"Kejarlah akhirat, maka dunia akan mengikutimu"
Apa jadinya jika seorang remaja alim ditaksir oleh perempuan cantik yang famous dan super nakal?
Berkisahkan tentang seorang pemuda bernama Naufal Ramadhan, yang masih dilanda gejolak semangat pada usi...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Asyhadualla ilaha illallah."
"Asyhadualla ilaha illallah."
"Wa asyhadu anna muhammadar rasulullah."
"Wa asyhadu anna muhammadar rasulullah."
"Alhamdulillah, masyaallah! Kamu sudah resmi menjadi seorang muslimin, Nak."
Menyaksikan semua itu, Suci selaku sahabat baik Kinan lantas menjerit seraya memeluk Kinan dengan erat.
"KYAAAA AKHIRNYA KINAN SEKARANG PUNYA AGAMA YAAWLOH," ujar Suci sambil mengguncang-guncangkan tubuh Kinan.
"Aduh, Uci! Sakit!" keluh Kinan.
Mendengar itu, Suci lantas melepaskan pelukannya. Wanita itu tersenyum pada Kinan, Umi dan juga Abi yang berada tak jauh dari sekitaran mereka.
Sekilas tentang Umi dan Abi, mereka adalah sepasang suami istri pemilik pesantren yang hendak Kinan singgahi. Atas bantuan Suci, Kinan akhirnya dikenalkan pada mereka untuk menjadi salah satu murid yang bisa mereka tuntun ke jalan yang benar.
Tidak ada cara yang jauh lebih baik lagi selain mengirim Kinan ke pesantren rekomendasi Suci. Yeah, begitu pikir Suci.
Tak banyak barang yang Kinan bawa di dalam kopernya. Karena Kinan sendiri tahu, baju-baju yang ia miliki tidak mungkin bisa ia pakai di area pesantren.
Orang waras mana yang memakai hotpents dan tanktop di pesantren? Tidak ada bukan? Maka dari itu, 5-10 baju panjang dan gamis telah Kinan persiapkan sebelumnya.
"Kinan mau belajar semuanya dari awal, Umi. Tolong bimbingannya."
"Kalau begitu, apa Kinan keberatan jika Umi mengajukan beberapa pertanyaan pada Kinan?" tanya Umi. Rupanya Umi masih mempunyai beberapa pertanyaan yang harus mendapatkan jawaban pasti dari sang calon mualaf ini.
"Dengan senang hati, Umi."
"Boleh Umi tahu? Apa yang mendorong Kinan ingin masuk Islam sebenarnya?"
Kinan terdiam sambil merendahkan pandangannya. Ia merasa bersalah pada Umi jika harus memberitahu salah satu alasan yang ia punya tentang mengapa ia mau masuk Islam.
"Kenapa menunduk, Nak?"
"Anu Umi ... sebenernya Kinan ...."
"Nak Kinan, dalam Islam sangat tidak dianjurkan untuk berkata dusta. Berbohong itu haram, dosa hukumnya jika seorang muslim berkata dusta. Bahkan tidak hanya umat muslim saja sebenarnya, agama yang lain juga seperti itu. Maka dari itu biasakanah mulai sekarang untuk berkata dengan jujur ya, Nak?" ujar Umi panjang lebar.
Mendengar itu, Kinan kembali mengadahkan kepalanya untuk kembali menatap manik mata Umi dengan mantap.
"Naufal ...."
"Hmm? Naufal?"
Merasa Kinan butuh perwakilan untuk menjelaskan situasi ini, Suci lantas maju dan berniat menjelaskan semuanya pada Umi.
"Jadi ceritanya gini, Umi. Kinan ini suka sama Naufal. Naufal ini kan Umi tahu sendiri ya dia idaman banget dan Kinan ini udah kepincut banget tuh. Nah Kinan ini mau masuk Islam, biar dia bisa nyetarain derajatnya gitu ibaratnya sama Naufal Umi." jelas Suci panjang lebar.
"Jadi tujuan kamu masuk Islam hanya karena Naufal kah Kinan?"
Mendengar itu, Kinan menggeleng mantap. " Enggak, Umi. Tapi awalnya memang iya, namun seiring berjalannya waktu Naufal bukan satu-satunya alasan Kinan mau masuk Islam Umi!"
"Benarkah itu?"
"Iya, Umi."
"Lalu? Apa alasan lain yang Kinan miliki selain karena Naufal, Nak?"
"Kinan mau punya Tuhan juga kaya orang lain, Kinan mau ada yang Kinan percayai. Sejauh ini Kinan liat orang-orang selalu ngadu keluh kesah mereka sama Tuhan mereka, Kinan juga mau punya Tuhan kaya mereka Umi. Dan Kinan rasa, Islam paling indah di antara agama yang lain. Kinan mau mendalami Islam Umi."
"Masyaallah. Kamu gak terlambat kok, Nak. Gak ada kata terlambat untuk itu. Umi senang dengernya kalo memang begitu, semoga Kinan bisa tetap istiqomah ya? Terkadang selalu ada ujian berat yang menggoda iman kita, setelah Kinan masuk Islam jangan sampai murtad atau lepas dari ajaran Islam ya, Nak?"
"Bissmilah ya Umi. Mohon bimbimngannya."
"Tentu saja, Kinan! Umi, Abi, dan anak-anak juga semua guru-guru disini pasti bantu kamu. Tapi, Kinan ...."
"Iya, Umi?"
"Kamu siap? Untuk ninggalin kehidupan malam kamu? Kamu siap berubah drastis dari anak yang dikenal nakal jadi anak yang alim dan berakal? Melepaskan sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan dan kesenangan kamu di dunia itu tidak mudah, Umi tahu rasanya. Mungkin pada awalnya semua itu akan terasa sulit, kamu akan kembali tergoda karena rasa rindu pada kehidupan dulu kamu. Siapkah kamu untuk menghadapi itu semua, Kinan?"
"Umi Harap, kamu gak akan pernah nyesel karena telah mengambil keputusan ini ya?"
"Bismillah."
"Lalu gimana sama orang tua kamu, Kinan? Apa kamu berdebat hebat dulu sama mereka atas keputusan yang kamu ambil, Nak?" Tanya Abi akhirnya pada Kinan.
Kinan lalu tersenyum seraya menggeleng pelan.
"Mereka gak masalah sama keputusan Kinan kok Abi! Mereka juga udah izinin Kinan untuk pindah ke pesantren dengan senang hati. Tanpa perdebatan, larangan, dan cekcok-cekcokkan! Aman deh pokoknya!"
"Alhamdulilah kalau begitu, Nak. Abi sama Umi sungguh bahagia liat semangatnya kamu. Nanti Abi sama Umi akan jelasin beberapa aturan dan jadwal-jadwal tertentu untuk belajar ilmu agama Islam ya? Sekarang Suci bakal nganterin kamu ke kamar sambil bantu beresin barang-barang kamu. Suci? Abi minta bantuannya ya?"
"Kalau gitu, Abi sama Umi tinggal dulu ya! Assalamualaikum!"
"Waalaikumsalam!"
Kinan dan Suci kini tersenyum menatap kepergian Umi yang meninggalkan mereka berdua di ruangan tengah pesantren yang luas ini. Keadaan seketika hening, Suci terlalu larut dalam tatapan kebanggannya yang ia tunjukkan saat melihat Kinan yang sekarang.
"Gue bangga sama lu, cuy!"
"Jangan dulu, Ci! Gue masih belum bisa baca al-qur'an, entar kalo ada kemajuan sampe bisa baca al-qur'an boleh deh lu bangga sama gue, hehe."
Sedetik kemudian, Suci berhambur untuk memeluk Kinan lagi. Kali ini pelukannya lumayan tidak sebrutal sebelumnya.
"Janji lu bakal tetep jadi muslim walaupun dah berstatus gak ngejar Naufal ya?"
"Gue usahain, Ci walau pastinya berat sih."
"Kalo lu gak dapet Naufal, yakin deh lu pasti dapet yang lebih baik dari Naufal!"
"Tapi kalo sekarang, gue tetep maunya Naufal sih, Ci. Doain ya semoga gue bisa narik perhatian Naufal. Gue mau setidaknya Naufal juga bangga sama gue."
"Iya gue doain, gue selalu do'ain yang terbaik buat sahabat gue."
"Aaa sayang Uci banyak-banyakk! Makasih banyak ya, Uci!"