4.

155 18 0
                                    

Flashback on.

Alesya dan Gina duduk anteng di kursinya seraya menatap fokus guru di depannya yang sedang menjelaskan materi pembelajaran.

Tapi konsentrasi Alesya sedikit terganggu karena perutnya yang terasa sedikit sakit. Ia masih berpikir positif kalau itu hanya sakit perut biasa. Namun demi memastikan ia harus mengeceknya sendiri.

"Sst, Gina" Bisik Alesya pada Gina yang berada di sebelahnya. Gina yang mendengar bisikan Alesya pun menoleh ke arahnya.

"Paan?" Saut Gina ikut berbisik.

"Sekarang tanggal berapa?" Tanya Alesya tetap dengan bisikan lirihnya.

"24, emang kenapa?" Ujar Gina.

"Perut aku sakit, tapi seharusnya sekarang bukan jadwalku" Ucap Alesya, Gina yang sudah mengerti apa yang di sebut 'jadwal' oleh Alesya tadi pun menyarankan sesuatu.

"Coba lo cek. kalo iya, lo tinggal chat gue. Nanti gue bawain" Saran Gina yang di setujui oleh Alesya.

Alesya berdiri dari kursinya hingga membuat Bu Naomi yang sedang menjelaskan menatapnya dengan tatapan bingung.

"Ada apa Eca?" Tanya Bu Naomi.

"Izin ke kamar mandi Bu". Ujar Alesya.

"Ya sudah, silahkan". Ucap Bu Naomi. Sedangkan Alesya yang sudah mendapat izin pun segera melangkahkan kakinya keluar dari kelas menuju toilet putri.

Setelah selesai ia keluar dari salah satu bilik kamar mandi dan membenahi rambut serta seragamnya yang agak berantakan akibat terkena angin saat di hukum untuk berdiri di bawah terik matahari.

"Kan bener. Jadwalku bukan sekarang, perutku sakit pasti cuma karena belum sarapan". Gumam Alesya pada dirinya sendiri.

Beberapa detik kemudian ia berjalan keluar dari toilet perempuan. Namun baru beberapa langkah menjauh dari toilet, ia mendengar suara pecahan kaca yang nyaring terdengar di telinganya.

Takut terjadi apa apa, Alesya memutuskan untuk mencari asal suara. Melangkah pelan mendekati suara yang tadi ia dengar.

Dan tanpa sengaja ia menabrak sesuatu yang lumayan keras mengenai kepalanya saat berada di belokan lorong.

"Sorry".

Flashback off.

Alesya membawa Alaska ke UKS, dan sesampainya di sana ia menyuruh Alaska untuk duduk di ranjang UKS yang tersedia. Alesya segera mencari kotak obat dan menyeret satu kursi mendekat ke hadapan Alaska dan duduk di kursi tersebut.

Tanpa mengatakan apapun Alesya meraih tangan Alaska yang terluka untuk ia obati dengan telaten. Membersihkan darah yang masih ada di sekitar tangan Alaska.

Menyemprotnya dengan sedikit antiseptik lalu mulai membalutnya dengan plaster medis. Terlihat begitu lihai dan teliti seorang Alesya mengobati luka di tangan Alaska.

"Selesai". Ujar Alesya ketika ia sudah selesai mengobati tangan Alaska. Ia segera berdiri dan membereskan kotak obat yang tadi ia gunakan lalu di kembalikannya ke tempat asal kotak itu berada.

Aneh. Satu kata yang Alaska pikirkan saat ini. Biasanya ia akan marah jika ada perempuan lain yang menyentuhnya kecuali keluarga.

Tapi kenapa sentuhan lembut Alesya terasa begitu familliar baginya. Oleh karena itu, ia sedari tadi tidak memberontak ketika Alesya mengobati luka nya.

"Makasih karena udah ngasih tau petugasnya kalau aku agak pusing tadi" Ujar Alesya dengan senyum manis khasnya yang jelas terpatri di wajahnya.

Alaska tetap dengan wajah datarnya. Ia tak bersuara apapun. Bahkan ia sudah berdiri dari tempat ia duduk dan melenggang pergi meninggalkan Alesya yang masih di dalam UKS.

ALASKATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang