Di sinilah Heksa sekarang, berada di depan ruang bimbingan olimpiade. Perasaannya gusar karena beberapa hal. Salah satunya ada perkataan Zio kemarin.
Dia tidak menyangkal bahwa keinginan terbesarnya pada saat bertengkar dengan Angkasa adalah menghentikan anak itu berbuat kotor. Memang benar jika dia akan merasa sangat dirugikan jika sampai kecurangan tersebut ketahuan, tetapi bukan berarti ia ingin menyelakai Angkasa.
"Asik ngelamun, Sa?"
Suara Marka menyadarkannya dari lamunan. Dirinya menoleh ke samping dan menemukan si ketua OSIS sedang berdiri dengan beberapa lembar kertas di tangannya.
Heksa memilih mengabaikan dan hendak melangkah pergi, tetapi lagi-lagi suara Marka menghentikan aktivitasnya.
"Gue mungkin gak berhak ngomong ini, tapi sikap lo semalam itu terlalu berlebihan."
Heksa menghadapkan dirinya di depan Marka. Menatap tidak setuju pada laki-laki yang usianya setahun lebih tua darinya itu.
"Bukannya semua udah jelas? Rayndra Socarta yang udah ngelakuin semuanya."
"Bisa iya dan bisa engga. Lo pikir kenapa Zero langsung menghentikan penyelidikan ketika semua bukti mengarah pada Rayndra?"
"Tentu dia ga pingin anak buahnya jadi tersangka," jawab Heksa yakin.
Marka mendekat lagi ke Heksa, mempersempit jarak agar tidak ada yang mendengar pembicaraan mereka.
"Kalau Zero emang sedeket itu sama Rayndra Socarta, seharusnya dia udah tau dari awal tentang rencana pembunuhan Angkasa."
Heksa terdiam memikirkan apa yang baru saja Marka katakan.
"Lo seharusnya fokus ke Prata. Kenapa seorang ayah tega merencanakan pembunuhan anak angkatnya sendiri."
Marka berjalan mundur memberikan ruang untuk keduanya. "Dan untuk masalah lo sama Angkasa yang Zio omongin kemarin, gue gak tau pasti tapi jangan pernah remehin Socarta dalam menilai orang karena mereka ahlinya."
"Inget kata-kata gue kali ini. Pikirin pake akal, bukan amarah," ucap Marka sebelum pergi meninggalkan Heksa dengan pikirannya yang mulai tenang.
Marka berharap ucapannya benar-benar dapat meredam api kemarahan Heksa. Sebagai ketua agent, dia tidak ingin perpecahan terjadi pada kelompoknya. Dirinya lebih memilih untuk berpikir logis dan tenang.
Di saat yang sama, Heksa bertekad untuk menemukan Leon Pradipta dan mencari tahu sendiri apa yang telah terjadi. Dia tidak peduli dengan Zero yang sudah memerintahkan untuk berhenti melakukan penyelidikan.
********
Matahari tampak mulai tenggelam ketika Zoe keluar dari tempat bimbel nya dan ini adalah waktu yang paling tidak disukainya karena gadis itu akan lebih sensitif di waktu menjelang petang begini.
Tapi bukan hal tersebut yang mengganggunya kali ini. Seorang laki - laki yang ia kenal berdiri di sebelah mobil hitam kebanggaannya. Cowok itu tampak menunggu seseorang.
Zoe memelankan langkah ketika berpas - pasan dengannya, matanya melirik keberadaan cowok itu yang juga sedang menatap ke arahnya.
"Shan gak bimbel hari ini," ucap Zoe pada cowok yang ia ketahui pernah memiliki hubungan asmara dengan sahabatnya yang satu itu.
Sebenarnya cukup canggung berbicara dengan Heksa setelah kejadian kemarin. Apalagi karena pertengkarannya dengan Zio.
Tetapi karena langit sudah tampak gelap agak kasian jika melihat Heksa menunggu seseorang di sana tanpa tahu kalau orang yang sedang ia tunggu tidak ada.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ornamen
RandomOrnamen adalah organisasi yang menampung banyak manusia berkekuatan magic di dalamnya. Kelompok ini sudah ada sejak nenek moyang mereka, dan pada setiap generasi pasti memiliki kisahnya sendiri. Pada generasi baru ini mereka mungkin masih remaja, ta...
