Hari rabu sore tiga remaja yang terdiri dari Zoe, Wiora, dan Heksa melancarkan misinya dengan mendatangi warung kopi yang sering dikunjungi oleh sopir truk yang telah menabrak Angkasa. Waktu mereka datang, entah kebetulan atau apa warung tersebut sedang tutup tetapi tidak ada satu pun dari mereka yang mengurungkan niatnya untuk membatalkan misi.
Zoe turun dari kendaraan besi beroda dua yang tadi dikendarainya lalu berjalan ke arah pintu disusul oleh Wiora dan Heksa. "Gue yakin ada orang di dalem," ucap Zoe.
"Pintunya digembok dari luar dan lo percaya kalau ada orang di dalem?"
Heksa setuju dengan Wiora, melihat adanya gembok besi yang terpasang di tepi pintu membuatnya bingung kenapa Zoe malah memberitahu kalau warung itu sedang berpenghuni.
Zoe mengamati tembok warung yang terbuat dari bambu yang dianyam lalu mendapati sebuah lubang kecil di bawah pintu yang menembus ke ruangan bagian dalam warung. Lubang itu tertutup oleh sepuntung rokok dengan ujung bakar yang menyembul keluar.
"Look at this, seseorang baru aja buang rokok di sini dan puntungnya masih nyala."
"Mereka berusaha menghindari kita?" Tanya Heksa.
"Mari tanya langsung aja." Wiora meraih bagian sambungan gembok besi, ia menyalurkan panas dari tangannya menyebabkan gembok kecil itu meleleh perlahan dan putus. Selanjutnya gembok ditarik hingga jatuh tak berdaya di lantai.
"Good job," puji Zoe. Wiora mendengkus mendengarnya, dirinya sama sekali tidak memerlukan pujian hanya dengan hal-hal remeh seperti ini.
Wiora masuk ke dalam warung disusul Zoe dan Heksa di belakangnya. Mereka bertiga terdiam kaku mendapati seorang pria setengah sadar yang terbaring lemah di atas sebuah kursi panjang. "Shit, kita kayaknya dijebak," umpat Heksa.
Wiora mengambil senjata api yang tadi ia selipkan pada saku baju bagian dalam dan langsung menodongkannya pada pelipis pria tak berdaya itu. "Siapa dibalik semua ini?" Hening, pria yang mereka tidak ketahui namanya itu enggan untuk membuka suara, setidaknya hanya rengekan kesakitan yang terdengar. Kesabaran Wiora tidaklah bertahan lama. Gadis itu sudah menarik pelatuk pistolnya, tinggal satu dorongan dan selesai.
"JANGAN GILA!" Tetapi Zoe tidak akan membiarkan itu terjadi karena dia satu-satunya informan yang mereka punya.
Zoe membuka handphone menampilkan menu telefon. "Kita bakal panggil ambulance kalo lo mau jawab."
"Uhuk...Kalian tidak akan bisa melawannya." Darah, pria itu muntah darah. Sudah bisa dipastikan ada racun yang sudah mulai menyebar ke tubuhnya.
"Jadi mau mati aja?"
"P-Patra." Satu nama disebutkan dari mulut yang penuh darah itu, berhasil membuat salah satu dari mereka menampakkan raut terkejutnya walaupun hanya beberapa detik saja.
"Dia juga yang bayar buat bunuh korban?" Tanya Heksa tak sabaran mengabaikan kondisi lawan bicara yang dirasa tak mampu mengucapkan kata-kata lagi. Laki-laki malang itu hanya bisa mengangguk untuk menjawab pertanyaan.
Disamping itu Zoe menelfon ambulance untuk segera datang, seperti janjinya yang dia ucapkan tadi.
Wiora merunduk untuk menyamakan tingginya dengan posisi pria yang berbaring. "Apa jaminan kalo lo ternyata bohongin kita?"
Telunjuk bergerak mengarahkan ujungnya ke sebuah lemari kayu yang ada di ruangan itu. Tidak terlalu besar, hanya memiliki satu pintu saja. Wiora memberi isyarat ke Zoe untuk membukanya disahuti anggukan oleh gadis bermarga Socarta itu.
Zoe memegang knopnya dan ditariknya sedikit tetapi langsung berhenti ketika pintu itu ikut tertarik. Aneh, dalam hatinya menanyakan jika begitu penting mengapa lemari ini tidak dikunci? Mengabaikkan rasa penasarannya, langsung saja dia tarik pintu lemari hingga terbuka. Di dalamnya terdapat sebuah tas hitam cukup besar. Ditariknya resleting tas sepenuhnya, raut wajahnya datar seperti sudah menduga dari awal apa yang ditemukan ketika membuka tas tersebut.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ornamen
RandomOrnamen adalah organisasi yang menampung banyak manusia berkekuatan magic di dalamnya. Kelompok ini sudah ada sejak nenek moyang mereka, dan pada setiap generasi pasti memiliki kisahnya sendiri. Pada generasi baru ini mereka mungkin masih remaja, ta...
