Untuk sang pemilik magic yang bisa membuat siapa saja jatuh cinta padanya. Terima kasih atas rindu yang terlepas.
••••••
Hujan lebat tidak berhenti sejak tadi siang saat mereka pergi ke bandara dengan sebuah kekhawatiran dan pertanyaan yang buntu. Rintikan kasar yang seolah tau bahwa mereka butuh peredam untuk menyembunyikan kesedihan masing-masing. Mereka seolah bisu, seolah, dunia berhenti saya itu juga. Tidak ada yang berbicara, tidak ada juga yang berteriak meminta mereka kembali. Malam yang menusuk setiap pori-pori tubuh bagai jarum es, melewati setiap sel-sel kulit, mampu membuat pertahanan runtuh seketika.
Ratih meremas baju Leonard kuat-kuat. Wanita itu memeluk Leonard bersama derasnya sebuah kehilangan yang masih di pertanyakan. Beberapa korban kecelakaan pesawat Oceanic Wings telah ditemukan di beberapa titik tertentu. Mereka semua, kembali dengan keadaan tidak bernyawa. Bahkan sang pilot dan beberapa pramugari, di temukan dalam keadaan meninggal dunia. Suara Ratih yang terendam oleh tangisan semesta menggema di telinga Leonard. Ia terlihat seperti kepingan kaca yang hancur, ia terlihat tidak utuh, ia sedang tidak baik-baik saja. Pun dirinya. Sejak sore hari setelah mereka sampai ke bandara, Leonard berusaha untuk menyembunyikan kehancuran nyata di dalam rongga-rongga dadanya. Ia ingin berteriak sekencang yang ia bisa, kalau pun memang bisa, ia ingin berteriak sampai ke ujung samudra. Memanggil nama Kay dan Anggeline agar mereka bisa mendengar suaranya sehingga dengan begitu, mereka tau bahwa ia mencarinya.
Semakin sesak redaman emosi yang tertahan, semakin erat pelukan keduanya. Mereka saling menguatkan, saling memberi hangat dan semangat bahwa masih ada kemungkinan. Kemungkinan mereka kembali, kemungkinan mereka sampai di titik di mana tuhan memberikan mereka kesempatan sekali lagi, tau kemungkinan, mereka tidak akan kembali, selamanya, dan seterusnya.
Leonard menatap langit hitam yang kini mulai menusuk dadanya yang baru saja terhantam sebuah meteor yang mendarat tepat di hatinya. Ia memejamkan mata, merasakan sesaknya dada, sakitnya kekhawatiran yang tidak terjawab, dan luka yang tersalurkan lewat pelukan. Ia mengecup puncak kepala Ratih, memberi ia sebuah perlindungan atas luka yang sama.
Sampai saat ini, pertanyaan mereka masih tidak terjawab. Walau keduanya memohon agar Kay dan Angeline selamat. Tapi keadaan memberitahu mereka bahwa itu tidak mungkin bisa.
"Mas, Kay!"
"Tenang Ratih, mereka masih dalam pencarian." Leonard mengusap kepala Ratih lembut. Ia mengeratkan dekapan nya.
"Tidak, aku, aku tidak—"
"Sttt, iya, aku tau, perasaan ku pun sama. Sabar Ratih, berdoalah agar mereka bisa selamat."
Ratih meraung dan kembali meremas baju Leonard hingga kemeja pria itu kusut bagai pikiran yang melayang kehilangan arah tujuan. Ia melepaskan pelukannya, di usapnya wajah yang di penuhi genangan kasih sayang kepada mereka yang sampai sekarang masih belum kepastian. Leonard membawa Ratih masuk ke dalam mobil, kemudian pergi meninggalkan Ratih sendiri.
Di dalam mobil, Ratih terdiam cukup lama. Ia menatap lautan lepas yang gelap nan dingin. Matanya terus membanjiri setiap hal yang menyakitkan. Ia memeluk tubuhnya sendiri seraya bersandar pada kaca mobil dengan semua kenangan yang pernah liat lakukan bersama Kay. Bocah kecil yang selalu membuat harinya menyenangkan di kala dunia sedang tidak memihak padanya. Bocah yang selalu percaya padanya, yang sudah ia sayangi sebagai anak, yang menjadi penerima cinta dari hati yang cacat. Ratih masih ingat sekali bagaimana bocah itu tertawa, menangis, dan berbicara panjang bersamanya. Sang teman hampa, kini, Ratih tidak tau ia kemana.
KAMU SEDANG MEMBACA
Serayu|Proses Revisi
SpiritualSegudang luka yang di alami seorang gadis berusia 20 tahun. Saat nenek dan kakek yang mengurus nya sejak lima tahun lalu ketika orang tuanya pergi untuk selamanya, membicarakan keinginannya untuk menjodohkan ia dengan cucu sang nenek, di sanalah pen...
