CHAPTER 02

7.9K 428 14
                                        

Selamat berjuang untuk mendapatkan tujuan.
-Serayu.

••• HAPPY READING •••

"Jangan terus menangis, nona, riasan mu bisa rusak." Tegur mba Lisa yang dari jam empat subuh mendandani nya dengan begitu tenang.

Hari ini adalah hari pernikahan nya dengan cucu dari kakek Gelan dan nenek Zena. Meski sudah dua hari keluarga itu ada disini namun dia tidak pernah melihat lelaki yang akan menjadi suaminya. Suaminya ya? Haha bahkan namanya pun Ratih sudah lupa, lantaran lelaki itu tidak ada dan kedua orang tuanya yang tinggal disini pun tidak pernah membicarakan bahkan menyebut nama anaknya.

"Maaf Mba."

"Jangan menangis lagi, atau mba biarkan riasan mu mu seperti itu."

"Ya, mba. Maafkan Ratih."

Mba Lisa hanya tersenyum hangat pada Ratih, sekarang dia bisa leluasa untuk merias wajah cantik dan mungil itu.

"Mau pake cadar?" Tanya mba Lisa, dan Ratih hanya mengangguk sebagai jawaban.

Mba Lisa mengangkat cadar yang sudah ia sediakan, berwarna putih persis seperti gaun yang di pakainya.

Setelah selesai memakaikan cadar pada Ratih, mba Lisa menyuruh Ratih untuk berdiri.

"Ayok keluar."

Ratih mengangguk, dengan menahan sesak di dadanya. Padahal ini sudah pilihannya untuk menerima Perjodohan ini, namun tetap saja. Rasanya masih tidak percaya jika dirinya menerima semuanya begitu saja, begitu cepat.

Ratih menarik nafas panjang, anggap saja ini balas budinya untuk kebaikan nenek padanya selama lima tahun terkahir.

••••••••

"Saya terima nikah dan kawinnya, Ratih Gloria binti Abdurahman Azali, dengan maskawin tersebut tunai."

•••••••••

Acara pernikahan sudah selesai beberapa menit lalu. Tidak banyak tamu yang datang karena hanya kerabat terdekat dari keluarga nenek yang menghadiri acara tersebut. Sedangkan dari keluarga Isabelle tidak, karena jauh di Italia dan juga acara nya yang terlalu mendadak dan di laksanakan nya di kampung, sehingga mereka tidak bisa untuk menghadiri pernikahan Leonard.

Hari sudah sore, dan pernikahan yang singkat itu mampu membuat Ratih merasa lelah. Bukan karena acaranya, tapi karena perasaan. Acara tidak membuatnya merasa lelah, lantaran acara tersebut terlalu cepat bagai kilat. Ratih mendudukkan tubuhnya di pinggiran ranjang, sambil menenangkan ranting yang di paksa untuk putus.

Ratih yang baru saja memejamkan matanya langsung melek tatkala telinganya mendengar gesekan kayu dan lantai yang di dorong pelan sehingga menampilkan sosok Leonard dengan kemeja putih yang melekat di tubuhnya dan jas yang di lipat pada tangan kirinya. Ratih menundukkan kepalanya saat Leonard berjalan mendekat ke arahnya. Tubuhnya bergetar saat kaki pria itu perlahan mendekatinya.


"Bereskan semua barang-barang mu, kita akan pergi sekarang juga." Ucapnya, lalu melempar jas yang ia bawa keatas kasur, tempat di samping Ratih. Pria itu mengambil handuk pink milik Ratih yang menggantung, lalu masuk kedalam kamar mandi.

Serayu|Proses Revisi Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang