Setelah kepergian Ratih, Leonard sepertinya sedang kerasukan roh yang sedang jatuh cinta. Sedari tadi, pria itu berguling-guling sendiri di atas kasurnya. Hatinya tidak enak dan pikirannya terus membayangkan wajah Ratih tanpa hijab.
"Ada apa denganku?"
Leonard duduk, dia berjalan kearah sofa dan mencoba tidur di sana. Namun, itu sama saja, malah lebih parah. Bayangan itu malah semakin jelas di pikirannya.
"Arghhhh," Leonard mengacak rambutnya frustasi.
Pria itu menghentakkan kakinya, dia keluar dari kamar menuju lantai bawah. Jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari, tapi dirinya belum juga tidur. Di bawah juga, para pelayan dan penjaga sudah tidur di bangunan sebelah.
Jika kalian tidak tau, di kawasan Tunggara terdapat dua bangunan. Mansion utama, dan tempat para pelayan. Di luar ia melihat hanya ada beberapa penjaga yang sedang berdiri di depan pintu utama dan gerbang utama.
Leonard sudah sampai di lantai bawah, ia memilih untuk melangkahkan kakinya ke dapur untuk mencari minuman yang bisa membuat nya sedikit tenang.
"Sial." Umpatnya kala wine yang ia miliki sudah habis.
Matanya mengantuk tapi pikirannya membuat Leonard tidak bisa tidur. Dengan terpaksa, malam-malam sekali Leonard keluar dari mansion utama untuk pergi ke bangunan yang tak jauh dari mansion Tunggara.
Sesampainya disana, ternyata ada bibi Nahla yang sedang duduk di atas sofa. Sontak saat menyadari keberadaan sang tuan, bibi Nahla bangun dan menundukkan kepalanya sebagai hormat.
"Dimana gadis itu?" Tanya Leonard tiba-tiba, membuat bibi Nahla yang mendengar terkejut.
"M-maksudnya istri anda?"
Leonard mengusap wajahnya gusar, "dia bukan istriku."
"Ta-"
"Dimana dia sekarang bi?!"
"Ee..." Bibi melirik ke kanan dan ke kiri bingung, "saya tidak tau, tuan. Nyonya tidak datang kemari."
Untuk yang kedua kalinya, Leonard mengusap wajahnya gusar. "Kemana kau gadis kampung."
Leonard keluar dari tempat istirahat para pekerjanya tanpa permisi pada bibi Nahla. Ie memilih untuk langsung pergi mencari seorang gadis yang membuat dirinya tidak bisa tidur.
Di perjalanan, Leonard terdiam sejenak. Dia melirik ke kanan, tepatnya kearah pohon Flamboyan yang terdapati kursi besi di bawahnya. Dia menyipitkan matanya kala melihat.. seseorang yang sedang berbaring?
Perlahan dia berjalan kearah kursi itu, alangkah kagetnya dia melihat seorang gadis tertidur disana. Saat ia berjalan lebih dekat, wajah cantik yang ia cari sedari tadi terlihat jelas walau hanya ada sedikit cahaya dari lampu taman yang berjarak tidak jauh dari sana.
Leonard menghela nafas panjang. "Ternyata kau disini, gadis kampung."
Leonard berjongkok di samping tubuh Ratih yang berbaring di atas kursi. Dengan gamis berwarna putih dan hijab yang berwarna hitam, membuat menampilannya seperti hantu melayang, apa lagi disini tidak ada lampu jalan karena pohon ini tepat berada di taman belakang mansion. Sedangkan lampu jalan, Leonard hanya meminta memasangkan nya di jalan tempat para pelayan lewat dan di tengah-tengah taman saja.
Leonard menatap wajah gadis di hadapannya, "tidak buruk." Gumamnya, lalu duduk dan memeluk tubuh Ratih dari bawah. Kepalanya ia sandarkan pada pundak Ratih dan tangannya memeluk pinggang gadis itu. Perlahan mata Leonard menutup dan dengkuran halus pun terdengar beserta suara angin sejuk yang melintas.
Akhirnya, malam ini Leonard tertidur dengan posisi duduk memeluk tubuh Ratih yang berbaring di atas kursi taman. Begitu nyenyak keduanya tertidur, untung saja area di sini bersih jadi tidak akan ada nyamuk yang menodai tubuh mereka berdua.
KAMU SEDANG MEMBACA
Serayu|Proses Revisi
EspiritualSegudang luka yang di alami seorang gadis berusia 20 tahun. Saat nenek dan kakek yang mengurus nya sejak lima tahun lalu ketika orang tuanya pergi untuk selamanya, membicarakan keinginannya untuk menjodohkan ia dengan cucu sang nenek, di sanalah pen...
