Assalamualaikum semuaa, maaf ya Mimin lama update.
Jangan lupa vote and komen yaaa.. vote seribu lebih mimin up bab selanjutnya.
Bantu share oke?
Happy Reading
Jika bianglala adalah keindahan yang sementara, maka kamu indah yang selalu.
-Leonard Hudson Tunggara
••••••
Waktu menunjukkan pukul satu siang, Ratih baru saja menyelesaikan ibadah. Hari ini, wanita itu akan pergi ke kebun buah milik Leonard yang berada di halaman belakang—pondok kebun. Kata bibi Nahla, para petani baru saja memanen buah-buahan. Mendengar itu kemarin Ratih meniatkan dirinya untuk mengambil buah yang di butuhkan di kulkas.
Dulu Ratih sempat heran mengapa Leonard yang kerja di kantor—yang tentu saja penghasilannya bukan main malah ingin berkebun. Ternyata, pria itu suka sekali dengan warna buah-buahan yang cantik dan suka memanen buah. Namun pria itu tidak suka jika harus menanam dan merawat.
Dengan abaya berwarna biru mudah dan hijab simpel Ratih keluar dari mansion melalui pintu belakang dengan di temani Mia. Kedua perempuan berbeda usia itu membawa keranjang besar untuk mengambil buah.
Di perjalanan Mia bercerita tentang sehari-harinya mengurus perkebunan milik Leonard.
"Nyonya suka buah?" Mia bertanya setelah lama sekali perempuan itu bercerita.
"Suka, sangat suka."
"Kalau begitu sama seperti, tuan." Ratih hanya tersenyum untuk menanggapi ucapan Mia.
"Nyonya rindu tidak dengan pondok?" Mia kembali membuka pertanyaan.
Ratih yang mendengar itu terdiam sebentar sebelum kemudian ia terkekeh. Wanita itu teringat dengan masalalu yang kelam itu. Meski itu kelam tapi Ratih merindukan pondok tempat ia tinggal dulu saat menjadi bagian mansion ini. Tempat itu yang menampung segala kegundahan hati dan segala nestapa yang ditoreh dengan sengaja.
"Rindu. Sudah lama juga aku tidak ke sana."
"Bagaimana jika setelah ini kita mampir ke sana? di sana pada bibi Nahla yang akan memasak untuk para petani."
"Boleh."
Tak lama setelah perbincangan singkat itu, akhirnya mereka berdua sampai di perkebunan buah.
Semua petani yang melihat Ratih ada di sana menunduk sebagai hormat, namun Ratih melarang mereka. Baginya itu semua berlebihan, ia bukan seseorang yang harus di agungkan karena ia juga manusia sama seperti mereka.
"Nyonya ingin buah?" Tanya salah satu petani itu pada Ratih.
"Ya."
"Buah apa? Biar saya ambilkan." Tawar petani itu.
"Tidak usah, aku ingin memetiknya sendiri." Ratih menolak tawaran petani itu dengan lembut.
"Baiklah, mari saya antar."
"Tidak usah, paman. Aku bersama Mia. Lebih baik, kau dan yang lain istirahat saja."
KAMU SEDANG MEMBACA
Serayu|Proses Revisi
SpiritualSegudang luka yang di alami seorang gadis berusia 20 tahun. Saat nenek dan kakek yang mengurus nya sejak lima tahun lalu ketika orang tuanya pergi untuk selamanya, membicarakan keinginannya untuk menjodohkan ia dengan cucu sang nenek, di sanalah pen...
