Dark Romance
Rate M
Cinta yang keliru selalu buta. Cinta selalu membuat gembira, tak kenal hukum, bersayap dan tak terbatas. Dan cinta mematahkan semua mata rantai logika, sehingga mungkin bagi Hinata Hyuuga, William Blake tak pernah salah menulisny...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
🍁🍁🍁
Langit hari ini cerah sekali.
Naruto mengangkat tangannya lebih tinggi ketika dia baru saja bangun tidur siang di atap sekolahnya. Tidak ada yang mencarinya—kadang-kadang anak-anak datang kemari hanya untuk membangunkannya karena guru mencarinya. Tapi tak satu pun mereka terlihat batang hidungnya, maka saat dia melirik arloji, sudah pukul tiga.
“Astaga, benar-benar menyenangkan.”
Ketika akan beranjak dari tempat itu, Naruto melihat ada seorang lagi yang ada di sana, yang sepertinya ketiduran, sama sepertinya. Naruto pun bergumam dalam hatinya, apakah hari ini adalah hari tersantai dunia? Tapi saat Naruto berlutut untuk memeriksa, gadis itu berwajah merah. Dia tidak mau lancang dengan menyentuh sembarangan, tetapi masalahnya dia ingin memastikan sesuatu. “Yang benar saja. Kau demam!”
“Tinggalkan aku sendiri.”
“Kau serius? Meninggalkanmu sendirian? Kalau kau ketiduran sampai pulang sekolah, kau akan dikunci di sini.”
Gadis aneh itu berdiri, jalannya mulai terlihat sempoyongan, tetapi Naruto dengan sigap tidak mendahului. Dia masih di belakang gadis itu untuk memerhatikan kondisinya, takut-takut bila terjadi sesuatu selama pergi ke ruang kesehatan. Naruto memang sering mendengar, mendekati musim panas—setibanya libur musim panas yang panjang—banyak dari anak-anak yang memiliki imun lemah malah terjangkit penyakit atau virus.
Sesampainya di ruang kesehatan, Naruto membantu gadis untuk menggeser pintu. Ia melambaikan tangannya pada Sasori, kakak temannya, Sakura, sebagai dokter jaga waktu itu. “Dia demam.”
“Baiklah, kemari,” Sasori menepuk ranjang yang baru selesai dibereskannya. “Memang hari ini banyak yang sakit.”
Naruto masih memerhatikan di tempatnya ketika gadis itu sudah membaringkan badannya di atas tempat tidur. “Apakah kondisinya parah?”
“Dia terjangkit demam,” kata Sasori. “Eh, kau dari kelas berapa? Dan, siapa namamu?”
“Hinata Hyuuga, dari kelas 1-B.”
Sasori mengambil buku catatannya, lalu dia melirik Naruto. “Kau sebaiknya kembali ke kelasmu, jangan sampai aku disalahkan dikiranya aku tidak menahanmu pergi dari sini.”
“Gadis itu tampak menderita, apa sebaiknya tidak dilarikan ke rumah sakit saja?”
“Rumah sakit, kepalamu!” Sasori memukul punggung Naruto dengan buku tebal yang dibawanya tadi. “Cepat pergi dari sini. Jangan sampai kekacauan terakhir terjadi lagi, membuatku kena masalah saja. Sebal melihat anak-anak nakal seperti kalian yang terus nongkrong di UKS.”