Sofia pikir pasti ada yang tidak beres dengan isi kepala Sultan saat ini, alih-alih kembali ke kantor mereka saat ini malah berada disebuah gedung apartment.
Sofia tau ini bangunan milik mereka kalangan atas, Daniel—calon suami Jihan juga tinggal disini. Tapi untuk urusan apa Sultan malah memarkirkan motornya disini.
"Ini masih jam setengah empat, kita beneran gapapa kalau harus balik Ke kantor. Kenapa kita malah disini?"
Sultan tidak menanggapi pertanyaan Sofia, pria itu malah berjalan santai kian menjauh dari motornya."
"Sultan, dengerin. Kayaknya kamu memang niat banget ya buat nyusahin aku!" Teriak Sofia membuat Sultan berhenti dan melangkah balik menuju Sofia.
Sofia perlahan berjalan mundur saat semakin dekat tubuh Sultan mendekat kearahnya. Sofia tidak pernah mengira jika sorot mata dingin Sultan bisa berubah begitu menyeramkan, Sofia bisa merasakan jika melalui tatapan itu dirinya sudah dikuliti sampai tak tersisa oleh Sultan.
"Ka—kalau kamu nggak suka sama aku, kamu bilang aja. Untuk ukuran anak baru kamu terlalu kejam!"
Sofia menelan ludahnya, ia tidak bisa berkutik lagi saat tubuhnya sudah membentur tembok. Ia pasrah namun tidak sepenuhnya, ia menyiapkan kuda-kuda andai diperlukan serangan fisik untuk membela diri nanti.
"Jangan macam-macam. Aku harapan orang tuaku satu-satunya untuk ngasih cucu. Istrinya kakakku mandul, please jangan bunuh aku ya Sultan."
Rasanya Sultan ingin tertawa lepas melihat reaksi histeris dari Sofia. Perempuan ini begitu polos, ia sudah mikir yang buruk terus sejak tadi dan jangan kira Sultan tidak tau soal itu.
"Cucu ya?" Sultan sengaja semakin mengerjai Sofia. Ia juga meraih tangan Sofia mencengkramnya dan diposisikan diatas kepala perempuan itu, posisinya saat ini Sultan sudah seperti siap untuk memangsa Sofia hidup-hidup.
"Kamu aneh-aneh mikirnya. Aku terlalu sibuk untuk ngerjain anak baru."
Sofia terhenyak saat hidungnya mendapat sentilan halus dan perlahan tangannya dilepaskan oleh Sultan. Pria itu juga sudah mundur beberapa langkah darinya dan tertawa seolah tak ada beban dalam hidupnya.
"Ka—kamu. Aku mau kembali ke kantor. Aku bisa naik taxi dari sini."
"Ada kerjaan yang harus aku kerjain, jadi aku balik aja ke kantor ya. Aku juga nggak tau aku disini mau ngapain." Lanjut Sofia
"Tan...."
Baik Sofia ataupun Sultan langsung menengok kesumber suara. Disana ada Candra Raja jivva wicaksana—CEO Rajja Corporation tempat Sultan dan Sofia bekerja saat ini.
"Itu bos kita, beri hormat." Bisik Sultan
"Bos?" Sejujurnya Sofia belum tau siapa atasnya yang sebenarnya, ya ini wajar kan? Dia belum ada sehari bergabung dengan perusahaan ini.
"Pak Candra." Bisik Sultan lagi
Sofia langsung teringat dengan ucapan Jihan tadi pagi, jadi ini sosok pak Candra yang dimaksud Jihan. Sofia akui atasannya ini memang tampan, matanya yang besar dengan sorot lembut, ia juga tinggi sama seperti Sultan.
"Dari mana?" Candra langsung melempar pertanyaan pada Sultan begitu jarak keduanya sudah dekat.
"Mau naik keatas." Jawab Sultan singkat.
Sofia yang merasa semua fokus kearahnya, ia langsung menghampiri Candra menyalaminya begitu pula dengan sosok perempuan yang bersama Candra.
"Pacar kamu Tan?" Tanya sosok perempuan itu
KAMU SEDANG MEMBACA
Love Maybe
FanficAntara nyaman dan cinta sungguh membuat dilema. Sofia yang merasakan sesuatu aneh pada dirinya, ia yang enggan untuk mengakui jika ia menaruh hati pada Sultan, disisi lain ia juga meragukan keseriusan pria itu. Namun disisi lain Sultan terus berusah...
