CHAPTER 17

778 54 4
                                        

AUTHOR POV


Bianca berjalan tergesa-gesa ke arah sebuah caffe di Ibu kota. Dia tersenyum kepada seorang wanita yang sedang menunggunya, meski lelah karena bekerja tapi dia menyempatkan diri untuk pertemuan yang menurutnya penting.

"Maaf aku terlambat." Katanya tersenyum letih, meletakkan tas tangannya ke sisi bangku yang kosong dan memanggil pelayan untuk memesan.

"Aku tahu kau sibuk." Ucap wanita yang bersama Bianca.

"Terima kasih. Ada beberapa hal yang harus aku tanya. Mungkin kau akan bosan, tapi aku harus tahu tentangnya lagi." Bianca menyandarkan bahunya ke bangku untuk mengatur napas setelah pelayan telah selesai mencatat pesanan nya. "Aku membuat kesalahan."

"Apa dia masih terlihat cemas?"

"Ya, tiba-tiba moodnya berubah. Aku mencoba untuk tidak menyinggung apa pun tentang kesalahanku, seingat ku—" Bianca berhenti berbicara, matanya menyipit mencoba mengingat kejadian kemarin. "Tidak" Katanya menggelengkan kepala berulang kali." Aku tidak mengatakan apa-apa. Semua tampak baik-baik saja, tiba-tiba dia keluar ruangan dan terlihat sangat cemas."

Wanita yang duduk bersama dengan Bianca memahami ucapannya, menunggu sampai Bianca tenang dengan napas yang teratur. "Seperti yang sudah aku jelaskan sebelumnya. Kau tahu dia punya penyakit kecemasan sejak remaja, sangat sulit untuk menyembuhkannya jika dia berada disituasi yang terus membuatnya kecewa. Tapi perkembangannya Zesyu sudah cukup maju, dia mulai bisa menahan diri jadi aku pikir kau harus lebih bersabar jika ingin mendekatinya."

"Elsa, aku tidak tahu apa pun tentang dia. Tentang masa lalunya atau pun tentang keluarganya. Sangat sulit untukku bisa memahami situasi ku sendiri, bahkan aku harus bertengkar dengan egois ku."

"Situasimu juga sulit, Bi. Jangan salahkan dirimu, lukamu bahkan belum sembuh." Elsa menarik lengan Bianca, mengelus pergelangan tangannya dengan lembut. "Kau yakin tidak ingin menutupinya dengan tatto? Aku bisa memperkenalkanmu dengan ahlinya jika kau mau?"

"Terima kasih sudah peduli, aku akan memikirkan nya." Ucap Bianca menarik lengannya. Dengan senyuman yang sedikit terpaksa dan getir, Elsa membalas senyuman itu dengan rasa keperduliannya sebagai seorang teman, bukan hanya untuk Bianca tapi untuk Zesyu juga.

"Aku sudah memberikan dosis yang kecil untuknya. Kau yakin tidak ada hal yang terjadi pada kalian malam itu?"

Wanita yang berada dalam situasi bersalah itu menundukkan matanya dengan senyuman yang tersimpul, "Hanya sebuah sapaan yang terlambat." Ucapnya setelah menarik gelas yang baru saja pelayan letak di atas meja. "Aku membutuhkanmu,"

"Aku akan bersama kalian, meski pun aku tahu resikonya jika dia tahu soal kita."

"Maaf, aku menarikmu dalam situasi ku."

"Sebagai dokter mu dan dokter nya, ini sudah menjadi tanggung jawabku. Dan sebagai teman kalian aku pasti akan selalu mendukung." Elsa kembali mengelus punggung tangan Bianca yang gemetar.

Banyak rahasia yang masih mereka sembunyikan, begitu pun dengan Elsa yang masih menutupi banyak luka temannya. Meski pun sulit untuk Bianca berada disituasi yang hampir membuatnya menyerah, tapi berkat Elsa dia harus yakin bahwa suatu saat dia bisa membantu Zesyu.

"Bagaimana dengan Tante Vien?"

"Aku memutus hubungan dengannya setelah membeli saham perusahaan itu." Bianca kembali bersandar pada punggung bangku, sedikit tersenyum ia menatap Elsa. "Aku tahu dia akan sangat marah, tapi aku sangat tidak percaya dengan apa yang ibuku lakukan. Itu sangat keterlaluan, meski pun aku tidak tahu masa lalu apa yang pernah terjadi pada mereka, aku—"

COMPLICATED  [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang