6.

132 18 0
                                    

Udah sampe bab ini, tapi belum follow sm vote jg? Ckckck.

Jgn begitu y lain kli. Wtf men. 🙇‍♀️🙇‍♀️


***

"Jadi pacar gue, mau?"

Duarr.

Bak tersambar petir di siang bolong. Alesya menganga mendengar penuturan Alaska Yang begitu santai. Bahkan ia mengorek telinganya beberapa kali.

Takutnya, Alesya congekan. Merasa tidak ada Yang salah dengan pendengarannya, Alesya tak menyaut dan hanya mengerjap beberapa kali.

"Hah?" Beo gadis itu benar benar tak paham.

"Gak paham bahasa manusia?" Ujar Alaska datar.

"B-bukan, tapi... Maksud kamu, aku sama kamu... Pacaran? Aku pacar kamu dan kamu pacar aku gitu?" Tanya Alesya masih belum percaya.

"Tepatnya, cuma pura pura". Ucap Alaska.

Alesya hanya diam, menunggu cowok di depannya ini menjelaskan semuanya. Ia tak mau banyak bertanya. Ia ingin agar Alaska sendiri Yang menjelaskannya dengan rinci, apa maksud semua ini.

"Gue butuh Lo untuk jalanin misi gue. Lo cukup berpura pura jadi pacar gue di depan publik. Sebagai gantinya, gue bakal nurutin apa Yang Lo mau". Alaska menghela nafas sebentar.

"Di sekolah ini, ada Yang namanya Devin. Dia, orang Yang nyuruh gue buat jadiin Lo pacar. Gue sama dia memang udah bikin perjanjian tentang hal ini. Dan gue harap, sebisa mungkin Lo harus hindarin orang itu". Ujarnya setelah menjelaskan tujuannya.

"Kenapa harus aku?". Tanya Alesya.

"Karena gue milih Lo". Perkataan Alaska membuat gadis itu merenung.

"Anyway, semua ini ada hubungannya sama kakak gue juga. Lo tinggal bilang mau atau engga. Kalo Lo gak mau, gue bisa cari or-

"Gue mau!" Ujar Alesya menatap wajah Alaska penuh keyakinan. Mendengar jawaban Alesya, cowok itu tersenyum miring, senyuman miring Yang sangat tipis.

"Hm, gue Yang mengawali semua ini. Dan gue juga yang akan mengakhiri". Ujarnya datar seakan memperingati, bahwa semua ini akan berakhir.

Setelah mengatakan itu, Alaska berlalu pergi dengan satu tangan di masukkan ke saku celana. Dan ranselnya Yang hanya ia sampirkan di bahu kanannya.

Alesya menatap punggung tinggi dan kokoh itu dengan tatapan Yang sulit di artikan.

"Di mulai dari sekarang?" Celetuk Alesya, dan Alaska hanya mengangkat jempolnya lalu tetap melangkah tanpa menoleh sedikit pun.

Usai punggung tinggi Alaska menghilang di balik tembok. Alesya menunjukan senyum manisnya. Ini semua bukan mimpi, ia nyata menjadi pacar seorang Alaska.

Cowok Yang bertahun tahun telah bersemayam di hatinya. Walaupun hanya sekedar pacar pura pura. Ia tak merasa sedih sama sekali. Malahan sangat bahagia.

Ia memang sudah lama menyukai Alaska. Ia kira sekedar untuk berinteraksi dengannya adalah hal Yang tidak mungkin akan terjadi.

Tapi sekarang, ia senang bisa membantu cowok itu, walaupun Alesya tak mengerti apa tujuan pastinya.

Yang penting ia senang bisa membantunya, asal kalian tau, Alaska sudah sangat banyak membantu Alesya dulu.

Dan sekarang ia bertekad akan membalas perbuatan baik Alaska padanya. Setelahnya Alesya ikut melangkah meninggalkan rooftop. Dan berjalan santai menyusuri koridor sekolah Yang mulai tampak sepi.

ALASKATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang