CHAPTER: 34

304 41 2
                                        

Helo!!
Jangan lupa vote and komen random nya ya! Jangan spam, kalau komennya banyak, nanti Mimin semangat buat up cerita ini sampai selesai.

Tandai typo!

Benar bahwa kehilangan, adalah hal yang paling menyakitkan.

••• HAPPY READING •••

Suara adzan subuh berkumandang dari ponsel Ratih yang terletak di nakas. Perempuan, ah ralat, wanita yang baru saja tertidur beberapa jam lalu kini harus kembali melek karena suara adzan memanggil mereka untuk beribah. Ratih mengucek matanya untuk menetralkan pengelihatannya. Setelah itu, matanya melirik Leonard yang masih tertidur seraya memeluk pinggangnya. Ratih tersenyum tipis melihat wajah Leonard yang damai dan melelahkan itu. Tiba-tiba saja, otaknya melintas pada hal yang membuatnya salah tingkah.

"Mas," bisik Ratih tepat di depan daun telinga Leonard. Pria blasteran eropa itu sepertinya tidak terganggu oleh bisikan Ratih. Terlihat dari gerak gerik tubuhnya yang malah menarik selimut tebalnya untuk menutupi dada telanjang lelaki itu. Ratih menggelengkan kepalanya sambil terkekeh gemas, "hey, bangun." Di goyangkannya tubuh Leonard agar cepat sadar dari alam mimpinya.

"Hmm."

"Bangun, sudah subuh, kau tidak ingin mandi?" Ratih menarik selimut yang menutupi tubuh Leonard hingga batas dada. Mata pria itu kini mulai terbuka, yang berarti ia sudah terbangun dari tidur yang singkat itu.

"Jam berapa?" Ucap Leonard, balik menanya Ratih.

"Jam Lima."

"Nanti saja, aku baru saja tertidur tiga jam yang lalu." Leonard menarik kembali selimut tebal itu untuk menutupi seluruh tubuhnya. Namun dengan cepat, Ratih menarik selimut itu, ia memegang rahang Leonard dengan tangannya lalu mencubit pipi pria itu.

"Ayolah, kita harus melakukan kewajiban kita."

"Sudah, tadi malam." Gumam Leonard membuat pipi Ratih bersemu mendengar nya. Apa Leonard ini, hal yang sudah jangan di ungkit kembali, jadi tokonglah.

"Shalat, mas."

"Duluan saja. Aku masih mengantuk."

Dengan gemas karena mendengar jawaban dari Leonard, Ratih mencubit lengan pria itu hingga ia meringis kesakitan. "Sayang, jangan memancing."

"Bangun, nanti siang."

"Ck, iya, iya." Pria itu bangkit, ia terduduk di atas ranjang sambil mengucek matanya, tidak lupa karena masih mengantuk, pria itu menguap dengan lebarnya.

Tidak ingin kesiangan, Ratih bangkit dari ranjang meskipun tubuhnya terasa begitu lelah. Ia berjalan ke arah kemarin mandi tanpa menghiraukan Leonard.

"Aku ikut." Ucap Leonard tiba-tiba, kini pria itu sudah ada tepat di belakang Ratih yang ingin membuka pintu kamar mandi.

Ratih membalikkan tubuhnya melihat Leonard yang nyengir seperti kuda padanya. Ia menggeleng pelan, "no, no, no! Satu-satu, jika tidak ingin menunggu ku, mas bisa mandi di kamar mandi sebelah."

"Ratih," rengek Leonard tiba-tiba, "masa aku harus mandi di kamar sebelah? Jahat sekali."

Ratih berdecak sebal, ia mendorong tubuh Leonard yang hanya di balut celana pendek saja. "Ya sudah tunggu aku." Ratih membuka pintu kamar mandi itu dah langsung menutupnya dengan rapat sebelum Leonard ikut masuk ke dalam.

Serayu|Proses Revisi Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang