***
"Apa??" diantara percaya tidak percaya isi kepala Luna terasa runyam seketika. "Dimana kamu sekarang Lota??" Luna amat resah, namun sebelum dijawab oleh Lota, Leonardo Hugo yang bersuara, karena memang dia yang memegang ponselnya Lota."Lepaskan pria yang bernama Labib Azhari, jika anda mau perempuan ini selamat." seru Hugo bernada santai.
Sipit pandangan Luna mengingat si pria yang kemarin ia tangkap, nafas ditariknya kasar. "Jika kau lukai Lota sedikit saja Hugo, saya habisi kamu." rekat geremat giginya Luna menahan marah.
"Hahahh! Dilukai? Jika saya mau, saya bisa lakukan apapun terhadap Lota Melia, anda tau itu Ibu Polisi? Dia pacar saya, dia milik saya." seraya laki-laki itu tanpa ragu mencium bibir Lota begitu saja yang tubuhnya sudah ia ikat di garis tiang, terdengar suara Lota berteriak.
"Don't touch me, Bastard!" tolak dengus Lota bahkan meludahkan bekas ciuman itu di depan Hugo.
Luna semakin bernafas sesak, ia menekan tombol video agar sambungan tersebut menjadi video call, tapi tidak diterima oleh Hugo.
"Lota? Kamu dimana Lota??" gundah sambil gegas berlari keluar dari istana, Luna begitu tak mampu sabar dan itu dapat diperhatikan oleh Liam Prayoga dari kejauhan, Luna Jenna masuk tergesa kedalam mobilnya.
"Saya benci sekali pacar saya lebih memilih anda daripada saya! Dengar Luna Jenna, jika anda tidak menyerahkan Labib Azhari, si pria yang anda tangkap itu dalam waktu 24 jam dari sekarang, saya habisi Lota Melia disini! Paham anda?!" sambungan ditutup, dan tak lama kemudian kiriman lokasi pun muncul di layar ponsel Luna.
Sang polisi membanting stir, ia mengusap kasar keningnya dan segera melaju meninggalkan istana, yang itu tentu menuju ke arah penjara.
"Sudah berani ya rupanya kamu meludahi aku, Sayang?" namun sambil menjambak rambut Lota, si pria berurat kesal merasa sudah dihina, namun lagi-lagi bibirnya Lota justru malah diciumnya kembali, alhasil Lota Melia kini... menggigit seketika bibir itu dengan kencang.
"Ahhh!" teriak Hugo kesakitan, puncak bibirnya berdarah.
"Binatang penjilat seperti kamu memang pantas untuk diludahi Leon. Kau tidak pantas menyentuhku lagi! Camkan itu!!" lantang Lota sambil melotot, dan ia ditampar keras oleh Hugo.
"Pakkk!!" upuk bibirnya Lota kini yang berdarah, ia melumat gemetar bibir berdarahnya menahan sakit seraya menangis dengan pelan di dalam ikatan itu "Luna..." ringis Lota.
***
Tanpa ragu Luna membuka pintu sel si pria besar dan menariknya keluar. Tak ada yang berani bertanya kepadanya, karena jika roman wajah sang polisi tangguh ini sedang dalam nanar dan marah, Luna tak bisa dihentikan.
Ia menjiwir kerah yang bernama Labib Azhari itu menuju mobil Jeep nya dan membawanya pergi, Luna tak mau buang waktu karena keselamatan Lota adalah lebih penting baginya.
***
"Kamu yakin si polisi perempuan itu akan kesini nyelametin kamu Lota hah? Aku tidak yakin itu, hahahah." cibir Hugo berkesan berbalik meremehkan, dan itu disaksikan oleh para komplotannya.
"Dia akan datang, dia akan bawa aku dari sini dan habisin kalian semua." jawab sedu sedan Lota.
"Hahahah!! Dan sebelum dia bisa masuk kemari, Duarr!! Kita akan menghabisinya lebih dulu Lota hahhah!" seraya melangkah mengambil sebuah pistol di atas meja lalu ditodongkan nya di kepala Lota. "Ayo Honey sadarlah, tidak ada gunanya membela polisi ingusan itu. Sebaiknya kau bergabung saja dengan kita! Maka setelah presiden yang aku incar itu sudah mati, kita akan pulang ke Amerika, mencairkan hartamu dan uangku juga akan kembali, dan kita bisa hidup bahagia berdua selamanya Sayang..." lagi dan lagi Leonardo Hugo mendekat nan memeluk Lota Melia, tetapi arah tengah selangkangan si pria tiba-tiba ditendang oleh sebelah paha Lota.

KAMU SEDANG MEMBACA
LUNA & LOTA
Fantasy'LUNA' = Polisi Wanita yang Sumpahnya Melindungi Negara dan Perempuan. Hingga diapun bertekad harus melindungi Lota, sosok yang dianggapnya adik pengganti adiknya yang sudah mati. Namun adik angkat yang diam-diam jatuh hati pada Luna. Apa reaksi Lun...