* u/ StellaReynard yang pingin adegan romantis, tidak lama lagi ya~ *
Udara malam yang dingin selalu membuatnya merinding terutama di bagian lengan, namun saat Andin melangkah keluar dari balkon, dinginnya bak tamparan di wajah, mengusir beberapa kabut yang disebabkan oleh champagne di sekitar kepalanya. Andin bersandar pada balkon, meletakkan dua gelas penuh dan satu gelas kosong di atas meja kayu kecil di sampingnya lalu memandang ke halaman. Halaman mansion Sebastian tampak luar biasa, gadis itu dapat melihat seberapa baik bosnya merawat rumahnya atau lebih tepatnya, seberapa baik Sebastian membayar halamannya untuk dirawat. Bunga-bunga berkilauan dalam cahaya dan jalan batu putih berkelok-kelok di sekitar taman, berkelok-kelok melalui tanaman yang mekar dan putaran air mancur yang bersinar lembut.
Sangat menyedihkan bahwa semua ini hanya untuk satu orang. Itu membuatnya bertanya-tanya betapa kesepiannya dirinya jika harus tinggal di tempat seperti ini sendirian. Andin bertanya-tanya apakah terkadang Sebastian merasa kesepian. Gadis itu menyesap sampanyenya perlahan dan membiarkan pikirannya mengembara. Senang rasanya bisa menyendiri di sini sejenak, jauh dari pandangan mata yang menghakimi dan penuh tuduh di dalam.
"Andin."
Gadis itu berkedip dan berbalik, samar-samar menyadari, bahwa ia hampir menghabiskan kedua gelas yang telah dibawanya kemari. Berpaling mendadak membuatnya sedikit goyah dan ia mengutuk sepatu highheels-nya yang dipakainya atas permintaan Damon. Akhirnya, gadis itu menyesali betapa dirinya telah minum malam itu dan mencengkeram pagar lebih erat lagi.
Dilihatnya bosnya berdiri di sana, setelan jas pria itu disetrika dengan sempurna, rambutnya ditata rapi ke belakang bak model GQ, dan mata birunya dalam dan tak terduga seperti biasanya. Tidak ada senyum di wajah pria itu. Sebaliknya, bibirnya ditekan menjadi garis tegas.
Pada detik itu juga, Andin bertanya-tanya apakah pria itu marah padanya, lalu segera menepisnya. Jika ada, seharusnya dirinyalah yang berhak untuk marah. Pria itu telah membawanya ke sini di mana seluruh keluarganya menghakiminya dan menganggapnya kurang layak. Yang tentu saja menorehkan luka pada kepercayaan diri gadis itu.
"Kau! Kau!" Andin ingin berteriak rasanya namun ia tekan dalam-dalam perasaannya itu dan menarik napas dalam-dalam. "Sir," ujar Andin, berdehem dan menelan ludah. "Mengapa kau meninggalkan pesta?"
Alih-alih menjawab pertanyaannya, Sebastian justru menutup celah di antara mereka lalu mencondongkan tubuh ke depan sampai dahinya hampir menyentuh dahi Andin. "Aku bukan Sir untukmu malam ini, Andin, ingat?"
Kemudian senyum geli di wajah pria itu segera digantikan oleh cemberut. "Aku tidak ingin berada di dalam sana," kata Sebastian singkat, dan Andin terkejut dengan nada suara Sebastian yang kasar. Ekspresi pria itu kemudian melembut tatkala ia menatap Andin dengan sedih. "Aku akan mengantarmu pulang."
Yang gadis itu inginkan sejak ia menginjakkan kaki di tempat ini adalah pergi. Tapi ketika mendengar bosnya berkata bahwa pria itu akan mengantarkannya pulang sangatlah tidak terduga sehingga yang bisa gadis itu lakukan hanyalah menatapnya dengan bingung. "Tapi ini pesta ulang tahun adik perempuanmu," katan Andin, "yang diadakan di rumahmu. Kau tidak bisa begitu saja pergi."
"Yah, mereka dapat menemukan pintu keluarnya jika mereka mau pulang," kata Sebastian enteng.
Gadis itu pasti tidak membayangkan geraman dalam ucapan Sebastian sekarang. Pria itu tampak tidak senang tetapi bukan padanya. Anehnya, Sebastian justru marah pada para tamu - teman, dan keluarganya. "Melihat mereka memperlakukanmu malam ini, mereka beruntung aku membiarkan mereka semua tinggal di sini dan tidak menendang mereka detik ini juga."
Andin nyaris tersedak napasnya. Apakah Sebastian marah atas perlakuan yang diterima Andin? Gadis itu tidak mengharapkan itu. Ia merasakan air mata menggantung di matanya. Andin tidak menyadari sampai saat itu, betapa khawatirnya dirinya sebenarnya kalau pria itu mungkin benar-benar berpandangan yang sama seperti keluarga dan teman-temannya.
"Ayolah," kata Sebastian akhirnya, nadanya kali ini jauh lebih lembut. "Biarkan aku mengantarmu pulang, Andin. Aku akan menebusnya untukmu. I promise."
Sejujurnya, pria itu sudah menebusnya. Andin tersenyum gemetar dan menggapai lengan pria itu lalu membiarkan Sebastian membimbingnya kembali ke dalam rumah. Mereka berjalan terus dan mengabaikan semua orang yang menatap.
"Kemana kau akan pergi?" Ibu Sebastian memanggil, akhirnya bertanya saat mereka hampir sampai di pintu.
"Keluar," kata Sebastian singkat. Kemudian tanpa sepatah kata pun, mereka melangkah kembali ke luar, pintu depan tertutup rapat di belakang mereka.
Akhirnya, Andin merasa dirinya bisa bernapas lagi, dan ia mengikuti dengan patuh saat Sebastian membimbingnya ke mobil hitam. Pria itu membukakan pintu untuknya kemudian masuk ke kursi di belakang kemudi.
"Kau bisa menyetir?" celetuk gadis itu dan seketika menyadari betapa bodohnya pertanyaannya. Tentu saja, Sebastian bisa. Pria itu telah mengantarnya sebelumnya dalam perjalanan dari kafe. Namun pria itu hanya menyeringai.
"Aku tidak selalu diantar sopir," candanya, membuat Andin tertawa.
Perjalanan kembali ke apartemen Andin berlangsung singkat dan gadis itu setengah berharap Sebastian menurunkannya di samping jalan sehingga pria itu bisa segera kembali ke keluarganya, terlepas dari apa yang pria itu katakan sebelumnya. Sebaliknya Sebastian malah menyetir dengan hati-hati ke tempat parkir tamu dan membantu Andin keluar dari mobil.
"Aku tahu ini mungkin tidak pantas, tetapi apakah kau keberatan jika aku tidur di sofamu?" Sebastian bertanya ketika mereka melangkah ke dalam lift dan Andin hampir menjatuhkan segerombol kunci yang ia pegang tatkala dirinya tengah mencoba mencari anak kunci untuk membuka pintu depan flat-nya.
"Apa?" gadis itu terperanjat, hampir tidak percaya dengan apa yang ia dengar barusan. Ia pasti salah dengar.
* * * * * * *
A/N: nah lhoh, kira2 jadi nginap gak nih?
KAMU SEDANG MEMBACA
dear mister summers
RomanceSemuanya berawal dari sebuah gaun merah dan secarik surat pengunduran diri ... ******* Selama lima tahun Andin menjadi sekretaris Tuan Sebastian Summers, dan ha...
