" ucapnya lalu menutup pintu.
****

On Skype.
Prilly: Kak, gimana keadaanya Ali? Dia udah bener-bener sadar kan?
Randy: Udah Prill, sekarang Ali udah semakin membaik. Lo udah sampe?
Prilly: Udah kak, gue udah sampe rumahnya nih.
Randy: Trus gimana?
Prilly: Gimana apanya sih kak?
Randy: Ya gimana ganteng nggak cowok lo?? Hahaha.
Prilly: Eh awas ya lo kak ngejekin gue lagi, bukan cowok gue dia. Nggak tau sih ganteng atau nggak.
Randy: Loh lo gimana sih masa nggak tau dia ganteng atau engga?! Emang lo belum ketemu sama dia?
Prilly: Udah sih kak.
Randy: Nah trus kok lo nggak tau dia ganteng atau engga?
Prilly: Tadi gue nggak fokus liatnya, males gue ngeliat dia. Nggak ramah gitu orangnya, yaudah ntar kapan-kapan gue kirim fotonya ke lo.
Randy: Jangan kayak gitu dulu, ntar lo lama-lama naksir lho sama dia hahaha
Prilly: Apaan sih kak-_- yaudah gue mau tidur dulu capek nih gue.
Randy: Yaudeh yaudeh gue juga capek, see you my sister muahh.

It's Real, Not a DreamTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang