Sekitar jam dua dini hari. Ratih terbangun karena hujan turun dengan sangat lebat. Gadis itu mengucek matanya yang terasa rapat untuk memperjelas penggeliatannya.
Kaki yang masih kaku itu turun dari ranjang menuju kamar mandi untuk melaksanakan shalat malam. Setelah shalat, nanti rencananya ia akan membersihkan beberapa ruangan di mansion. Ia sudah terbiasa melakukan pekerjaan rumah, jadi jika sehari tidak melakukan apapun, rasanya hampa. Ratih kembali dari kamar mandi setelah berwudhu. Di antara hujan yang lebat dan sinar petir yang menusuk lewat jendela kamar, Ratih melaksanakan salat Sunnah. Setelah selesai, ia membereskan kembali mukena dan sajadah nya setelah melaksanakan salat malam, atau salat tahajjud. Ia keluar dari kamar mandi.
Ratih terkejut saat melihat sosok tinggi yang baru saja masuk dengan keadaan yang tidak baik. Ia berdiri menghampiri sosok Leonard yang basah kuyup sampai sisa-sisa air hujan menetes dari baju pria itu, "t-tuan apa yang sudah terjadi?"
"Dingin." Gumam Leonard tidak jelas.
Ratih panik, gadis itu langsung mengambilkan handuk untuk Leonard dan menuntun pria itu duduk di sofa—sebelum itu, Ratih tidak lupa menaruh handuk lain di atas sofa yang di duduki oleh Leonard agar tidak basah.
"S-saya akan siapkan air hangat."
Leonard hanya ia sambil melihat Ratih yang pergi ke kamar mandi setelah membuka menyimpan mukena dan sajadah yang tadi perempuan itu pakai. Untuk yang kedua kalinya, Leonard kembali melihat rambut hitam panjang dengan sedikit gelombang di ujungnya.
"Hh, dingin sekali." Keluhnya. Padahal, itu terjadi karena salah-Nya sendiri yang pergi dari mansion dengan membawa motor.
"Tuan airnya sudah selesai." Ucap Ratih keluar dari kamar mandi dengan langkah pelan. Jujur saja ia takut dan canggung saat berada di satu ruangan bersama Leonard. Hanya berdua. Di tambah, ia tidak menggunakan menutup kepala apapun.
Leonard pergi ke kamar mandi tanpa memperdulikan Ratih. Begitu juga Ratih, perempuan itu lebih memilih untuk mengambil baju ganti untuk Leonard. Berharap itu bisa menghilangkan rasa gugupnya.
Ratih mengambil kaos putih dan celana hitam pendek untuk Leonard pakai setelah mandi. Tenggorokan Ratih terasa kering karena tidak minum setelah bangun tadi. Dia melihat nakas yang ternyata air yang ia bawa sebelum tidur tadi sudah habis. Mungkin tuan yang minum. Pikir Ratih.
Perempuan itu keluar dari kamar untuk pergi ke dapur. Jam sudah menunjukkan pukul tiga dini hari. Ternyata, sudah satu jam yang lalu itu bangun.
Ratih meminum air putih yang ia ambil, lalu berjalan kerah rak untuk melihat apa masih ada makanan untuk Leonard. Ia khawatir jika Leonard tidak makan malam di luar.
"Tidak ada." Gumamnya, lalu beralih pada lemari es.
Ratih tersenyum kala melihat ada sayur kol dan telur. Ratih mengambil telur dua biji dan sisa sayuran kol tadi sore. Ia akan membuat dadar telur untuk mengganjal perut Leonard sebelum tidur. Meski hubungannya dan Leonard masih asing, tetapi, mau bagaimanapun Ratih mulai nyaman dengan statusnya, walaupun Leonard belum menganggap-Nya.
Setelah selesai memasak, Ratih langsung membawa makanan untuk Leonard ke kamar.
Ratih membuka kenop pintu lalu menutupnya kembali setelah masuk kedalam.
"Astaghfirullah halazim." Ucap Ratih ketika melihat Leonard berdiri dengan handphone ditangannya. Tetapi bukan itu yang membuat Ratih terkejut, melainkan dada Leonard yang terekspos.
Ratih menunduk gugup, ia meletakkan makanan itu di atas meja dekat tempat tidur. Setelah itu Ratih duduk di sofa ujung ranjang sambil melihat televisi yang sepertinya Leonard nyalakan tadi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Serayu|Proses Revisi
SpiritualitéSegudang luka yang di alami seorang gadis berusia 20 tahun. Saat nenek dan kakek yang mengurus nya sejak lima tahun lalu ketika orang tuanya pergi untuk selamanya, membicarakan keinginannya untuk menjodohkan ia dengan cucu sang nenek, di sanalah pen...
