Bab 11.

676 68 9
                                        

Diatas sana langit terlihat semakin hitam pekat, begitupun dengan dibawahnya hembusan angin semakin kencang bertiup dari barat ke timur menbawa hawa dingin yang sudah dingin semakin dingin.

Badai yang memang sudah di perkiraan akan melanda kota Tokyo dan wilayah sekitarnya akhirnya datang menyapa. Suasana hari yang sempat sedikit cerah itu kembali suram seperti hari-hari lainnya sebelumnya selama seminggu ini.

Apalagi katanya kali ini badai yang datang cukup besar, dan hal itu membuat pemerintah kota mengeluarkan peringatan badai pada penduduk kota. Meminta kepada orang-orang untuk segera mencari tempat aman untuk berlindung dari terjangan badai yang akan melanda entah beberapa lama lagi.

Orang-orang di taman hiburan yang menyadari perubahan cuaca hari itu dan peringatan badai dari spiker taman satu demi satu mulai memutuskan untuk kembali pulang kerumah mereka, mengakhiri hari minggu mereka dengan amat terpaksa karena badai yang datang.

Orang-orang dengan dibantu beberapa staff taman mulai meninggalkan area taman hiburan, begitupun dengan beberapa wahana permainan yang mulai berhanti beroperasi.

"Kami pihak taman hiburan meminta maaf sebesar-besarnya karena harus segera menutup taman sesuai dengan peringatan badai dari pihak pemerintah kota."

Suara manager taman yang bertanggung jawab yang berada di ruang koordinasi taman terdengar mengema di sepenjuru area taman dari pengeras suara yang terpasang di beberapa titik, dirinya merasa sedikit bersalah telah menutup taman dengan paksa apalagi saat terlihat raut wajah kecewa dari beberapa anak yang terlihat dari layar monitor kamera pengawas taman.

"Sekali lagi, kami pihak taman hiburan meminta maaf sebesar-besarnya karena harus segera menutup taman sesuai dengan peringatan badai dari pihak pemerintah kota."

Suara yang sama kembali terulang untuk kedua kalinya.

Satoru yang belum bisa menemukan keberadaan putra kecilnya semakin dibuat khawatir dengan perasaan panik yang perlahan menyelimuti hatinya, ia sudah mencari-cari dimana pun tetapi tak kunjung menemukannya apalagi kini taman akan segera di tutup.

"YUUJI! SAYANG KAU DIMANA?!."

Satoru sudah lelah mencari, suaranya pun sudah serak karena terus berteriak memanggil nama putra manisnya berulang kali. Ia sudah kebingungan mencari-cari dimana dan kini kedua kakinya sudah tidak sanggup lagi berjalan menopang beban tubuhnya pun pada akhirnya terjatuh ke tanah berlapis berbatuan yang tersusun rapih di jalan taman.

Satoru jatuh dengan posisi duduk memang sakit tapi ia tidak peduli, baginya keberadaan Yuuji kecil lebih penting. Jadi dirinya pun memaksakan untuk bangkit berdiri dan kembali mencari.

Tetapi sepertinya kedua kaki Satoru tidak sanggup lagi bukan hanya sekedar berjalan saja tapi juga untuk berdiri saja kedua tungkai jenjang itu tidak bisa, jadi Satoru pun jatuh terduduk kembali.
Otaknya memaksakan untuk bangun tetapi kedua kakinya tidak bisa menanggapinya, otot kaki dibawah sana sudah lemas dan terasq sakit karena lelah berlari sejak tadi tanpa istirahat.

Satoru ingin kembali bangkit berdiri mencari putranya, tetapi tidak bisa kedua kakinya sudah tak sanggup lagi berlari jadi kini Satoru menangis sambil memukul mukul kedua kakinya yang lemas.

"Kenapa?! Ayo! Berdiri! BERDIRI LAH!!? kumohon"

Satoru terus memukul kedua kakinya semakin keras dengan perasaan didalam hatinya mulai bercampur aduk. Ia tidak tahu lagi harus melakukan apa, semuanya mulai terasa membingungkan baginya.

Jadi Satoru hanya bisa menangis sambil memukul mukul kedua kakinya dengan suara yang meneriaki nama Yuuji.

"YUUJI"

Pale Blue Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang