Ratih mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya setelah ia selesai berdoa, kemudian tangannya menerima uluran tangan Leonard, mencium tangan itu.
Satu kecupan mendarat di kening Ratih cukup lama. Ratih tersenyum menatap Leonard ketika kecupan itu di lepas. Pria itu membaringkan tubuhnya dengan kepala ber-bantal pada kedua kaki Ratih yang di lipat.
Ratih yang melihat itu hanya tersenyum sambil mengusap-usap kepala Leonard dengan lembut.
"Kau cantik." Ucap Leonard memecahkan keheningan keduanya.
"Cantik, kan perempuan." Ratih menyahuti ucapan Leonard.
Leonard menggelengkan kepalanya tidak setuju. "Kau indah Ratih, jangan samakan dengan perempuan lain, aku tidak suka."
Ratih mendongak seraya tertawa, kemudian ia menunduk lagi untuk melihat leonard yang juga sedang menatap nya. "Dengarkan aku, Qais pernah berkata, 'semua yang dicintai itu cantik, tapi yang cantik belum tentu dicintai.'" ucap mengecup tangan Leonard yang berada di bawah dagunya, sedari tadi tangan itu tidak bisa diam, selalu mengusap pipi nya. "Dan itu artinya cinta itu bisa membuat seseorang menjadi buta bahkan gila karena ketika sudah cinta menguasai seseorang, seburuk apapun orang tersebut atau bagaimanapun rupa orang tersebut ketika cinta sudah tertanam di hati maka itu akan selalu terlihat indah, bener kata ini bawa kamu akan cantik di mata yang tepat dan kamu kan indah di mata orang yang memang untuk kamu. Itu sebabnya kau melihat perempuan lain berbeda, karena di hatimu sudah ternama rasa untuk aku." Jelas Ratih tersenyum.
"Mungkin yang kau ucapkan itu benar, aku tak bisa menyangkal itu"
Ratih hanya tersenyum menanggapi ucapan Leonard. Tak lama sekali tuh anjing melanda mereka berdua, latihannya tersenyum melihat Leonard begitupun sebaliknya.
Hingga akhirnya ketukan pintu dari luar kamar membiarkan keheningan pada keduanya.
"Biar aku saja." Ucap Leonard.
Pria itu berjalan kearah pintu masih dengan sarung dan peci yang bertengger manis pada tubuh tegap nya. Sedangkan Ratih perempuan itu membuka mukenanya, lalu membereskan semuanya.
"Siapa?" Tanya Ratih ketika melihat Leonard sudah menutup kembali pintu kamar mereka.
"Bibi Nahla."
Ratih hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Tidak ke kantor?"
"Siang." Jawab Leonard. Pria itu berjalan ke arah nakas kemudian melepaskan peci hitam di kepalanya lalu meletakkannya.
"Memangnya pekerjaan mu tidak banyak?"
Leonard yang baru saja duduk di atas ranjang langsung menatap Ratih di meja rias sedang membenarkan hijab syar'i nya.
"Kenapa? Kau tidak senang?" Ketus Leonard.
Ratih yang mendengar itu pun terkekeh. Sensi sekali suaminya ini. "Bukan seperti itu." Ratih beranjak dari depan meja rias. Ia menghampiri Leonard yang sudah memanyunkan bibirnya beberapa senti.
Gemas dengan Leonard Ratih mencubit kedua pipi pria itu, Kemudian mencium nya.
"Aku senang. Hanya saja, Aku takut mas pulangnya malam." Ucap Ratih.
Leonard yang mendengar Ratih menyebut nya 'mas' itu pun langsung memeluk Ratih. Menyembunyikan salah tingkah nya. Bahkan telinganya memerah membuat Ratih tertawa melihat tingkah nya.
"Jangan tertawa, aku masih marah padamu." Lelaki itu mempererat pelukannya.
"Maafkan aku," ucap Ratih. "Memang mas kenapa? Akhir-akhir ini sering merajuk."
KAMU SEDANG MEMBACA
Serayu|Proses Revisi
EspiritualSegudang luka yang di alami seorang gadis berusia 20 tahun. Saat nenek dan kakek yang mengurus nya sejak lima tahun lalu ketika orang tuanya pergi untuk selamanya, membicarakan keinginannya untuk menjodohkan ia dengan cucu sang nenek, di sanalah pen...
