Indahnya dirimu, karena itu adalah kamu.
••••••••
Satu Minggu berlalu dan kini Ratih hanya bisa terduduk sepi di kamarnya. Hari masih siang dan ia mulai merasa bosan. Biasanya, ia akan pergi ke dapur namun karena kesalahan kemarin saat ia memasak dan tak sengaja menjatuhkan panci berisi air mendidih hingga melukai kaki dan tangan nya membuat Leonard naik pitam. Pria itu memarahi kecerobohan Ratih karena rasa terkejut saat pulang dari kantor ia menemukan perempuan kesayangan nya terluka, dan tidak hanya itu Leonard juga melarang Ratih untuk pergi ke area dapur. Pria itu juga mengancamnya, jika ia pergi ke dapur maka semua para maid yang bekerja akan pria itu pecat.
Rasa bosan itu kian merajalela, namun, Ratih tidak ingin waktu luang yang ada ia biarkan sia-sia. Saat ini, setelah mendapatkan kabar bahwa Kay dan kakak iparnya akan pulang ke Indonesia hari ini. Tadi, ia mendapatkan kabar dari Leonard bahwa Kay menelpon nya saat di dalam mobil menuju bandara untuk pulang melepas rindu kepada Daddy dan mamanya di Indonesia. Entah kenapa, Ratih merasa senang sekali mendengar bahwa Kay begitu merindukan nya. Anak manis nan menggemaskan itu seolah memiliki magic untuk membuat orang suka padanya.
Karena perjalanan Kay pasti lama dan melelahkan, dan kemungkinan ia akan sampai di Indonesia esok hari. Ratih bangkit dari terdiam nya. Ia keluar dari kamar untuk mencari bibi Nahla.
"Bibi Nahla." Panggil Ratih ketika ekor matanya menemukan keberadaan bibi Nahla yang ternyata sedang mengelap lukisan-lukisan yang menempel dinding ruang tamu.
Wanita tua itu menoleh pada Ratih, ia tersenyum hangat. "Ya, nyonya. Ada apa?"
"Aku boleh meminta tolong?"
"Tentu, dengan senang hati bibi akan bantu." Bibi Nahla meletakkan kemoceng di meja yang tidak jauh di tempat ia berdiri saat ini.
"Mas Leonard melarang ku ke dapur, aku ingin memasak makanan kesukaan Kay saat ia sampai nanti. Jika boleh, aku minta tolong bibi memasak makanan kesukaan anak itu."
Bibi Nahla tersenyum haru kepada Ratih, ia mengusap tangan perempuan itu dengan lembut, selembut masih sayang seorang ibu kepada anaknya. "Bibi akan memasaknya, nyonya tenang saja."
"Baik, bi." Ratih mengangguk senang, "ah, aku lupa, Bi. Bahan masakannya masih ada? Aku lupa, apa kita sudah belanja makanan bulan?"
"Sudah, nyonya tenang saja."
"Makasih bi, bibi memang yang paling hebat." Kekeh Ratih, ia mencium tangan bibi Nahla sebagai tanda terima kasih. Meski reaksi bibi Nahla terkejut akan hal itu, tapi Ratih senang dan begitu menghormati wanita yang sudah mengurus rumah besar ini dengan penuh cinta dan kasih sayang yang tulus pada setiap penghuni yang datang ke sini.
Setelah berbincang mengenai masakan bersama bibi Nahla. Ratih memutuskan untuk pergi ke kebun, ia akan memetik beberapa buah yang bisa di panen hari ini. Dengan keranjang dan juga gamis panjang yang ia angkat sedikit agar tidak mengenai ranting-ranting yang bisa membuat tersangkut, Ratih berjalan sendiri menghampiri pengurus kebun untuk meminta izin petik buah sendiri. Karena biasanya, ketika anggota keluarga menginginkan buah ataupun para maid yang meminta buah untuk di makan bersama, si penjaga kebun akan memetik kan nya untuk mereka.
"Biar saya saja, nyonya. Nanti baju nyonya bisa kotor jika haru memetik sendiri." Ucap si penjaga kebun itu merasa tidak enak hati.
"Paman, aku sudah terbiasa, paman tenang saja, aku mahir dalam pemanen buah."
"Nanti tuan Leo-"
"Paman, tenang saja, aku yang akan bicara langsung padanya jika paman di marahi." Ujar Ratih memotong ucapan paman penjaga kebun itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Serayu|Proses Revisi
EspiritualSegudang luka yang di alami seorang gadis berusia 20 tahun. Saat nenek dan kakek yang mengurus nya sejak lima tahun lalu ketika orang tuanya pergi untuk selamanya, membicarakan keinginannya untuk menjodohkan ia dengan cucu sang nenek, di sanalah pen...
