2. Naufalinisme | Awal Perkenalan

87 14 6
                                        

"Uciiii ayo dong bantuin gue deketin Naufal Ciii," rengek Kinan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Uciiii ayo dong bantuin gue deketin Naufal Ciii," rengek Kinan. Tangan bersihnya bergelayutan di tangan Suci dengan manja.

"Udah gue bilang Naufal tuh gak tertarik sama hal begituan, percuma deh lu deketin dia."

"Ish tapi kan gue belum usaha, kan kata orang-orang usaha tidak akan mengkhianati hasil. Belum juga dicoba elah."

"Iye tapi—"

"Ayolah Ci! Kan lu temenan deket sama Naufal, bisa kali bantuin gue ke tahap kenalan dulu gitu sama dia."

Suci menghela nafasnya berat. Sangat sulit menolak keinginan bocah barbar yang satu ini memang.

Dengan sikap keras kepala yang Kinan miliki, wanita itu tidak akan pernah berhenti sebelum ia mendapat apa yang ia inginkan. Terdengar menyebalkan, namun itulah Kinan.

"Oke"

"YESSS!"

"Tapi . . . "

"Tapi apa?"

"Gue gak mau denger lu galauin si Naufal sampe 24/7 kalo ujungnya bikin lu sakit. Ini jalan yang lu pilih sendiri ya! Untuk konsekuensinya jangan sekali-kali libatin gue lagi!" Kata Suci yang memberi peringatan terakhirnya.

Kinan lalu megacungkan jempolnya sambil tersenyum semangat, ia masih yakin jika pesonanya bisa meluluhkan Naufal. Karena sejauh ini, ia selau mendapatkan lelaki mana pun yang ia inginkan.

Dan jikalau Naufal masih tidak luluh dengan pesonanya, setidaknya Kinan masih ada jalan cadangan dengan mengandalkan effort nya pada pria itu nanti.

Pokoknya tujuannya saat ini adalah, berkenalan, berteman, mendapat perhatian Naufal, dan membuat Naufal menyukainya balik.

"Palll!"

Kinan membulatkan matanya sempurna, Sedetik kemudian, ia melirik ke arah pandangan di mana Suci tengah melirik seseorang. Dan benar saja, rupanya Pall yang Suci panggil adalah Naufal. Orang yang baru saja mereka berdua bicarakan.

"Iya Ci?"

Mendengar suara Naufal dari jarak yang dekat ini, entah mengapa seluruh tubuh Kinan menegang.

Sebelumnya, ia yang selalu membuat para lelaki menegang, tapi mengapa sekarang malah sebaliknya?

Bagai Malin Kundang yang sudah terkutuk menjadi batu, Kinan tidak bisa berkutik lagi. Ia benar-benar tidak menyangka jika Suci akan mengabulkan permintaannya secepat ini.

"Ini gue udah ngumpulin beberapa aspirasi sama pernyataan surat lamaran buat jadi anak rohis dari anak-anak. Diperiksa ye nanti!" Kata Suci

Tegangnya tubuh mungil Kinan membuat ia sendiri kesusahan untuk sekedar melirik Naufal yang sudah ada di sebelahnya

Jujur, Kinan memang meminta Suci untuk mengenalkannya dengan Naufal. Tapi tidak secepat dan semendadak ini!

Bahkan Kinan belum menyiapkan dirinya sama sekali.

"Oke! Aku terima ya. Makasih, Ci." Ucap Naufal yang terdengar begitu sopan dan lembut

"Oh iya Pal! Kenalin ini Kinan nih sahabat gue, Nan ini Naufal temen orok gue," kata Suci yang tiba-tiba langsung mengenalkan mereka berdua tanpa ribet.

Naufal lalu sedikit menyerongkan badannya ke samping untuk melihat orang yang dimaksud Suci. Meskipun Naufal terkenal alim, namun jika untuk berkenalan dengan seseorang ia tak akan pernah menolaknya.

Alim namun social butterfly. Inilah yang membuat namanya terkenal di kalangan sekolah.

"Oh, halo Kinan!"

Deg!

Kinan kini memberanikan dirinya melihat Naufal. Dengan sisa keberanian yang ia miliki, wanita itu lalu mengulurkan tangannya sebagai tanda salam perkenalan dengan berjabatan tangan

"Halo Naufal! Aku Kinan! Salken ya."

Alih-alih menerima jabatan tangannya Kinan, Naufal kini malah merapatkan kedua tangannya seperti sedang memberi salam ala orang India.

"Maaf Kinan aku punya wudhu.

Naufal menolak untuk menyentuh Kinan.

Dan Kinan yang mengerti pun kini langsung menarik uluran tangannya kembali sambil tersenyum canggung. Bisa-bisanya ia lupa akan perkataan Suci yang memberitahunya bahwa Naufal ini untouchable.

Aduh kacau deh perkenalan pertama gue jadinya. Kinan bodoh!

"Kalo gitu aku pergi dulu ya, anak-anak udah pada nungguin kayaknya," pamit Naufal

"Gih!"

"Hati-hati ya, Naufal!"

"Iya makasih, assalamualaikum."

"Waalaikumsalam." jawab Suci dan Kinan dengan kompak.

Setelah berpamitan, pria itu kemudian pergi menghilang ditelan keramaian para siswa dan siswi yang masih banyak berlalu lalang di waktu bebas ini.

"Anjir anjir anjir gemeteran nih gue!"

"Lebay lu! Baru kenalan aja dah gemeteran gimana kalo nanti ngegebet?"

"Masalahnya lu kagak ada aba-aba nya dulu anjier tiba-tiba manggil si Naufal, kan siapa tahu tadi muka gue lagi dekil, entar kacau first impression si Naufal sama gue," keluh Kinan panjang lebar

"Elah ribet lu mak lampir!"

"Ish lu mah gak pengertian banget deh ah! Eh tapi-tapi, aktif banget ya dia ngurusin eskulnya," ujar Kinan yang sedikit kecewa karena waktu ia mengobrol dengan Naufal hanya beberapa menit saja. Sesingkat itu.

Namun semoga saja kisahnya tidak akan sesingkat itu.

"Ya iyalah aktif orang dia ketuanya gimana sih lu?"

"Oalah, apa gue join jadi anak rohis aja kali ya biar tiap hari bisa liat Naufal? Kan siapa tau makin intens lagi ye gak?"

Sedetik setelah Kinan berucap seperti itu, ia merasakan kepalanya ditoyor begitu saja oleh Suci

"Lu mau jadi anak rohis gimana orang agama aja gak punya lu ah! Tolol!"

•••

Bersambung

NaufalinismeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang