X

105 14 0
                                        

Anggota termuda di grup Treasure itu berjalan perlahan tanpa melepaskan pandangannya pada Asahi yang berada beberapa meter di depannya.

Sekarang, posisi Junghwan sudah seperti penguntit. Rasa senang dicampur haru masih terasah di benak Junghwan karena akhirnya dia bisa melindungi anggota-anggota lain setelah 4 sesi berturut-turut diambil oleh Haruto.

Tapi, pikirannya masih sedikit terfokus ke Junkyu. Setelah diskusi tadi, dia jadi agak curiga sama Junkyu walaupun jauh di benak hatinya seakan menolak kecurigaannya itu.

"Gimana kalo bang Junkyu yang jadi korban, ya?" Junghwan bermonolog.

"Ahh gak mungkin, bang Junkyu kan impostornya. Fokus ke bang Asahi, Junghwan!" Dia menampar pipinya sendiri dengan pelan. Matanya kembali  beralih ke Asahi yang sekarang telah hilang. Seketika Junghwan panik.

Dia keluar dari tempat persembunyiannya dan segera mencari keberadaan Asahi. Tapi yang Junghwan dapatkan hanyalah rasa pusing. Bagaimana tidak pusing, dari tempat berdirinya sekarang terdapat beberapa lorong.

Secara random, akhirnya Junghwan memutuskan untuk berjalan ke lorong kanan karena kata bundanya, sesuatu yang kanan biasanya baik.

"Heh, bocah!" Dalam perjalanannya, Junghwan dikejutkan dengan suara misterius yang entah berasal dari mana.

Tapi dia tak acuh dan mencoba untuk berlari. Misinya sekarang Asahi harus ketemu. Asahi memang begitu, selain diam-diam menghanyutkan, ternyata dia juga suka diam-diam menghilang dari pandangan.

"Junghwanie, pintu kiri!" Suaranya sangat jelas di telinga Junghwan. Tak lama, dari arah kiri Junghwan memang ada satu ruangan. Entah apa yang merasukinya, Junghwan menurut untuk masuk ke sana.

Tadaaa!

Ruang kelas.

"Loh, kok ada kelas?" Tanya Junghwan yang entah pada siapa.

HAHAHAHA!

Level panik Junghwan : 7/10!

Suaranya masih agak jauhan, tapi lumayan terdengar. Dengan ketar-ketir, dia menghampiri meja guru dan berniat bersembunyi di bawahnya.

"Yamvun, baru ngerasa guna jadi guardian, malah mau mati aja, huhuhu."

Saat sudah sampai di meja dan bersiap untuk masuk ke dalam kolongnya, sebuah tulisan berwarna merah darah berhasil mengambil atensi dari anak muda bertubuh bongsor itu.

Meja pojok kanan dari posisimu sekarang.

Pandangan Junghwan beralih. Posisi dia sekarang seperti guru yang berhadapan dengan murid-muridnya.

HAHAHAHA!

Level panik Junghwan : 100/10

Tanpa babibu, dia berlari ke arah yang dimaksud dari tulisan tersebut. Tapi untuk sesaat dia bingung, soalnya meja ini terlihat seperti meja tiri. Soalnya ukurannya agak sedikit lebih kecil dari meja lainnya. Sepertinya tidak cukup untuk badannya. Tapi apa boleh buat, impostor lebih menakutkan daripada badannya yang dia jamin akan sakit-sakit setelah bersembunyi nanti.

Dia mencoba masuk ke kolong meja. Dan...

"HUAAAAAAA! ADDOOOH."

Junghwan terjatuh di tempat yang sangat familiar. Tentu saja familiar, dia terjatuh di tempat terakhir dia bersembunyi. Meja kanan pojok.

HAHAHAHA!

Pintu terbuka. Level panik Junghwan? Tak usah ditanya, levelnya sudah sama seperti harta Hyunsuk digabung Chenle.

Tapi... tunggu....

Pintu kembali tertutup. Impostor yang sempat masuk ke ruangan yang sama dengan Junghwan tempati sekarang, kembali keluar. Keningnya berkerut. Dia bingung. Padahal posisinya sekarang, dia sedang tidak bersembunyi bahkan sedang berdiri. Tidak mungkin badan setinggi dia tak kelihatan, kan?

"Hai Junghwan," sapa seseorang dari arah belakangnya. Sontak Junghwan menoleh.

Keadaan hening.





























































"Kak Mashi?" Tenggorokan Junghwan tercekat. Apa dia mimpi? Benarkah orang yang di depannya ini orang yang selalu mereka cari-cari keberadaannya? Jawaban dari author = benar.

Itu Mashiho. Takata Mashiho. Personil kesayangan Treasure. Salah satu all-rounder yang dimiliki oleh Treasure. Suara indah, dance bagus, rap bisa, visual pun jangan ditanya. Langganan menfess sekolah mereka. Setiap minggunya, pasti ada saja seseorang yang mention Mashiho di akun menfess. Singkatnya ala ala the most wanted lah.

"Kakak kemana aja?" Junghwan berniat memeluk Mashiho. Tetapi Mashiho justru menghindar yang dihadiahi tatapan bingung dari Junghwan.

"Belum waktunya, Junghwan," balas Mashiho dengan tersenyum manis. Aduh, Junghwan jadi baper, tapi keinget kata-kata Haruto.

"Belum kenapa, Kak?" Tanya Junghwan.

"Entah belum waktunya atau kalau bisa tak usah saja, tapi yang terbaik buat Junghwan," ujar Mashiho yang justru malah membuat Junghwan semakin bingung.

"Hah? Maksudnya, Kak?"

Mashiho hanya terkekeh kecil sembari menggeleng, "Gimana Treasure?"

"Baik-baik aja. Tapi semenjak kakak sama bang Yedam keluar, kita ngerasa ada yang kurang. Kita kangen banget sama kak Mashi dan bang Yedam. Kalian kemana? Katanya mau ikut audisi, tapi sekarang malah gak ada kabar. Nomor HP, WA, IG dan semua sosmed kalian tiba-tiba hilang. Kita pikir, kakak jadi trainee. Tapi masa gak ada kabar sama sekali. Kalau kakak sama bang Yedam debut kan, kita juga ikut seneng." Junghwan berbicara panjang lebar sekaligus mengeluarkan unek-uneknya selama ini mengenai kakak terkiyowonya itu dan satu lagi abangnya yang memegang title king of vocal. Setidaknya seanterio sekolahnya, Yedam adalah siswa dengan suara terbaik.

Dan apa yang dikatakan oleh Junghwan memang benar adanya. Mereka sudah bersama-sama sejak lama. Dan di tahun keenam persahabatan mereka berjalan, Mashiho dan Yedam akhirnya memutuskan untuk mengambil langkahnya sendiri. Mereka akan mengikuti audisi sebagai solo. Dengan berat hati mereka harus menerima keputusan dari Mashiho dan Yedam.

Tapi, semenjak hari itu, mereka putus kontak dengan Mashiho dan Yedam. Dan parahnya lagi, keluarga Mashiho dan Yedam ternyata juga putus kontak.

Agensi macam apa itu? Jika memang tidak boleh bermain sosmed, tidak mungkin sekadar telfonan berkirim kabar saja tidak boleh.

Kasus sempat dilaporkan ke kepolisian, tapi kalah suara ketika polisi mendapatkan sebuah kertas berisi syarat ketentuan yang sudah ditandatangani oleh korban dan orang tua.

Salah satunya : Tidak berhubungan selama masa trainee.

"Kak Mashi?" Panggilan dari Junghwan menyadarkan lamunan dari seseorang bertubuh imut seperti Hyunsuk.

"Mmm?"

"Kok gak dijawab pertanyaan Junghwan?"

Pandangan Mashiho mengarah ke dinding depan yang terdapat jam.

"Bentar lagi waktu diskusi, Wan. Lain kali kakak jawab ya," bujuk Mashiho kepada lawan bicara yang sudah ia anggap seperti adik sendiri. Maklum, dia anak tunggal.

Junghwan ikut membalikkan badan dan melihat jarum jam. Jujur, dia sendiri tidak tahu jam berapa sesi dimulai dan berakhir. Tapi, dia hanya menggangguk saja, menyetujui perkataan Mashiho.

Detik selanjutnya, punggungnya didorong keras. Sangat keras sampai dia terpental ke meja guru. Dahinya terkena salah satu sudut meja. Pandangan Junghwan untuk beberapa waktu mengabur.

"Aduuuhh, anjirr, sakit banget." Junghwan memegang dahinya. Kejap lagi benjol kayanya.

Dan, bell berbunyi.

Dengan langkah gontai, Junghwan melangkahkan kakinya menuju ruang diskusi sambil terus mengelus dahinya. Kepalanya pusing.

***

Huaaa, selesai juga.

Fyi : yang Junghwan panggil Kakak cuma Doyoung sama Mashiho aja. Alasan 1 : ya suka-suka Junghwan aja sih.
Alasan 2 : Doyoung sama Mashiho kiyowo, jadi menurut Junghwan cocok dipanggil kakak.

Impostor✅ [REVISI]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang