16. Broken Feelings

378 112 73
                                    

Maaf baru mampu up 🙏🏻🙏🏻🙏🏻

***


"Maksud Papa gimana Pah?" lontar Luna bertanda tanya besar.

"Iya Luna. Kemarin malam Jenderal Angkasa hubungin Papa dan beliau bicarakan soal ini. Papa gak mungkin menolak kan Nak?"

Wajah Luna tegang, ia dengan cepat meraih punggung Lota yang tiba-tiba batuk itu, diusapi olehnya. "Kamu gak apa-apa Lota?" kernyit Luna, dan Lota Melia berusaha hentikan sendatnya. "Luna rasa, ini terlalu terburu-buru Pah." kembali berkata kepada ayahnya.

Lota Melia menunduk, jemari tangannya mengepal karena gemetar dan digenggam oleh Luna, namun kondisi tersebut tak sempat diperhatikan oleh ayah ibunya karena bersamaan dengan itu suara klakson nyaring terdengar dari arah gerbang masuk, yang artinya Liam dan keluarganya... sudah tiba.

Luna Jenna mengerjapkan mata bingungnya, ia yakin sesuatu yang tidak di harapkan akan segera bermuara.

Maka terlihat pintu-pintu tiga kendaraan itupun terbuka, Liam bersama keluarganya turun di kendaraan paling depan sedangkan sosok Jenderal Angkasa yang amat disegani itu ada di kendaraan kedua bersama istri juga anaknya, sementara yang muncul dari kendaraan terakhir adalah sanak saudara mereka yang pula ingin ikut mengantar menjadi saksi.

"Selamat datang Pak! Mari-mari silahkan masuk silahkan masuk." seru smuringah Komisaris Latif seraya melangkah menghampiri mereka, merangkul Liam Prayoga si calon menantunya dengan bahagia, dan bersalaman beliau kepada semua tamunya itu.

Menelan ludah kasar Luna Jenna pun segera lebih tegak bersigap di posisi berdirinya sewajar seorang polisi menghormati para pejabat-pejabat tinggi.

Sementara Lota seperti yang menjadi tidak enak diam, ia bahkan beranikan diri berkata kepada ibunya Luna, "Bu, ssaya boleh numpang ke toiletnya? Saya pengen ke toilet." ucapnya agak gugup.

"O tentu Nak. Kamu pakai toilet di kamarnya Luna saja ya, ada di lantai atas, yang pintunya paling besar, itu kamarnya Luna, atau ayo Ibu anter."

"Biar saya sendiri aja Bu saya bisa kok." mengangguk santun samarkan patah hatinya, gegas masuk segera naik tangga tepat menuju kamar Luna dan ia pun masuk, mematung sejenak bersandar di balik pintu dan lalu airmata pun tak bisa ditahannya lagi ingin tumpah keluar, Lota Melia menangis pelan di sana bahkan hingga tersedu-sedu sesak di dalam rongga dadanya.

Seraya pun berjalan menuju Luna setelah dirangkul komisaris si calon mertua, Liam Prayoga terlihat seakan enggan untuk berkedip tatkala perhatikan penampilan Luna yang mengenakan dress itu sempurna sebagai seorang wanita, pria muda tersebut tersenyum simpul kepada Luna.

"You look so gorgeous, Luna." sapa terpesonanya sembari sodorkan buket bunga mawar merah muda di tangannya, dan Luna tak mungkin pula bisa menolak, dengan menahan nafas ia menerimanya namun tanpa berucap sepatahpun karena bahkan pandangannya hanya berkali-kali mendongak pada arah jendela kamar miliknya, berpikir resah untuk Lota.

"Komandan Luna, apa kabar? Sudah sehat benarkan sekarang?" sapa jenderal yang juga menghampiri dan mengusap di pundak Luna, sementara yang lainnya pun saling bersalaman.

"Saya sehat Pak." sigap Luna.

"Tak perlu bersigap begini, kita bukan dalam bertugas kan hahaha... gimana, gimana Nak, sudah siap kan untuk ikut Flying Pass nanti?"

"Luna siap Pak." lagi-lagi ia hanya mampu menjawab sebisanya, keadaan benak hatinya gugup, dan hanya khawatir mengenai Lota.

Semuanya pun masuk bahkan langsung menuju ruang makan karena sudah waktunya untuk makan malam.

LUNA & LOTATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang