Langit Biru

1.2K 134 22
                                    

Dipagi hari yang cerah dengan sinar matahari yang terlihat terang.

Tapi tidak dengan pagi Langit Yudhanel, pagi ini menurut ia sangat menyiksa. Ia merasa tubuhnya akhir-akhir ini sangat lemas, gampang mual, dan kulitnya sedikit menguning.

Ia tau akhir-akhir ini sering kambuh tapi Langit tidak mau membuat orang tuanya dan sahabat nya khawatir.

"Langit, ayo sarapan, kamu gak papa kan? " Tanya seorang paruh baya.

"Langit gak papa, ma." Jawab Langit

💚💚💚

"Lama banget lo, lang" Ucap Matahari

"Elah tadi gue sarapan dulu, ntar lemes gimana lo mau tanggung jawab"

Setelah perdebatan yang sebenarnya tidak harus diperdebatkan ini, Langit Matahari dan Bintang pun akhirnya berjalan menuju rumah Angkasa.

Diperjalanan mereka berbincang-bicang kecil, ntah tentang apapun.

''Lo bawa obatkan, har? Tanya Bintang di sela-sela perbincangan mereka bertiga.

Matahari lalu menengok kearah Bintang. "Udah bawa, nih dikantong gue" Sambil menepuk-nepuk kantong celana nya.

Sementara itu Langit hanya mendengar percakapan mereka, bukan tidak mau ikut bicara hanya saja ia sedang menahan rasa sakitnya sedari tadi.

Matahari yang peka pun  melihat kearah Langit, ia tersadar kalau hari ini Langit sedikit berbeda.

"Lang lo gpp? " Tanya Matahari yang membuat Bintang tersadar, pantas saja suara Langit dari tadi tidak ada, hanya ada suara tawa saja karena kawakan.

Langit mendongak, "Gak papa har, cuma sedikit mual aja" Ucap Langit jujur

"Lo mual? Mau duduk dulu bentar? " Tanya Bintang

Langit menggeleng, "Gak papa bentar lagi sampai rumah Angkasa, istirahat disana aja." Katanya

Lalu Bintang dan Matahari pun hanya mengangguk saja, dan mereka melanjutkan perjalanannya.

Tidak lama dari itu akhirnya mereka bertiga berada dirumah yang cukup besar, dengan pintu gerbang yang panjang, Matahari lalu memencet bel yang berada di samping gerbang.

Tak berlangsung lama gerbang tersebut terbuka, lalu tampaklah Angkasa yang sudah mengenakan kaus olahraga dan celana training berwarna hijau.

Matahari sedikit manahan tawanya. "Lo mau olahraga atau mau dijadiin green screen sih, Sa?"

"Kurang ajar lo green screen, ini model belum tau aja" Tidak terima kaus dan celana nya di ejek

"Model dari mana itu" Ucap langit

"Udah-udah dari pada ejek-ejek bajunya sih Angkasa yang hijau green screen ini, mending masuk aja," Ntah ini itu untuk meleraikan atau mengejek secara halus.

"Lo ngejek gue Bin."

"Nah sebelum melakukannya kegiatan bermain basket ada baiknya kita melakukan stretching atau peregangan biar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan, " Kata Dipta

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


"Nah sebelum melakukannya kegiatan bermain basket ada baiknya kita melakukan stretching atau peregangan biar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan, " Kata Dipta

"Siap om"

"Siap ba"

Setelah itu mereka melakukan peregangan atau stretching, dengan dimulai dari peregangan kaki dan tangan, berlari-lari ditempat, dan peregangan lainnya.

Dipta melihat satu persatu dari mereka khawatir ada yang tiba-tiba kambuh kan gawat nanti nya.

Dipta melihat Matahari yang sedikit kelelahan lalu ia menghampiri Matahari, "Kelelahan? Istirahat aja disana" Kata Dipta

Matahari menggeleng, ''Gak papa om, lagi pula aku masih kuat kok" Kata Matahari sambil tersenyum.

Dipta menyentil dahi Matahari, "Kalo udah gak kuat jangan sok-sokan, udah sana duduk dibelakang. "

Matahari pun tidak bisa mengelak karena memang ia sudah sangat lelah dengan peregangan yang Om Dipta berikan.

Ntah kenapa Matahari juga merasakan apa yang Langit rasakan tadi pagi, ia merasa tubuhnya akhir-akhir ini menurun drastis, ia biasanya bisa melakukan aktivitas seperti biasa namun akhir-akhir ini turun tangga aja sudah bengek.

10 menit berlalu, akhirnya peregangan yang mereka lakukan selesai, kenapa lama sekali? Jawabannya banyak insiden didalamnya kalau dijabarin satu-satu bisa satu bab nanti.

"Sudah selesai kalian boleh istirahat sebentar lalu kita mulai permainannya" Kata Dipta

Mereka bertiga lalu membalikan badannya dan berjalan kearah sofa yang sudah dikuasai oleh Matahari.

"Enak-enakan lo tidur disini kita tadi sampai capek, padahal cuma peregangan doang" Ucap Langit

"Elah gue disuruh om Dipta, buat istirahat"

"Tapi kagak tidur juga kali." Ujar Bintang, dan Matahari hanya tersenyum dengan polosnya

" Ujar Bintang, dan Matahari hanya tersenyum dengan polosnya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

-sampai jumpa, salam pacarnya na jaemin-

-vote dan komen-

Cerita Kita - 00line dreamTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang