Epilog

2.8K 240 52
                                        

.



.



.

🍁🍁🍁

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

🍁🍁🍁



Seperti biasa, Hinata bangun lebih cepat dari yang lainnya, di rumah itu. Dia buru-buru membuat secangkir kopi untuknya, kemudian membaca pesan dari ponselnya yang dari sore sudah dilupakannya. Sebelum semua anak-anaknya bangun, Hinata menyempatkan menikmati waktu. Oh, iya! Dia lupa, kalau hari ini Himawari resmi masuk ke kelompok bermain. Dia menunggu hari itu tiba, bahkan selama sebulan dia mempersiapkan perlengkapan Himawari. Tanpa seorang pelayan, Hinata melakukan semuanya sendiri, karena dia sudah membicarakan hal itu bersama suaminya.

Setelah menghabiskan kopinya, Hinata mulai bergegas menyiapkan sarapan, bersamaan dengan menyiapkan pakaian kerja suaminya. Tidak lama kemudian, dia melihat Naruto menguap selagi keluar dari kamar. “Kau tidur larut malam,” kata Hinata. “Apa pekerjaannya banyak?”

“Lumayan,” Naruto mendekati Hinata, dipeluknya dari belakang. “Apa aku tidak usah masuk saja ya. Kepalaku tiba-tiba pening,” katanya merengek. “Himawari hari ini pergi ke kelompok bermain, ‘kan?”

“Iya, aku harus mengantarnya. Percuma saja kau ada di rumah. Ini hari pertama, jadi akan ada banyak acara sampai siang. Kau akan sendirian di rumah.”

“Tidak apa-apa.”

“Tapi aku perlu bertemu Tenten setelah dari kelompok bermain.”

“Apa? Kenapa? Apa yang terjadi?”

“Kami sudah jarang bertemu, ini kesempatanku selagi keluar rumah,” Naruto merajuk, pergi meninggalkan Hinata yang masih sibuk mempersiapkan sarapan di dapur. “Kau bukan anak-anak yang selalu merajuk. Tidak baik seperti itu terus.”

Setelah semua sarapan selesai dihidangkan di meja, saatnya bagi Hinata untuk membangunkan anak-anak.

“Bolt, ayo bangun,” Hinata menarik tangan Bolt, mata anak itu masih menutup, meski badannya sudah duduk. “Jangan malas, kalau kau tidak siap-siap, nanti kau akan ditinggal rombonganmu. Ibu juga tidak ingin ditegur wali kelasmu, hanya karena kau sudah kelas enam tapi tidak disiplin.”

“Ibu, aku masih mengantuk, tidak bisakah menunggu 5 menit lagi?”

“Tidak. Tidak bisa, Nak,” kata Hinata sambil dia menepuk pantat Himawari yang langsung terbangun karena anak itu yang paling semangat untuk pergi ke kelompok bermain. “Pintar. Himawari yang paling pintar di sini.”

“Apa aku sudah bisa pakai topi kuning?” tanya Himawari yang mengambil handuknya, lalu pergi ke kamar mandi. “Ibu, kamar mandinya tidak bisa dibuka.”

Hinata mendekati kamar mandi, dan mengetuk. “Sayang, bisa tidak memandikan Himawari sekalian?” Hinata melihat pintu kamar mandi setengah dibuka. “Terima kasih.”

ODIOUS ✔️Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang