"Huhhh... huhhh..." Seorang pria yang tengah bersandar di sofa menarik nafasnya panjang, sambil sesekali mengusapi perutnya yang sudah membesar. Sangking besarnya, itu sudah terlihat ingin meledak, sekaligus menbuatnya kesusahan untuk bernafas. "Hahh...shhhh..."
Janu menggigit bibir bawahnya ketika merasakan tendangan yang pelan dan membuat pria itu tersenyum gemas, namun lama-kelamaan tendangan itu berubah jadi lebih kencang membut wajah pria itu mengerinyit karena merasa kesakitan.
TING!
Pria itu menoleh ke arah dapur saat mendengar bunyi mesin panggannya—menandakan kue yang ia panggang telah selesai dimasak. Dengan satu tangan yang berpegangan pada sofa, Janu bangkit dengan perlahan. "Ugh... Ya ampunn...."
Rasanya pinggang pria itu seperti dipatah menjadi dua, luar biasa sakitnya. Tidak hanya pinggang sebenarnya, namun kakinya yang membengkak semenjak hamil juga membuatnya kesusahan untuk menyembingkan tubuh. Dengan satu tangan yang menyangga pinggangnya, Janu perlahan berjalan menuju dapur untuk melihat hasil panggangannya.
Janu merasa sedikit menyesal karena memanggang roti, letak oven yang berada di bawah membuat pria itu harus berlutut untuk bisa mengambil kuennya. "Sssshhh...."
Janu meletakan dulu kue yang ia ambil dengan sarung tangan di atas oven, setelah menarik nafasnya panjang, pria itu kembali berdiri.
"Hahhhh..." desahnya lega ketika telah meletakan kue itu ke atas meja makan, sekarang pria yang hamil sembilan bulan itu tinggal mencicip kue hasil buatannya sendiri. makan sambil mencicipi kue hasil buatannya.
Janu kembali merasakan tendangan, kali ini tampa aba-aba sampai membuat kue yang ada di tangannya jatuh. "Huhhh... Bang, jangan ditendang dong." Lucu memang, anak Janu yang masih di dalam perut sudah dipanggil seorang Kakak.
Pria itu lalu menyenderkan tubuhnya di kursi meja makan, ia tidak lagi bisa lama-lama duduk dengan posisi tegak, punggungnya sekarang harus membutuhkan sandaran atau perutnya akan menjadi kram.
Janu tidak bisa membayangkan jika dirinya masih tetap bekerja dengan kondisi seperti ini, pasti Janu akan sangat menderita. Hamil itu benar-benar tidaklah mudah, apalagi ketika sudah mencapai minggu-minggu terakhir saat hendak melahirkan. Perutnya sekali sering merasa mules dan perasaan tak nyaman, menandakan ia sedang mengalami kontraksi palsu.
Setelah menghabiskan dua potong kue, Janu menatap ke arah jam yang ada di dinding. Sebentar lagi suaminya akan pulang, sambil mengusap perutnya, pria itu bangkit dari kursi dan berjalan menuju sofa.
CLEKKK!
"Sayang, aku pulang!" Janu yang hendak duduk di sofa mengurungkan niatnya, memilih mendatangi suaminya yang yang baru saja masuk.
"Sini tas sama jas kamu, biar aku yang bawain," ujar Janu pada sang suami namun langsung ditolak oleh Tristan. "Mas aja yang bawa sendiri, perut kamu udah gede banget."
"Perut kamu juga udah gede banget, Mas," kata Janu mendekat ke arah sang suami dan mengusap perut besar suaminya dibalik kemeja kerja.
Tristan meringgis, pria dominan itu kadang masih melupakan kondisinya sendiri. "Tapi kandungan Mas masih 7 bulan, Sayang."
"Kamu hamil anak kembar, Mas," tambah Janu lagi membuat Tristan yang mendengar itu menyerah. Pria itu sebenarnya juga capek, karena seharian harus bekerja. Namun hari ini adalah hari terakhirnya bekerja sebelum mengambil cuti.
"Ughh... hahh..." desah Tristan lega ketika berhasil menyandarkan tubuhnya ke sofa, rasanya benar-benar nikmat setelah seharian berjibaku dengan dokumen dan pulang pun harus terkena macet.
"Aku tadi manggang kue, kau cobain Mas," kata Janu sambil membawa kue dan segelar air untuk suaminya. Pria itu lalu duduk di samping Tristan, membuka satu-persatu kancing kemeja pria itu hingga nampaklah perut besar Tristan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Mpreg Stories
Fiksi UmumKumpulan cerita pria hamil / Mpreg *MPREG *BIRTHSCANE *18+ Tolong kalo ga suka tinggal skip Pic : twitter/@mpreg.pup
