"Misa."
"Ya?"
Almisa menoleh kearah Leonard yang sedang membawa koper miliknya. Hari ini adalah kepergian Almisa ke Korea. Padahal waktu liburannya kesini, perempuan itu bilang akan cukup lama di Indonesia. Namun, karena perempuan itu seorang model. Ada sesuatu yang harus ia lakukan dengan secepat mungkin. Pekerjaan-Nya tidak bisa di tunda. Almisa harus sudah tiba di Korea besok.
"Aku-"
"Ada apa?"
"Aku, aku—" Leonard mengigit bibirnya bawah-Nya karena gugup. Apa ia harus mengatakan sejujurnya? Tapi ia juga tidak ingin kehilangan perempuan cantik di hadapannya.
"Kau ingin berbicara sesuatu?" Tanya Almisa, seketika Leonard langsung mengangguk, "aku juga."
"Kau ingin berbicara sesuatu?"
"Benar." Ucap Almisa dengan suara yang sedikit gemetar.
"Kita duduk dulu."
Mereka berdua berjalan kerah sofa dengan semua pembicaraan yang harus di rangkai agar semuanya bisa jelas dan bisa di pahami masing-masing.
"Misa, ak-aku.." jantung Leonard berdetak lebih cepat. Pikirannya terus berkelana tanpa arah.
Terdengar kakehan dari Almisa. "a
Aku sudah tau."
"Kau tau?" Almisa mengangguk kecil. Mata perempuan itu sudah memerah. Namun, sebuah pusaran kecil di pelupuk matanya belum terjatuh.
"Apa yang kau tau?" Tanya Leonard memastikan. Wajahnya terkejut, dan hatinya, kian berdebar lebih kencang.
"Soal hubunganmu dengan gadis itu," ucap Almisa. Pertahanan perempuan itu runtuh. Gemericik itu kian turun membasahi lembutnya pipi tanpa noda. "Aku tau jika kau dan gadis itu akan menikah bulan depan."
"M-menikah?"
Almisa menganggukkan kepalanya. "Tadi malam setelah kau pergi dari meja makan, kak Mike ngatakan semuanya. Kau dan gadis itu telah di jodohkan satu Minggu sebelum aku kesini. Dan bulan depan kalian akan menikah."
"Misa.." saat Leonard ingin memegang tangan Almisa. Perempuan itu melepaskan dengan hati-hati. "Maaf."
"Tidak apa-apa. Walaupun aku kecewa tapi ini juga bukan keinginan mu, aku tidak ingin menjadi pengganggu untuk kalian berdua dimasa depan. Aku akan pulanh hari ini, dan hari ini pula kita selesai, Leo." Almisa meremas dress nya kuat, menahan sesuatu yang entah kenapa rasan begitu sakit.
"Maaf."
"Aku memaafkan mu." Almisa menghapus air matanya. Ia beranjak dari posisi duduknya lalu mengambil koper yang berada di samping Leonard.
"Leo."
"Ya?" Leonard berdiri, tubuhnya menghadap Almisa.
"Apa aku boleh, untuk terkahir kalinya merasakan pelukan mu?" Tanpa jawaban apapun, Leonard langsung memeluk Almisa erat. Perempuan itu menangis sejadi-jadinya di pelukan Leonard, ini adalah perpisahan yang cukup menyakitkan bagi keduanya. Karena setelah ini, semuanya selesai. Momen-momen itu akan hilang dibawa kenangan yang pahit. Hal manis itu tidak ada, mimpi mereka untuk selamanya hanya sebuah keinginan yang tidak pasti. Tidak nyata. Pahit. Menyakitkan untuk hati yang telah lama berpisah oleh jarak, lalu hancur terpisah jauh oleh keadaan.
"Tentu."
Mereka berpelukan cukup lama disana, tanpa mereka sadari bahwa ada seseorang yang mengira bahwa mereka menangis karena akan berpisah lagi. Terlihat indah, romantis, walau menyakitkan. Andai, jika ia pergi, ia akan di tangisi oleh Leonard. Layaknya Almisa.
KAMU SEDANG MEMBACA
Serayu|Proses Revisi
SpiritualSegudang luka yang di alami seorang gadis berusia 20 tahun. Saat nenek dan kakek yang mengurus nya sejak lima tahun lalu ketika orang tuanya pergi untuk selamanya, membicarakan keinginannya untuk menjodohkan ia dengan cucu sang nenek, di sanalah pen...
