"11.12" Langit kembali bersinar dan aku masih di sini. Menghabiskan liburan panjang ku setelah penelitian mengerih kan. Mendapat predikat mahasiswa dengan nilai terbaik sangat membebani diri. Harus menjunjung tinggi gelar yang diberi. Seperti di pasung di dalam sangkar emas, mewah namun menyiksa. Siapa yang mau seperti dalam peti mati.
"Kapan Bianca berangkat? " Jams, Laki-laki yang berbaring di samping ku ini menatap lekat wajah ku. Meski pun ia termasuk dalam golongan mahasiswa pemalas, tapi siapa sangka dia bisa menyelesaikan penelitiannya dengan baik. Kata orang 'pertemanan bisa mempengaruhi masa depanmu dan itulah yang dijunjung oleh Jams.
"Lusa." Meski perih untuk mengingatnya. Aku masih terlihat kuat.
"Masih belum mengutarakan kebenarannya? "
"Untuk apa? semua akan tetap sama."
Jams duduk, menatap serius sambil menyekat rambutnya ke belakang. Entah mengapa, meski Jams begitu nakal dalam pergaulan. Tapi dia adalah tempat berbagi yang baik. Hidupku cukup bahagia dikelilingi mereka yang terkenal di kampus ini.
"Dia mencintaimu dan kamu mencintainya. Apa yang salah? Dan apa yang akan sama saja.?" seolah-olah ingin mengintimidasi seperti para wartawan yang tak puas dengan jawaban. Entah karena Jams terlalu bodoh soal perasaan atau hanya sekadar memberi luka. Dia terus saja bertanya perihal diriku dan Bianca.
"Keadaan, Jams."
"Hanya karena sebuah janji konyol yang diberi Tante Vien? Iya? "
Seketika pandanganku menembus langit biru. Memutar kembali ingatan yang merenggut tawa ku. Perjanjian keji yang tak dapat ditukar dengan apa pun. Kecuali, Lepas dari tanggung jawab.
"Janji apa lagi? Bukankah janji itu sudah berakhir? "
"Tapi aku masih belum berani mengakuinya."
"Kau tak punya tanggung jawab lagi, Zes. Semua uda berakhir ketika ke lulusanmu. Tak ada lagi beban bukan? "
Mengerihkan memang, hidup berdasarkan pilihan. Menjadi manusia tanpa derajat sampai mati atau merenggut harga diri untuk sebuah derajat tinggi. "Aku manusia tanpa harga diri. Menginginkan masa depan untuk sebuah harga tinggi. Lalu aku merebut sesuatu yang menjadi janji." Mana mungkin aku bisa, ketika masa depanku dibeli. Lalu ditukar dengan janji untuk tidak merenggut Bianca dari masa depan yang sudah ter julang tinggi ke langit.
Aku ingat betul, saat tante Vien memberikan sebuah penawaran untukku. Menjanjikan masa depan yang cerah dengan tamatan Universitas ternama tapi dengan satu syarat.
"Jangan membuat Bianca menjadi seperti mu. Menjauhlah, masa depannya sudah tertata dengan rapi. Kamu hanya akan menghalangi jalannya."
Meski mati-matian aku menolak. Kendati hatiku tak mampu melihat ini terjadi. Seolah mengangkat beban tinggi. Aku menunduk untuk menepikan ke egoisanku. Biar ini berakhir, sampai aku mampu merenggut kembali harga diri yang hampir mati.
Bianca memeluk ku dengan erat. Menepuk luka yang tersekat di dada. Ia terus memukul dadanya menangis hingga tak bersuara, bahkan napasnya terhenti untuk menahan sakitnya di dada.
Aku?
Menangis dalam diam. Melukai hati lebih dalam. Menghujam dadaku dengan belatih, menusuk hingga kerongga ter dalam. Tak ada yang mampu untuk tidak menangis dalam perpisahan. Jika Bianca menangis dengan melepas beban di dada. Aku memilih menangis tanpa suara.
" Jangan menangis, " Suaraku berat, lidahku keluh mengucapkan kata-kata.
Tidak ada ucapan yang keluar dari bibirnya. Hanya mata indah itu yang memancarkan kesedihan ter dalam. Meski bibirnya tak bisa berkata, tapi semua ter gambar jelas di matanya. Lebih sakit dari pada belati. Mata adalah wadah untuk penyampaian dari hati ke hati.
Bianca memeluk ku, mencium pipi ku sekilas. Membingkai wajah ku dengan matanya. "Jaga dirimu, jangan lupa untuk makan." Air matanya mengalir dengan pelan. Senyuman bak bulan sabit dalam kegelapan tanpa bintang.
"ehmm" Untuk sekadar bersuara saja aku sudah tak mampu. Aku takut, air mata lemah ini mengalir di hadapan nya. Senyumnya berubah menjadi getaran, air matanya terus mengalir. Aku tak sanggup menahan ini lagi. Dadaku nyeri, bibir dalamku berdarah karena menahan untuk tak bersuara.
Kecupan manis bibir Bianca mengalir mengikuti aliran darahku. Untuk pertama kali dalam hidupku. Kurasakan Bianca menangis dalam kecupan nya. Bibirnya bergetar menahan keperihan. Jantung yang ter pompa mengalirin getaran hebat pada aliran darah. Seolah tak ingin lepas, Bianca terus menghantar kehangatan dalam sebuah ucapan perpisahan. Ciuman manis berubah rasa, dalam sela ciuman nya, tanpa peduli siapa yang berada diantara kami. Aku terbuai oleh keinginan, menarik tengkuknya untuk memperdalam. Menghapus air matanya yang terus mengalir tanpa henti.
Dan untuk yang terakhir kali. Biarkan Hatiku berperan. "Sampai aku mampu, biarkan waktu menunggu ku, Bi."
11.12. Jam yang menjulang tinggi ke langit menjadi saksi pertemuan hingga perpisahan kami. Di waktu yang sama untuk perpisahan. Kemarin ia kuanggap Langit. Yang dapat kulihat kapan saja, terasa dekat meski pun Jarak membentang Luas. Sekarang ia hanya tinggal kenangan. Menjadikan ku sebuah wadah tanpa mantra. Memberi kekuatan tanpa makna. Seperti memori yang datang kapan saja lalu pergi meninggalkan luka membekas. Bianca adalah puisi indah yang tak terbatas. Bianca adalah prosa bermakna yang menghujam langit hingga keluar angkasa Menikmati nya dalam setiap bait ke bait. Merasakannya dalam irama yang menghujam dada. Aku tidak akan menukarkan waktu yang berlalu bersamamu dengan Harga diriku lagi.
Aku tidak akan berbicara soal memutar waktu, Bi. Apa lagi untuk Menyesal dan kembali. Karena untuk waktu yang telah terjadi, aku mesyukuri ini. Melangkah menyelusuri jalan tanpa dirimu adalah ketakutan ku mulai kini. Meski aku mampu hidup sendiri. Tapi aku tidak punya mimpi lagi untuk kujunjung tinggi dan meski selama ini aku mati-matian menutupi perasaan ini untuk tidak kehilangan mu. Aku justru malah kehilangan mu.
Untuk pertanyaanmu, Bi. Kita ini apa? Sampai saat ini, aku pun tidak punya jawaban untuk itu. Biar waktu dan rasa menjadi satu pengharapan ku soal kita. Karena rasa cinta ini masih tersekat di hatiku
***
Oneshoot selesai sampai disini
***
NANTIKAN NEW CHAPTER-NYA.
KAMU SEDANG MEMBACA
COMPLICATED [END]
Romance*LESBIAN STORY * Bianca Laras Pramono seorang wanita cantik dari kalangan atas yang menjadi teman setiaku selama menuntut ilmu di Negara orang. Wanita cantik yang kehadiranya di sampingku membuat banyak orang iri. Mungkin lebih tepatnya semua orang...
![COMPLICATED [END]](https://img.wattpad.com/cover/341927634-64-k997952.jpg)