***
Dua pasang mata itu saling menatap dari arah yang berjarak cukup dekat, bahkan Luna seperti tak sadar membiarkan tubuhnya turun berjongkok memperhatikan terus roman si wanita di dalam sel tersebut yang menjadi terlihat menunduk nan bahkan menjadi terdengar menangis disimpuhan putus asanya.
Luna diam tak bisa tiba-tiba menyapa apalagi menjadi menghiburnya. Ia perlahan berdiri kembali, mundur dan pergi.
Namun bukanlah pergi tanpa peduli, melainkan membawa tungkai kakinya melangkah mendatangi bujuran sebuah meja, yakni tempat pelaporan kasus.
"Saya minta berkas penangkapan perempuan di sel ujung kanan itu." ujarnya kepada polisi disana yang kemudian tak lama berkaspun disodorkan kepada Luna, lalu ia membuka dan membacanya.
'Penangkapan dilakukan di Bandara Soetta tadi malam atas nama Lota Melia'. Kornea mata Luna agak menyipit membaca nama Lota di dalam berkas itu yang tak lain sama dengan nama mendiang adiknya, maka ingatanpun memulas lagi pada alam masa lalunya untuk beberapa saat.
'Alasan penangkapan dilakukan karena Lota Melia terlaporkan mengantongi sebuah Green Card dari salah satu tersangka teroris yang kini masih dalam incaran pihak kepolisian... maka, Lota Melia pun di duga sebagai salah satu dari komplotan tersangka teroris itu.'
Meregangkan keningnya, Luna mengangguk-ngangguk mengerti, dan ia memberikan kembali berkas tersebut kepada polisi. Tak lama dari itu ia melangkah menuju ruangan sang ayah angkatnya, jemari Luna mengetuk dan ia masuk kedalam ruangan itu.
Terlihatlah sosok gagah pria bernama Komisaris Latif Basyari sang ayah yang tengah duduk di kursi kerjanya, dan sang komisaris pun melambai kepada Luna.
"Mari Nak sini." serunya seraya berdiri.
Luna berhormat nan tentu mendekati. "Pak." angguk segan Luna.
"Kebiasaan manggil bapak jika di kantor? Panggil papa saja, kita kan cuma berdua disini Nak." rangkulnya dan mengusap punggung sang anak.
"Iya Pah..." manggut Luna kembali.
"Oya, gimana kondisi di Istana Negara saat ini? Tetap kondusif?" sambung tanya sang ayah.
"Semuanya aman Pah." yakin Luna.
"Teroris sudah mulai berulah lagi di negara ini. Peristiwa bom bunuh diri kemarin mencengang kewaspadaan kita kembali. Penyelidikan harus semakin di gencarkan, pintu keluar masuk di setiap bandara dan laut tak boleh sedikitpun lengah dari pemeriksaan." jelas sang komisaris.
Luna tentu manggut-manggut mengerti seraya benak yang terlintas kepada si wanita di dalam sel.
"Seorang wanita asing di sel nomer 34, apakah memang sudah terbukti bersalah Pah? Luna ingin melakukan interogasi, jika di izinkan." ungkap Luna bernada tegas nan segan walau itu kepada ayahnya.
"Masih menjadi tertduga. Baiklah, lakukan saja. Papa selalu yakin kamu selalu mampu memecahkan setiap teka-teki di dalam otak pelaku kejahatan, Nak. Jika perempuan itu terbukti sebagai salah satu dari mereka, ini dapat memudahkan kita untuk bisa melacak keberadaan markas tersembunyi para tersangka teroris itu." tepuk sang ayah kembali dengan bangga.
___Maka interogasi pun dilaksanakan oleh Luna. Hanya berdua di dalam satu ruang minim cahaya, wanita berambut panjang agak pirang itu duduk berpeluh di satu kursi disana, wajahnya menunduk, jemarinya gemetar menahan rasa takut, nafasnya terdengar agak sesak di ruang dada si wanita, Luna bisa merasakannya.
Namun tugas adalah tugas, meskipun di dalam dasar hati Luna merasa kasihan, dia tetap harus bersikap tegas.
Berdiri seraya menyilang tangan di dada di hadapan sigadis Lota Melia yang duduk, Luna menggeser satu kursi tepat di depan tertuduh, Luna pun duduk disana.

KAMU SEDANG MEMBACA
LUNA & LOTA
Fantasy'LUNA' = Polisi Wanita yang Sumpahnya Melindungi Negara dan Perempuan. Hingga diapun bertekad harus melindungi Lota, sosok yang dianggapnya adik pengganti adiknya yang sudah mati. Namun adik angkat yang diam-diam jatuh hati pada Luna. Apa reaksi Lun...