CHARGER 13

5.7K 423 9
                                        

"kau darimana saja?"

Baru saja Leonard datang dengan Kay di pangkuannya, Almisa turun dari tangga mansion dengan wajah cemasnya. Tubuh kecil perempuan itu berlari menghampiri keduanya yang berada tak jauh dari tangga.

Leonard menurunkan Kay, ia mendudukkan bocah itu di sofa. Matanya menatap Almisa yang terlihat begitu cemas.

"Tadi paman dan bi-"

"Aku habis menjemput Kay dari pondok," potong Leonard cepat.

"Dari pondok?"

"Ya." Angguk Leonard. Pria itu menatap Kay dengan serius, "Kay pergilah main, paman ada urusan." Ucap Leonard secara tidak langsung mengusir dengan halus. Bisa gawat jika bocah itu bicara sesuatu yang bisa membuat hubungan mereka hancur.

"Baik paman."

"Anak pintar." Leonard tersenyum. Setelah kepergian Kay, Almisa menggandeng tangan Leonard. Membawa pria itu duduk di sofa.

"Aku mencarimu kemana-mana pagi ini, aku khawatir!" Tegas Almisa. Pasalnya, tadi malam dia bermimpi sesuatu yang seharusnya tidak ia impikan. Sesuatu yang membuat hatinya hancur tidak terbentuk.

"Aku tidak kemana-mana, Misa."

"Lalu? Kau ke pondok kenapa lama sekali? Ini sudah hampir siang, Leo!"

"Tenanglah, Almisa. Aku lama karena aku menunggu Kay di mandikan oleh pelayan itu." Jelas Leonard penuh kelembutan dan kehati-hatian. Padahal ia tidak menunggu apa-apa. Kembali ke pondok dengan membawa baju ganti Kay lalu sarapan bersama mereka berdua. Tidak ada yang di tunggu olehnya. "jangan marah lagi, aku minta maaf." Ucap Leonard membawa Almisa dalam dekapannya. Di dalam dekapan itu, Leonard merasakan kepala Almisa mengangguk kecil. "Kau sudah makan?"

Almisa melepaskan pelukan mereka, "belum, aku menunggumu."

"Yasudah, cepat makan."

"Kau tidak makan?"

Leonard menggeleng, "tidak, aku akan makan nanti." Tolaknya. Padahal sebenarnya, perutnya saja yang sudah terisi makanan, mana bisa lapar lagi.

"Temani."

Leonard tersenyum, "baik."

Mereka berdua beranjak dari ruang tengah. Pergi ke ruang makan bersama. Almisa tidak menanyakan apa-apa, itu bagus. Ia takut jika Almisa menaruh curiga padanya, yang berakhir membuat semuanya runyam.

••••••

Disore hari, Ratih kembali dari kebun dengan membawa sayuran. Hari ini sepertinya ia akan membuat salad sayur untuk cemilan malamnya. Biasanya, Ratih akan membuat salad buah. Namun dikarenakan buah yang di panen hari ini tidak banyak dan tidak beragam, jadi ia tidak bisa membuatnya.

Saat Ratih sudah sampai di depan pondok, ia melihat sosok pria dengan gagah berdiri membelakanginya. Dengan langkah cukup takut, Ratih menghampiri pria itu.

"Permisi, maaf ada yang bisa saya bantu?" Ucap Ratih hati-hati.

Pria itu menoleh kearahnya, seketika Ratih mundur karena terkejut.

"Jangan takut, aku Mike kakak Leonard."

Ratih mengusap dadanya yang tiba-tiba berdebar karena keterkejutannya. Ratih membukukan tubuhnya sebagai hormat.

"Jangan." Cegah Mike, ketika melihat Ratih ingin memberi hormat padanya, "jangan seperti itu, kau adik iparku."

"Maaf tuan."

"Tidak papa," jawab Mike.

Ratih menganggukkan kepalanya, "mari duduk." Ajak Ratih. Gadis itu berjalan kearah kursi yang ada di teras pondok. Ia meletakkan sayuran yang ia bawa tadi di meja.

Serayu|Proses Revisi Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang