"Kejarlah akhirat, maka dunia akan mengikutimu"
Apa jadinya jika seorang remaja alim ditaksir oleh perempuan cantik yang famous dan super nakal?
Berkisahkan tentang seorang pemuda bernama Naufal Ramadhan, yang masih dilanda gejolak semangat pada usi...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Sayang ... bangun yuk! Udah mau shubuh, kita solat berjamaah di masjid," ujar Naufal dengan lembut sembari mengusap wajah istrinya itu penuh kasih sayang.
Seketika, Kinan membuka matanya perlahan. Jujur ia masih tidak terbiasa dengan semua ini.
"Udah mau shubuh? Kamu kok gak bangunin aku dari awal?" keluh Kinan yang merasa sangat menyesal.
"Aku gak tega bangunin kamu yang keliatannya masih mimpi indah tadi. Pasti semalam cape banget ya?"
"Hush berisik!"
"Untung gak jadi sampai shubuh ya, sayang?"
"Ish! Udah ah, aku mau bersih-bersih dulu."
"Santai aja, masih ada waktu kalo kamu mau tahajud. Ini masih jam setengah empat."
Kinan lalu memangut-mangut tanpa berniat menjawab apa yang Naufal katakan itu padanya. Saat Kinan hendak berdiri dari duduknya itu, tiba-tiba saja sebuah kecupan singkat mendarat di pipinya.
Sontak Kinan yang tadi masih setengah melek itu kini mebelalakkan matanya terkejut.
"Morning kiss."
"Ish!" Kinan yang salah tingkah dibuatnya kini lantas langsung terbirit lari ke dalam kamar mandi yang juga ada di dalam kamar. Melihat tingkah laku istrinya itu lantas Naufal tersenyum.
Akhirnya, setelah penantian lamanya dan setelah perjuangan lamanya menahan apa yang selama ini ia rasakan pada Kinan bisa terbayar dengan perasaan lega.
Ada rasa khawatir yang masih mengganjal pada hati Naufal sebenarnya. Pikirannya selalu berputar dan terus mempertanyakan tentang rasa Kinan pada Naufal yang pria itu takuti karena keadaan, Kinan tak lagi memiliki perasaan yang sama tanpa pengurangan sama sekali padanya.
Namun di satu sisi, Naufal yakin jika Kinan masih mencintai dirinya sama seperti keadaan 5 tahun lebih ke belakang. Tepatnya 7 tahun yang lalu.
Singkat cerita, menjelang adzan shubuh, Naufal dan Kinan kini sudah bersiap keluar untuk segera menuju masjid dan salat secara berjamaah dengan para santriwati serta jema'at yang lainnya.
Saat mereka baru sampai di ruangan tengah, ternyata Umi dan Abi kini sudah berada di sana. Dengan senyuman yang sumringah, Kinan lantas menghampiri Umi seraya mencium tangan Umi seperti biasa.
"Bagaimana? Apa kekhawatiranmu sudah sirna ketika melihat Naufal yang sudah memperistrimu hm?"
"Bukan kah sudah Umi bilang, lelaki yang siap mempersitrimu itu bukan dari kalangan om-om ataupun pria hidung belang yang kamu kira. Kalaupun iya, Umi tentu tidak akan memberikanmu pada mereka," ujar Umi.
"Apa kamu tidak menaruh curiga dan berpikir jika aku yang akan meminangmu?" tanya Naufal.
"Bagaimana aku bisa berpikir seperti itu disaat kamu sudah menghilang tanpa kabar selama bertahun-tahun? Aku tidak ingin harapan kembali menghancurkanku."
"Maaf ...."
"Sudahlah ... itu sudah menjadi masalalu, Nak. Yang terpenting sekarang kalian harus bisa tetap hermonis untuk menjaga kesatuan rumah tangga kalian," ujar Abi menengahi.
"Baik, Abi," sahut Naufal.
"Tapi, Umi ... bagaimana Umi tahu jika aku--"
"Karena Umi tahu jika Naufal akan tetap menjadi nomor satu di hatimu. 7 tahun sudah hatimu terjaga untuknya, bagaimana bisa Umi mengabaikan niat baik Naufal yang tiba-tiba datang melamarmu?"
"Dan Umi juga Abi langsung setuju begitu saja?"
Mendengar itu Abi sontak menggelengkan kepalanya. "Tentu saja tidak. Umi dan Abi melakukan tes dan menguji Naufal secara berkala. Enak saja dia tiba-tiba datang untuk melamarmu setelah bertahun-tahun ini kamu tersiksa olehnya, bukan?" kata Abi bercanda.
"Benarkah? Apa itu, Abi?"
"Untuk bisa menjadi suamimu, jelas Abi menguji hafalan Qur'an beserta tajwid sebagai syarat awal. Dan Naufal ternyata lolos di tahap itu, selanjutnya Abi menguji hafalan dan pemahaman akan kitab kuning sebagai syarat awal, dan Naufal masih lolos di tahap itu."
"Lalu?"
"Lalu Abi lanjut bertanya akan modal apa yang sudah Naufal miliki untuk menikahimu. Baik Abi maupun Umi tentu tidak ingin melihat anaknya hanya tumbuh makan cinta. Hidup itu realistis, dan jawaban dari Naufal cukup membuat kita yakin."
"Selain itu, Naufal adalah satu-satunya orang yang lolos dari sesi wawancara bersama Abi dari sekian banyak pelamar yang sudah melamarmu," ujar Umi menambahkan.
"Apa sesulit itu?"
"Bagi Abi sebenarnya tidak sulit jika lelaki yang melamarmu memiliki ilmu yang tinggi, pengetahuan yang luas, keyakinan diri, dan materi yang memadai."
"Terdengar mudah diucapkan, namun sebenarnya aku juga sempat putus asa menjalaninya," kata Naufal.
"Lalu? Apa yang membuatmu kembali yakin?"
"Kamu, Kinanti Ayudisa Rinjani. Hanya kamu. Aku sadar, jika aku menyerah perjuanganku selama ini untuk memantaskan diriku bersanding denganmu akan sia-sia."
Umi dan Abi lantas bertukar tatap sembari tersenyum bahagia melihat kedua pasangan baru ini dihadapannya.
"Sekarang, Kinan sudah menjadi tanggung jawabmu, Nak. Jaga dia ya? Apapun nanti yang akan menimpa rumah tangga kalian, hadapilah dengan bersama. Apalah gunanya berumah tangga jika tidak ada kerja sama di dalamnya," ujar Abi pada Naufal seraya berjalan beriringan menuju masjid di dekat rumah.
Naufal lantas mengangguk seraya tersenyum penuh keyakinan pada Abi. Ia akan membuktikan pada Abi tekad dan keseriusannya terhadap Kinan bukanlah hanya janjinya semata.
Kisah tentang Nabi Yusuf dan Zulaikha yang pernah Umi ceritakan sebelumnya untuk membangkitkan kerapuhan Kinan ternyata membuktikan kebenarannya.
Kisah mereka yang indah namun penuh rintangan itu kini terulang pada kisah antara Kinan dan Naufal.
Dalam keyakinan yang penuh dan pemikiran yang dewasa, keduanya sama-sama menjauhkan diri mereka untuk memperbaiki diri dan memperbarui diri untuk sama-sama menyetarakan derajat mereka.