CHAPTER 01

9.5K 437 9
                                        

Bagian hidup yang bahagia adalah, merasakan kebebasan yang amat.
-Serayu.

••• HAPPY READING •••

Hari indah dengan lintasan tak kasat mata yang menyapu wajah Ratih ketika gadis itu membuka jendela kamarnya. Bibirnya membantu sebuah senyuman yang indah bagai bulan sabit di kala gelap, matanya terpejam menikmati sejuknya hembusan angin di pagi hari yang kini mulai menusuk pori-pori kulitnya.

Wajahnya berseri karena baru saja selesai mandi, hari ini ia akan pergi ke taman bunga. Karena rumah nenek dan kakek berada di atas perbukitan, ia akan pergi dengan naik sepeda agar cepat, lantaran jarak taman bunga tempat dirinya bermain cukup jauh. Berada di bawah, di kawasan yang lebih datar.

Ratih membenarkan letak hijabnya. Hari ini ia memakai baju putih dengan rok panjang berwarna pink, begitupun hijabnya yang berwarna pink. Ia memakai sandal bermotif imut berwarna putih, dan kaos kaki berwarna hitam, terlihat sangat segar dan cerita Ratih dan penampilannya hari ini, membuat siapa saja pasti bisa melihat bahwa hati riang si gadis sedang berbunga lebat.

Jendela yang tadi terbuka, kini kembali seperti semula. Tertutup rapat tanpa ada celah mahluk lain mampir ke kamarnya. Ratih takut, jika kejadian beberapa Minggu lalu terulang. Di mana saat ia pulang setelah mengajari anak-anak desa mengaji, ia menemukan dua lebah yang beterbangan di kamarnya sambil memutari tanaman bunga yang ia letakkan tepat di samping jendela kamar.

Setelah selesai menutup jendela kamar dan merapihkan kembali tempat tidurnya yang sempat berantakan lagi. Ia keluar dari kamarnya untuk berpamitan kepada kakek dan nenek.

"Kakek, nenek, Ratih izin dulu."

Kakek dan nenek yang sedang duduk santai di ruang televisi sambil melihat film itu menoleh pada Ratih secara bersamaan, "kau ingin pergi kemana?" Tanya nenek.

"Aku ingin pergi ke taman bunga."

"Ya sudah, Dzuhur harus segera pulang."

"Baik kakek."

Ratih menyalimi tangan kakek dan nenek setelah mendapatkan izin dari mereka. Tanpa menunggu waktu semakin siang, ia pun berjalan keluar dari rumah. Setelah itu ia mendorong sepeda nya yang terparkir di halaman rumah.

Ratih naik ke atas sepedanya, lalu mengayuhnya dengan pelan. Tadi malam hujan sempat hadir menyapa mimpi mereka, sehingga di pagi hari jalanan menjadi sedikit licin.

Di perjalanan, Ratih sesekali tersenyum saat warga menyapanya. Dengan mengayuh sepeda, Ratih bersenandung ria. Ia nikmati semua yang ia rasakan saat ini. Nafas, hidup, rezeki dan damai nya alam tanpa campur tangan orang-orang serakah.

••••••

"Kalian datang?" Sambut nenek kala melihat anak pertamanya datang dengan istri dan cucunya.

Ketiga manusia yang baru saja turun dari mobil itu hanya tersenyum tipis seraya mengangguk kecil.

"Mari masuk, opa di dalam."

Mereka bertiga kembali mengangguk, lalu mengikuti nenek Zena yang berjalan kedalam.

Setibanya di dalam, mereka semua duduk di ruang keluarga. "Apa kabar, Rizhard."

Serayu|Proses Revisi Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang