Segudang luka yang di alami seorang gadis berusia 20 tahun.
Saat nenek dan kakek yang mengurus nya sejak lima tahun lalu ketika orang tuanya pergi untuk selamanya, membicarakan keinginannya untuk menjodohkan ia dengan cucu sang nenek, di sanalah pen...
Pagi hari sekitar setengah lima pagi. Ratih terbangun kala mendengar adzan berkumandang. Ia turun dari ranjang untuk menuju kamar mandi. Namun, sebelum benar-benar ke kamar mandi, Ratih mengecek ponselnya terlebih dahulu.
Ratih membuka aplikasi berwarna hijau saat matanya melihat ada pesan yang di kirim Anggeline.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ratih tersenyum saat melihat pesan dari Angeline. Ia senang karena Kay akan lebih lama di sini. Di pagi yang cukup tenang ini, Ratih pergi ke kamar mandi untuk mengambil wudhu.
Setelah wudhu dan melaksanakan shalat subuh. Ratih melirik ranjang—yang ternyata Kay sedang mantapnya di atas kasur dengan mata biru-Nya yang pudar itu.
Ratih tersenyum. Ingin rasanya mencubit pipi gembul itu. "Sudah bangun."
Kay mengangguk, "bibi.."
"Hm?"
Ratih beranjak dari atas sejadah. Masih dengan memakai mukena, ia menghampiri Kay, dan duduk di samping bocah itu.
"Kay lapal." Ucap bocah itu yang langsung membuat Ratih terkekeh.
Ratih mencubit hidung Kay gemas, "pagi-pagi seperti ini, ingin sarapan apa hm?"
"Bubul ayam bibi.."
"Ya sudah Kay mandi dulu, nanti kita beli bubur ayamnya."
"Jalan bibi?"
Ratih mengangguk, "ya, Kay tidak apa-apa kan?"
"Ya!" Seru bocah itu, lalu turun dari ranjang dan langsung mengambil handuk. Pintar sekali, puji Ratih dalam hati.
Ratih membereskan kembali alat salat ketempat semula. Setelahnya, ia masuk ke kamar mandi menyusul Kay.
••••••
Sekitar jam tujuh pagi, Leonard terbangun ketika telinganya mendengar pintu kamarnya di ketuk. Leonard bangkit dari tidurnya, turun dari ranjang sambil mengucek matanya agar memperjelas pengelihatan.
Pintu terbuka.
"Tuan."
"Ada apa Troy." Jawab Leonard dengan wajah bantal-Nya.
Troy hanya menggeleng kecil melihat tingkah tuannya. Bagaimana tidak? Leonard berdiri di ambang pintu dengan boxer saja? Di tambah muka bantal dan rambut yang tidak karuan.
"Tuan Kay dan nyonya tidak ada di mansion."
"Apa?" Leonard membelakan matanya, "Kay ada disini?"
"Ya, nona Anggelina menitipkan tuan muda Kay disini. Tadi malam saat saya menyuruh nyonya pindah, saya juga yang membawa tuan muda Kay yang sedang tertidur ke kamar tamu bawah."