Meski terlihat berantakan, aku bersyukur kau pulang.
-Ratih Gloria.
••• HAPPY READING •••
Pagi sudah tiba, matahari sudah naik dan subuh sudah lama berlalu. Ratih keluar dari kamarnya dengan gamis berwarna beige dan hijab panjang berwarna khaki. Gadis itu menuruni tangga menuju dapur bersih. Di sana, sudah ada tiga pelayan yang bertugas dengan tugas yang berbeda. Di ketiga itu, ada bibi Nahla yang sedang memasak sesuatu.
“Boleh aku membantu?” Tanya Ratih sesampainya di sana.
“Tidak ada, nyonya.”
“Jangan berbohong, bi.” Ratih tersenyum pada kepala pelayan mansion ini, Bibi Nahla namanya. Mana mungkin tidak ada yang bisa di bantu? Meskipun ada dia pelayan lain, tapi tugas memasak bukan tugas mereka yang sedang merapikan beberapa barang di dapur.
“Tapi nyonya, anda tidak boleh masuk ke dapur. Ini tugas kami sebagai pelayan, dan kami harus melayani anda dan tuan.”
“Bibi, kita ini. Manusia yang bernilai sama di mata Allah, Allah tidak membeda-bedakan makhluknya. Semua sama rata, meski derajat seseorang itu lebih tinggi dari kita, tetapi di hadapan Allah sama. Kecuali amal kebaikan kita.” Ratih mendekat pada bibi Nahla yang sedang berdiri di depan panci yang berisi sayur asam.
“Nyonya..”
“Jangan panggil aku nyonya, bi.”
“Tapi..”
Ratih tersenyum sebelum memotong ucapan Bibi Nahla, “ya sudah, bibi boleh memanggilku nyonya, tapi izinkan aku untuk memasak.”
Bibi Nahla diam sejenak sebelum mengangguk, “baiklah nyonya.”
Ratih tersenyum, dan ia mulai berjalan ke arah jajaran pelayan yang memasak di tempat yang berbeda dengannya. Ratih baru tahu ternyata mansion ini memiliki dapur lain. Tapi, dapur yang sedang ia tempati ini ada tepat di belakang tangga besar menuju lantai dua. Bersih, rapih, dan hanya ada sedikit pelayan yang bertugas.
“Aku mau memasak, boleh aku bergabung?”
Semua para pelayan yang ada di sana menoleh pada Ratih, mereka mengangguk samar.
“Kalian masaklah untuk kalian sendiri dan para penjaga, biar aku memasak untuk tuan.” Ucap Ratih lalu kembali ke dapur bersih.
Letak dapur kotor dan dapur bersih hanya bersebelahan. Bedanya dapur kotor lebih luas dan lebih lengkap bahan masakannya sehingga Ratih pergi ke dapur kotor terlebih dahulu untuk memberitahu bahwa ia ada di antara mereka. Tidak boleh canggung, dan tidak boleh berlebihan padanya. Ia juga mengambil bahan masakan dari dapur kotor karena kata bibi Nahla dapur bersih jarang di isi bahan masakan karena tuan Leonard jarang sekali makan di mansion.
Melihat beberapa bahan masakan dan juga rempah-rempah yang lengkap Ratih mulai memotong-motong sayuran dan mengulek bumbu masaknya.
“Bibi Nahla.”
“Ya nyonya?” Sahut bibi Nahla yang sedang mengelap piring yang sudah dicuci rekan kerjanya.
“Apa tuan Leonard sudah pulang?”
“Belum, nyonya.” Jawab bibi Nahla menggeleng kepalanya.
“Boleh aku bertanya?” Di sela-sela memotong sayuran, Ratih mengajak bibi Nahla untuk mengobrol. Kebetulan juga pekerjaan bibi Nahla sudah selesai. Dan di dapur ini hanya ada mereka berdua.
“Baik, nyonya, anda ingin bertanya apa?”
“Bibi tau tuan kemana tadi malam?”
Bibi Nahla terdiam, ia berpikir lama, bingung harus menjawab pertanyaan Ratih seperti apa agar perempuan itu tidak curiga atau sakit hati.
KAMU SEDANG MEMBACA
Serayu|Proses Revisi
EspiritualSegudang luka yang di alami seorang gadis berusia 20 tahun. Saat nenek dan kakek yang mengurus nya sejak lima tahun lalu ketika orang tuanya pergi untuk selamanya, membicarakan keinginannya untuk menjodohkan ia dengan cucu sang nenek, di sanalah pen...
